Transaksi Derivatif, Apa Saja Jenis-Jenisnya?

Apa itu pengertian derivatif, jenis-jenis, serta manfaat dari transaksi ini? Berikut ulasannya di Blog Mekari Jurnal.

Derivatif digunakan oleh manajemen investasi/portofolio, perusahaan dan lembaga keuangan serta investor perorangan untuk mengelola posisi yang mereka miliki terhadap risiko dari pergerakan harga pasar atas aset atau produk investasi.

Daripada memperdagangkan atau menukarkan suatu aset secara fisik, pelaku pasar membuat suatu perjanjian untuk saling mempertukarkan uang, aset atau suatu nilai di masa mendatang dengan mengacu pada aset yang menjadi acuan pokok.

Ada beberapa jenis transaksi derivatif seperti kontrak berjangka (futures), kontrak serah (forward), opsi dan swap yang akan dijelaskan lebih lanjut di artikel ini.

Apa itu Transaksi Derivatif?

Transaksi derivatif adalah transaksi yang didasari oleh suatu kontrak atau perjanjian pembayaran yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang nilainya diturunkan atau berasal dari produk yang menjadi “acuan pokok” atau juga disebut ” produk turunan” (underlying product).

Hal ini mencakup transaksi penjualan maupun pembelian berbagai jenis aset, baik yang diikuti dengan pergerakan atau tanpa pergerakan dana atau instrumen seperti:

  • Suku bunga
  • Nilai tukar mata uang
  • Komoditas
  • Saham (equity)
  • Obligasi
  • Indeks (indeks saham, indeks harga konsumen, dll)

Kontrak perjanjian tersebut nantinya akan berfungsi sebagai objek perdagangan yang mana harganya harus disetujui oleh kedua belah pihak.

Baca juga: 11 Jenis Bukti Transaksi Penting Bagi Pencatatan Keuangan

Manfaat Derivatif

Transaksi derivatif pada dasarnya diciptakan untuk melindungi nilai atau harga dari suatu komoditas di masa depan.

Sebagai contoh, pada tahun 2017 Bank Indonesia sempat membantu BUMN agar dapat memanfaatkan instrumen derivatif untuk mengatasi jatuhnya nilai tukar rupiah.

Fungsi lain dari transaksi derivatif ini adalah untuk mengambil atau mengalihkan suatu risiko, tergantung apakah posisinya sebagai hedger (pelaku lindung nilai) atau spekulator.

Jenis-Jenis Transaksi Derivatif

transaksi derivatif

​​​​Ada banyak sekali instrumen finansial yang dapat dikategorikan dalam kelompok derivatif, berikut penjelasannya:

Kontrak Serah (Forward)

Kontrak serah adalah perjanjian bilateral atau lebih untuk menyerahkan aset/komoditas dengan harga, jumlah, dan tanggