Checklist Kesiapan Operasional dan Finansial dalam F&B dan Retail ala Ray Janson and Hetty Awi Bagi pelaku usaha F&B dan retail fashion, jargon “viral” dan “FOMO” sering dianggap jalan pintas menuju sukses. Padahal, di balik antrean panjang dan estetika Instagram, ada pekerjaan rumah operasional dan finansial yang jauh lebih berat dari kelihatannya. Hal itulah yang dikupas tuntas dalam episode terbaru Your Growth Podcast bersama dua praktisi yang sudah membuktikan diri di lapangan: Ray Janson, pemilik Bura-Bura Cocktail Bar dan Seba Japanese Restaurant & Sake Bar, sekaligus pendiri agensi marketing khusus F&B, The Narrative; serta Hetty Awi, pemilik brand fashion 3Mongkis yang belum lama ini meluncurkan lini baru, Grand Tour by 3Mongkis. Dalam obrolan santai namun sarat insight tersebut, keduanya membongkar pain points yang jarang dibicarakan, kesalahan yang hampir selalu terjadi di fase awal, hingga bagaimana disiplin operasional dan finansial menjadi pembeda antara bisnis yang bertahan 20 tahun dengan bisnis yang tenggelam begitu tren berlalu. Artikel ini merangkum poin-poin penting dari diskusi tersebut menjadi sebuah checklist kesiapan operasional dan finansial yang bisa langsung diterapkan oleh pelaku usaha F&B maupun retail fashion. Jangan Terjebak FOMO: Bangun Bisnis yang Sustainable, Bukan Sekadar Viral Tren matcha, Dubai chocolate, atau kolaborasi fashion-FnB yang menjamur di media sosial sering memicu pelaku usaha untuk ikut latah membuka gerai besar di lokasi ramai dengan investasi jorjoran. Masalahnya, menurut Hetty, keputusan semacam ini kerap diambil tanpa riset target pasar yang memadai. “Kita pikir lokasinya di mal ramai, ukurannya besar, investasinya terkesan berlebihan karena interiornya bagus dan stok barangnya banyak. Tapi ternyata, target marketnya tidak masuk,” ujar Hetty Awi mengenang pengalamannya sendiri. Ray menambahkan bahwa tidak semua bisnis F&B perlu, atau bahkan mampu, menjadi viral dan membuka ribuan cabang. Konsep lifestyle seperti yang ia jalankan justru punya batasan alami. Tips & Trick: Sebelum mengejar momentum viral, tentukan dulu apakah model bisnis Anda memang dirancang untuk scale besar-besaran atau untuk bertahan dalam skala lifestyle yang lebih terjaga. Keduanya sah, tapi strategi operasional dan finansialnya sangat berbeda. Maka dari itu, terdapat beberapa langkah yang bisa business owners lakukan, mulai dari: Validasi kesesuaian lokasi dengan target pasar sebelum menandatangani kontrak sewa jangka panjang Tentukan apakah konsep bisnis Anda memang cocok untuk ekspansi cepat atau justru butuh dijaga dalam skala kecil Siapkan menu atau produk pendukung sebagai antisipasi ketika tren utama mulai meredup Apa yang Sering Diremehkan Pemula Saat Memulai Bisnis Di Balik Bisnis F&B: Hal-Hal yang Tidak Pernah Terlihat di Media Sosial Ray membagikan pengalamannya bertransisi dari chef menjadi pemilik restoran, sebuah pergeseran peran yang menurutnya jauh lebih berat dari ekspektasi awal. “Banyak banget yang harus diurus yang tidak pernah saya sentuh sebelumnya karena saya datang dari kitchen. Mulai dari area depan, dekorasi, ambience, jenis musik, lokasi, hingga marketing… Belum lagi operasional sehari-hari seperti listrik, air, urusan tukang saat membangun, sistem POS, sistem absensi, hingga komplain dan curhatan staf yang berantem satu sama lain,” papar Ray Janson. Ingin mendengar langsung pengalaman dan insight lengkap dari Ray Janson dan Hetty Awi? Tonton episode podcast lengkapnya untuk mendapatkan pembahasan yang lebih mendalam. Di Balik Brand Fashion: Proses yang Jauh dari Kata Glamor Senada dengan Ray, Hetty menekankan bahwa di balik tampilan estetik sebuah brand fashion, ada proses produksi yang penuh tantangan. “Konveksi itu tidak cantik prosesnya. Ada drama seperti sudah mendesain sesuatu, ternyata bahannya tidak ada. Jadi, keputusan kecil sekalipun bisa berdampak sangat besar,” ungkap Hetty Awi. Ia juga menegaskan bahwa memiliki produk dan pelayanan yang baik saja belum cukup. Bisnis hanya dapat berkembang jika marketing dan pemahaman terhadap target pasar dijalankan secara menyeluruh dan saling terhubung. Intinya, menjadi pemilik bisnis berarti melihat bisnis secara menyeluruh. Jangan menyerahkan seluruh urusan operasional kepada tim tanpa memahami prosesnya, karena keputusan terbaik lahir dari pemahaman yang utuh terhadap cara bisnis berjalan. Bangun Tim Dulu Sebelum Bicara Scale Up Ketika ditanya indikator kesiapan sebuah bisnis untuk ekspansi, jawaban Hetty tegas: bukan soal modal semata, melainkan kesiapan tim. “Kita tidak bisa melakukan semuanya sendiri (one-man show)… Ibarat mau perang, siapkan pasukannya dulu jangan asal maju agar di dalamnya tidak kewalahan sendiri,” tegas Hetty Awi. Ray sepakat, dan menambahkan bahwa proses belajar bertahap tidak bisa dilewati. Ia mencontohkan bagaimana Bura-Bura Cocktail Bar sengaja dijadikan “laboratorium” kecil sebelum timnya berani membuka restoran yang jauh lebih besar seperti Seba. Sebelum berpikir untuk scale up, pastikan fondasi bisnis sudah benar-benar siap. Mulailah dengan membangun struktur tim yang jelas, mulai dari fungsi marketing, operasional, hingga finansial. Dengan fondasi yang kuat, bisnis akan lebih siap menghadapi pertumbuhan tanpa mengorbankan kualitas operasional di setiap cabang. Langkah yang bisa mulai Anda lakukan: Petakan struktur tim inti yang mencakup fungsi marketing, operasional, dan finansial sebelum memutuskan membuka cabang baru Uji model bisnis dalam skala kecil terlebih dahulu untuk menemukan proses yang paling efektif sebelum melakukan investasi yang lebih besar Pastikan Anda memahami dasar-dasar keuangan, seperti perbedaan omzet dan laba, margin, serta proyeksi anggaran agar setiap keputusan ekspansi didasarkan pada kondisi bisnis yang sebenarnya 3 Titik Kebocoran Profit yang Diam-Diam Menggerus Bisnis 1. Kesalahan Riset Lokasi Hetty membagikan pengalaman pahitnya membuka gerai di sebuah mal yang ramai, tetapi ternyata tidak sesuai dengan target pasar brand-nya. Keputusan tersebut membuat investasi untuk interior dan stok tidak menghasilkan penjualan yang sebanding. 2. Overstock yang Mengganggu Arus Kas (Retail Fashion) “Berbeda dengan makanan yang bisa basi, pakaian tidak basi tapi kalau overstock, arus kas akan terganggu dan kami jadi tidak bisa memproduksi koleksi baru yang potensi penjualannya lebih bagus,” jelas Hetty Awi. 3. Food Cost dan Penyusutan Bahan yang Tidak Termonitor (F&B) Ray menjelaskan bahwa dalam bisnis F&B, restoran yang terlihat ramai belum tentu menghasilkan keuntungan, begitu pula sebaliknya. “Restoran yang ramai belum tentu menghasilkan keuntungan. Bisa jadi karena marginnya tipis, biaya stafnya terlalu besar, atau harga sewanya yang terlalu tinggi. Sebaliknya, restoran yang kelihatan sepi belum tentu rugi,” ungkap Ray Janson. Ia mencontohkan penyusutan bahan baku yang kerap luput dari perhitungan, seperti pembelian salmon utuh yang menyusut sekitar 30% setelah dibersihkan, atau cumi-cumi yang kehilangan bobot setelah disimpan di kulkas. Oleh karena itu, buffer estimasi penyusutan bahan di FnB itu wajib ada. Menjaga profit bukan hanya soal meningkatkan penjualan, tetapi juga memastikan setiap potensi kebocoran dapat teridentifikasi sejak awal. Dengan memantau biaya, arus kas, dan margin secara konsisten, Anda dapat mengambil keputusan bisnis yang lebih akurat sebelum masalah berkembang menjadi kerugian yang lebih besar. Atas dasar ini, sebagai pemilik bisnis Anda bisa mengelolanya dengan: Hitung buffer penyusutan bahan baku berdasarkan data yang realistis, bukan sekadar asumsi Pantau arus kas setiap gerai atau outlet secara terpisah agar performa masing-masing lokasi dapat dievaluasi dengan lebih akurat Evaluasi margin dan biaya operasional secara berkala, bukan hanya berfokus pada volume penjualan atau ramainya pengunjung Kontrol Stok dan Sistem: Benteng dari Kebocoran Operasional Di sisi retail, Hetty menjelaskan bahwa selisih stok (stock opname) adalah masalah yang hampir selalu terjadi. Timnya awalnya menetapkan toleransi selisih 1–4%, namun kini lebih menekankan akuntabilitas tim di lapangan serta sistem pengamanan berlapis setelah mengalami kasus kehilangan barang dalam jumlah besar di salah satu gerainya. Sementara itu, Ray menekankan bahwa sistem digital tetap perlu didukung dengan proses verifikasi manual agar data operasional tetap akurat. “Meskipun sudah menggunakan sistem digital, saya pribadi tetap menyarankan adanya tim cost control di back office untuk melakukan pengecekan data secara manual… Jika terdapat selisih yang jauh, baru kita telusuri bagian mana yang salah,” ujarnya, menambahkan bahwa data ini idealnya dibahas rutin dalam rapat mingguan. Sistem yang baik tidak hanya membantu mencatat transaksi, tetapi juga memudahkan bisnis mendeteksi potensi kebocoran sejak dini. Ketika data rutin diverifikasi dan dievaluasi, masalah kecil dapat segera ditangani sebelum berdampak pada operasional maupun profit bisnis. Langkah yang bisa mulai Anda lakukan: Gunakan sistem POS yang terhubung dengan back office agar setiap transaksi lebih mudah dipantau dan risiko salah pencatatan bisa ditekan sejak awal Lakukan stock opname secara berkala sesuai kebutuhan bisnis. Setelah itu, cocokkan hasilnya dengan data di sistem untuk segera menemukan selisih yang muncul Bahas hasil pengecekan stok dalam rapat mingguan supaya setiap temuan bisa langsung ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar Menjaga Passion Saat Bisnis Sedang Lesu Di penghujung diskusi, keduanya berbagi cara mempertahankan motivasi saat bisnis memasuki musim sepi. Hetty mengandalkan riset tren dari ajang fashion internasional serta komunitas lintas industri untuk membaca kondisi pasar secara lebih objektif. Sementara itu, Ray punya pandangan yang lebih tajam soal kata “passion” yang menurutnya kerap disalahgunakan. “Indikator utama untuk mengukur apakah Anda benar-benar memiliki passion atau tidak adalah saat menghadapi masa-masa sulit. Seberapa lama Anda bisa bertahan melakukan pekerjaan tersebut tanpa mendapatkan imbalan atau keuntungan finansial? Di situlah passion Anda diuji,” tegas Ray Janson. Ia juga membagikan kebiasaan yang menurutnya menjadi sumber inspirasi terbesarnya: menyisihkan anggaran khusus untuk riset makan di restoran baru, bahkan melakukan riset langsung ke Jepang sebelum membuka Seba. Selain, terdapat beberapa strategi praktis yang bisa Anda mulai, seperti: Bangun komunitas lintas industri sebagai sarana bertukar insight pasar, bukan sekadar kompetisi. Alokasikan anggaran riset (mencoba produk kompetitor, mengikuti tren internasional) sebagai bagian dari biaya operasional, bukan pengeluaran opsional. Checklist Kesiapan Operasional dan Finansial FnB & Retail Fashion Merangkum seluruh diskusi di atas, berikut checklist ringkas yang bisa dijadikan acuan sebelum membuka gerai baru maupun saat mengevaluasi bisnis yang sudah berjalan: Bagaimana Mekari Jurnal Membantu Mengatasi Tantangan Ini Inti dari seluruh pain points yang dibagikan Ray dan Hetty sebenarnya bermuara pada satu hal: ketertiban data operasional dan finansial. Baik itu arus kas per outlet, buffer penyusutan bahan baku, selisih stok, hingga margin per produk semuanya sulit dikelola secara manual, apalagi jika bisnis sudah memiliki lebih dari satu gerai atau cabang. Di titik inilah software akuntansi digital seperti Mekari Jurnal berperan bukan sekadar sebagai alat pencatatan, melainkan sebagai fondasi pengambilan keputusan bisnis yang lebih presisi. Beberapa fitur Mekari Jurnal yang relevan untuk menjawab tantangan operasional bisnis F&B dan retail fashion antara lain: 1. Laporan Keuangan Real-Time Menjawab kebutuhan Ray akan pemantauan arus kas yang harus dipantau langsung oleh pemilik bisnis. Dengan laporan keuangan real-time, pemilik usaha dapat memonitor cash flow dan kondisi keuangan kapan saja tanpa harus menunggu laporan akhir bulan. 2. Manajemen Inventori dan Produk Membantu mengatasi masalah overstock di retail fashion maupun penyusutan bahan baku di bisnis F&B melalui pemantauan stok secara real-time. Proses stock opname menjadi lebih akurat dan selisih persediaan dapat ditelusuri lebih cepat. 3. Laporan Profitabilitas Produk Memungkinkan pemilik bisnis mengetahui profitabilitas setiap produk atau menu. Dengan demikian, mereka dapat mengidentifikasi produk yang memberikan margin terbaik sekaligus mengevaluasi produk yang memiliki penjualan tinggi tetapi kontribusi keuntungannya rendah. 4. Biaya & Anggaran (Budget Management) Membantu menyusun, memantau, dan mengevaluasi anggaran operasional, termasuk biaya bahan baku maupun biaya operasional per outlet, sehingga pengeluaran tetap terkendali sesuai rencana bisnis. 5. Manajemen Multi Gerai/Cabang Memudahkan konsolidasi laporan keuangan dari berbagai gerai atau cabang dalam satu dashboard. Pemilik bisnis dapat membandingkan performa setiap outlet dan lebih cepat mengidentifikasi cabang yang memerlukan perhatian. 6. Integrasi POS Terintegrasi dengan sistem point-of-sale seperti Mekari POS, sehingga transaksi penjualan harian otomatis tercatat ke pembukuan tanpa proses input manual. Hal ini membantu mengurangi risiko kesalahan pencatatan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. 7. Analisis Laporan Berbasis AI (AIRene) Menyajikan insight dan rekomendasi berdasarkan data keuangan yang tercatat sehingga pemilik bisnis dapat memahami kondisi keuangan, tren performa, serta peluang perbaikan dengan lebih mudah dan cepat. Pada akhirnya, tantangan yang dibahas Ray dan Hetty menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis bukan hanya ditentukan oleh kualitas produk atau ramainya pelanggan, tetapi juga oleh kemampuan pemilik bisnis dalam mengelola data dan mengambil keputusan yang tepat Dengan fitur-fitur seperti laporan keuangan real-time, manajemen inventori, laporan profitabilitas, hingga analisis berbasis AI, Mekari Jurnal membantu pemilik bisnis mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar intuisi. Konsultasi dengan Mekari Jurnal Sekarang! Kesimpulan Kisah Ray Janson dan Hetty Awi menegaskan satu hal: kesuksesan bisnis F&B dan retail fashion tidak lahir dari keviralan semata, melainkan dari kedisiplinan menjaga arus kas, memahami buffer bahan baku maupun stok, membangun tim yang solid, dan berani menjalani proses belajar tanpa jalan pintas. Checklist di atas bisa menjadi titik awal evaluasi, tapi eksekusinya tetap membutuhkan sistem yang mendukung ketertiban data secara konsisten. Di sinilah peran software akuntansi digital seperti Mekari Jurnal menjadi krusial, yang bukan untuk menggantikan insting bisnis pemiliknya, melainkan memastikan setiap keputusan strategis, mulai dari ekspansi gerai hingga penentuan harga menu, diambil berdasarkan data yang akurat dan real-time. Kategori : Business ManagementEventInspirasi Artikel Sebelumnya Artikel Selanjutnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
Checklist Kesiapan Operasional dan Finansial dalam F&B dan Retail ala Ray Janson and Hetty Awi Bagi pelaku usaha F&B dan retail fashion, jargon “viral” dan “FOMO” sering dianggap jalan pintas menuju sukses. Padahal, di balik antrean panjang dan estetika Instagram, ada pekerjaan rumah operasional dan finansial yang jauh lebih berat dari kelihatannya. Hal itulah yang dikupas tuntas dalam episode terbaru Your Growth Podcast bersama dua praktisi yang sudah membuktikan diri di lapangan: Ray Janson, pemilik Bura-Bura Cocktail Bar dan Seba Japanese Restaurant & Sake Bar, sekaligus pendiri agensi marketing khusus F&B, The Narrative; serta Hetty Awi, pemilik brand fashion 3Mongkis yang belum lama ini meluncurkan lini baru, Grand Tour by 3Mongkis. Dalam obrolan santai namun sarat insight tersebut, keduanya membongkar pain points yang jarang dibicarakan, kesalahan yang hampir selalu terjadi di fase awal, hingga bagaimana disiplin operasional dan finansial menjadi pembeda antara bisnis yang bertahan 20 tahun dengan bisnis yang tenggelam begitu tren berlalu. Artikel ini merangkum poin-poin penting dari diskusi tersebut menjadi sebuah checklist kesiapan operasional dan finansial yang bisa langsung diterapkan oleh pelaku usaha F&B maupun retail fashion. Jangan Terjebak FOMO: Bangun Bisnis yang Sustainable, Bukan Sekadar Viral Tren matcha, Dubai chocolate, atau kolaborasi fashion-FnB yang menjamur di media sosial sering memicu pelaku usaha untuk ikut latah membuka gerai besar di lokasi ramai dengan investasi jorjoran. Masalahnya, menurut Hetty, keputusan semacam ini kerap diambil tanpa riset target pasar yang memadai. “Kita pikir lokasinya di mal ramai, ukurannya besar, investasinya terkesan berlebihan karena interiornya bagus dan stok barangnya banyak. Tapi ternyata, target marketnya tidak masuk,” ujar Hetty Awi mengenang pengalamannya sendiri. Ray menambahkan bahwa tidak semua bisnis F&B perlu, atau bahkan mampu, menjadi viral dan membuka ribuan cabang. Konsep lifestyle seperti yang ia jalankan justru punya batasan alami. Tips & Trick: Sebelum mengejar momentum viral, tentukan dulu apakah model bisnis Anda memang dirancang untuk scale besar-besaran atau untuk bertahan dalam skala lifestyle yang lebih terjaga. Keduanya sah, tapi strategi operasional dan finansialnya sangat berbeda. Maka dari itu, terdapat beberapa langkah yang bisa business owners lakukan, mulai dari: Validasi kesesuaian lokasi dengan target pasar sebelum menandatangani kontrak sewa jangka panjang Tentukan apakah konsep bisnis Anda memang cocok untuk ekspansi cepat atau justru butuh dijaga dalam skala kecil Siapkan menu atau produk pendukung sebagai antisipasi ketika tren utama mulai meredup Apa yang Sering Diremehkan Pemula Saat Memulai Bisnis Di Balik Bisnis F&B: Hal-Hal yang Tidak Pernah Terlihat di Media Sosial Ray membagikan pengalamannya bertransisi dari chef menjadi pemilik restoran, sebuah pergeseran peran yang menurutnya jauh lebih berat dari ekspektasi awal. “Banyak banget yang harus diurus yang tidak pernah saya sentuh sebelumnya karena saya datang dari kitchen. Mulai dari area depan, dekorasi, ambience, jenis musik, lokasi, hingga marketing… Belum lagi operasional sehari-hari seperti listrik, air, urusan tukang saat membangun, sistem POS, sistem absensi, hingga komplain dan curhatan staf yang berantem satu sama lain,” papar Ray Janson. Ingin mendengar langsung pengalaman dan insight lengkap dari Ray Janson dan Hetty Awi? Tonton episode podcast lengkapnya untuk mendapatkan pembahasan yang lebih mendalam. Di Balik Brand Fashion: Proses yang Jauh dari Kata Glamor Senada dengan Ray, Hetty menekankan bahwa di balik tampilan estetik sebuah brand fashion, ada proses produksi yang penuh tantangan. “Konveksi itu tidak cantik prosesnya. Ada drama seperti sudah mendesain sesuatu, ternyata bahannya tidak ada. Jadi, keputusan kecil sekalipun bisa berdampak sangat besar,” ungkap Hetty Awi. Ia juga menegaskan bahwa memiliki produk dan pelayanan yang baik saja belum cukup. Bisnis hanya dapat berkembang jika marketing dan pemahaman terhadap target pasar dijalankan secara menyeluruh dan saling terhubung. Intinya, menjadi pemilik bisnis berarti melihat bisnis secara menyeluruh. Jangan menyerahkan seluruh urusan operasional kepada tim tanpa memahami prosesnya, karena keputusan terbaik lahir dari pemahaman yang utuh terhadap cara bisnis berjalan. Bangun Tim Dulu Sebelum Bicara Scale Up Ketika ditanya indikator kesiapan sebuah bisnis untuk ekspansi, jawaban Hetty tegas: bukan soal modal semata, melainkan kesiapan tim. “Kita tidak bisa melakukan semuanya sendiri (one-man show)… Ibarat mau perang, siapkan pasukannya dulu jangan asal maju agar di dalamnya tidak kewalahan sendiri,” tegas Hetty Awi. Ray sepakat, dan menambahkan bahwa proses belajar bertahap tidak bisa dilewati. Ia mencontohkan bagaimana Bura-Bura Cocktail Bar sengaja dijadikan “laboratorium” kecil sebelum timnya berani membuka restoran yang jauh lebih besar seperti Seba. Sebelum berpikir untuk scale up, pastikan fondasi bisnis sudah benar-benar siap. Mulailah dengan membangun struktur tim yang jelas, mulai dari fungsi marketing, operasional, hingga finansial. Dengan fondasi yang kuat, bisnis akan lebih siap menghadapi pertumbuhan tanpa mengorbankan kualitas operasional di setiap cabang. Langkah yang bisa mulai Anda lakukan: Petakan struktur tim inti yang mencakup fungsi marketing, operasional, dan finansial sebelum memutuskan membuka cabang baru Uji model bisnis dalam skala kecil terlebih dahulu untuk menemukan proses yang paling efektif sebelum melakukan investasi yang lebih besar Pastikan Anda memahami dasar-dasar keuangan, seperti perbedaan omzet dan laba, margin, serta proyeksi anggaran agar setiap keputusan ekspansi didasarkan pada kondisi bisnis yang sebenarnya 3 Titik Kebocoran Profit yang Diam-Diam Menggerus Bisnis 1. Kesalahan Riset Lokasi Hetty membagikan pengalaman pahitnya membuka gerai di sebuah mal yang ramai, tetapi ternyata tidak sesuai dengan target pasar brand-nya. Keputusan tersebut membuat investasi untuk interior dan stok tidak menghasilkan penjualan yang sebanding. 2. Overstock yang Mengganggu Arus Kas (Retail Fashion) “Berbeda dengan makanan yang bisa basi, pakaian tidak basi tapi kalau overstock, arus kas akan terganggu dan kami jadi tidak bisa memproduksi koleksi baru yang potensi penjualannya lebih bagus,” jelas Hetty Awi. 3. Food Cost dan Penyusutan Bahan yang Tidak Termonitor (F&B) Ray menjelaskan bahwa dalam bisnis F&B, restoran yang terlihat ramai belum tentu menghasilkan keuntungan, begitu pula sebaliknya. “Restoran yang ramai belum tentu menghasilkan keuntungan. Bisa jadi karena marginnya tipis, biaya stafnya terlalu besar, atau harga sewanya yang terlalu tinggi. Sebaliknya, restoran yang kelihatan sepi belum tentu rugi,” ungkap Ray Janson. Ia mencontohkan penyusutan bahan baku yang kerap luput dari perhitungan, seperti pembelian salmon utuh yang menyusut sekitar 30% setelah dibersihkan, atau cumi-cumi yang kehilangan bobot setelah disimpan di kulkas. Oleh karena itu, buffer estimasi penyusutan bahan di FnB itu wajib ada. Menjaga profit bukan hanya soal meningkatkan penjualan, tetapi juga memastikan setiap potensi kebocoran dapat teridentifikasi sejak awal. Dengan memantau biaya, arus kas, dan margin secara konsisten, Anda dapat mengambil keputusan bisnis yang lebih akurat sebelum masalah berkembang menjadi kerugian yang lebih besar. Atas dasar ini, sebagai pemilik bisnis Anda bisa mengelolanya dengan: Hitung buffer penyusutan bahan baku berdasarkan data yang realistis, bukan sekadar asumsi Pantau arus kas setiap gerai atau outlet secara terpisah agar performa masing-masing lokasi dapat dievaluasi dengan lebih akurat Evaluasi margin dan biaya operasional secara berkala, bukan hanya berfokus pada volume penjualan atau ramainya pengunjung Kontrol Stok dan Sistem: Benteng dari Kebocoran Operasional Di sisi retail, Hetty menjelaskan bahwa selisih stok (stock opname) adalah masalah yang hampir selalu terjadi. Timnya awalnya menetapkan toleransi selisih 1–4%, namun kini lebih menekankan akuntabilitas tim di lapangan serta sistem pengamanan berlapis setelah mengalami kasus kehilangan barang dalam jumlah besar di salah satu gerainya. Sementara itu, Ray menekankan bahwa sistem digital tetap perlu didukung dengan proses verifikasi manual agar data operasional tetap akurat. “Meskipun sudah menggunakan sistem digital, saya pribadi tetap menyarankan adanya tim cost control di back office untuk melakukan pengecekan data secara manual… Jika terdapat selisih yang jauh, baru kita telusuri bagian mana yang salah,” ujarnya, menambahkan bahwa data ini idealnya dibahas rutin dalam rapat mingguan. Sistem yang baik tidak hanya membantu mencatat transaksi, tetapi juga memudahkan bisnis mendeteksi potensi kebocoran sejak dini. Ketika data rutin diverifikasi dan dievaluasi, masalah kecil dapat segera ditangani sebelum berdampak pada operasional maupun profit bisnis. Langkah yang bisa mulai Anda lakukan: Gunakan sistem POS yang terhubung dengan back office agar setiap transaksi lebih mudah dipantau dan risiko salah pencatatan bisa ditekan sejak awal Lakukan stock opname secara berkala sesuai kebutuhan bisnis. Setelah itu, cocokkan hasilnya dengan data di sistem untuk segera menemukan selisih yang muncul Bahas hasil pengecekan stok dalam rapat mingguan supaya setiap temuan bisa langsung ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar Menjaga Passion Saat Bisnis Sedang Lesu Di penghujung diskusi, keduanya berbagi cara mempertahankan motivasi saat bisnis memasuki musim sepi. Hetty mengandalkan riset tren dari ajang fashion internasional serta komunitas lintas industri untuk membaca kondisi pasar secara lebih objektif. Sementara itu, Ray punya pandangan yang lebih tajam soal kata “passion” yang menurutnya kerap disalahgunakan. “Indikator utama untuk mengukur apakah Anda benar-benar memiliki passion atau tidak adalah saat menghadapi masa-masa sulit. Seberapa lama Anda bisa bertahan melakukan pekerjaan tersebut tanpa mendapatkan imbalan atau keuntungan finansial? Di situlah passion Anda diuji,” tegas Ray Janson. Ia juga membagikan kebiasaan yang menurutnya menjadi sumber inspirasi terbesarnya: menyisihkan anggaran khusus untuk riset makan di restoran baru, bahkan melakukan riset langsung ke Jepang sebelum membuka Seba. Selain, terdapat beberapa strategi praktis yang bisa Anda mulai, seperti: Bangun komunitas lintas industri sebagai sarana bertukar insight pasar, bukan sekadar kompetisi. Alokasikan anggaran riset (mencoba produk kompetitor, mengikuti tren internasional) sebagai bagian dari biaya operasional, bukan pengeluaran opsional. Checklist Kesiapan Operasional dan Finansial FnB & Retail Fashion Merangkum seluruh diskusi di atas, berikut checklist ringkas yang bisa dijadikan acuan sebelum membuka gerai baru maupun saat mengevaluasi bisnis yang sudah berjalan: Bagaimana Mekari Jurnal Membantu Mengatasi Tantangan Ini Inti dari seluruh pain points yang dibagikan Ray dan Hetty sebenarnya bermuara pada satu hal: ketertiban data operasional dan finansial. Baik itu arus kas per outlet, buffer penyusutan bahan baku, selisih stok, hingga margin per produk semuanya sulit dikelola secara manual, apalagi jika bisnis sudah memiliki lebih dari satu gerai atau cabang. Di titik inilah software akuntansi digital seperti Mekari Jurnal berperan bukan sekadar sebagai alat pencatatan, melainkan sebagai fondasi pengambilan keputusan bisnis yang lebih presisi. Beberapa fitur Mekari Jurnal yang relevan untuk menjawab tantangan operasional bisnis F&B dan retail fashion antara lain: 1. Laporan Keuangan Real-Time Menjawab kebutuhan Ray akan pemantauan arus kas yang harus dipantau langsung oleh pemilik bisnis. Dengan laporan keuangan real-time, pemilik usaha dapat memonitor cash flow dan kondisi keuangan kapan saja tanpa harus menunggu laporan akhir bulan. 2. Manajemen Inventori dan Produk Membantu mengatasi masalah overstock di retail fashion maupun penyusutan bahan baku di bisnis F&B melalui pemantauan stok secara real-time. Proses stock opname menjadi lebih akurat dan selisih persediaan dapat ditelusuri lebih cepat. 3. Laporan Profitabilitas Produk Memungkinkan pemilik bisnis mengetahui profitabilitas setiap produk atau menu. Dengan demikian, mereka dapat mengidentifikasi produk yang memberikan margin terbaik sekaligus mengevaluasi produk yang memiliki penjualan tinggi tetapi kontribusi keuntungannya rendah. 4. Biaya & Anggaran (Budget Management) Membantu menyusun, memantau, dan mengevaluasi anggaran operasional, termasuk biaya bahan baku maupun biaya operasional per outlet, sehingga pengeluaran tetap terkendali sesuai rencana bisnis. 5. Manajemen Multi Gerai/Cabang Memudahkan konsolidasi laporan keuangan dari berbagai gerai atau cabang dalam satu dashboard. Pemilik bisnis dapat membandingkan performa setiap outlet dan lebih cepat mengidentifikasi cabang yang memerlukan perhatian. 6. Integrasi POS Terintegrasi dengan sistem point-of-sale seperti Mekari POS, sehingga transaksi penjualan harian otomatis tercatat ke pembukuan tanpa proses input manual. Hal ini membantu mengurangi risiko kesalahan pencatatan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. 7. Analisis Laporan Berbasis AI (AIRene) Menyajikan insight dan rekomendasi berdasarkan data keuangan yang tercatat sehingga pemilik bisnis dapat memahami kondisi keuangan, tren performa, serta peluang perbaikan dengan lebih mudah dan cepat. Pada akhirnya, tantangan yang dibahas Ray dan Hetty menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis bukan hanya ditentukan oleh kualitas produk atau ramainya pelanggan, tetapi juga oleh kemampuan pemilik bisnis dalam mengelola data dan mengambil keputusan yang tepat Dengan fitur-fitur seperti laporan keuangan real-time, manajemen inventori, laporan profitabilitas, hingga analisis berbasis AI, Mekari Jurnal membantu pemilik bisnis mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar intuisi. Konsultasi dengan Mekari Jurnal Sekarang! Kesimpulan Kisah Ray Janson dan Hetty Awi menegaskan satu hal: kesuksesan bisnis F&B dan retail fashion tidak lahir dari keviralan semata, melainkan dari kedisiplinan menjaga arus kas, memahami buffer bahan baku maupun stok, membangun tim yang solid, dan berani menjalani proses belajar tanpa jalan pintas. Checklist di atas bisa menjadi titik awal evaluasi, tapi eksekusinya tetap membutuhkan sistem yang mendukung ketertiban data secara konsisten. Di sinilah peran software akuntansi digital seperti Mekari Jurnal menjadi krusial, yang bukan untuk menggantikan insting bisnis pemiliknya, melainkan memastikan setiap keputusan strategis, mulai dari ekspansi gerai hingga penentuan harga menu, diambil berdasarkan data yang akurat dan real-time.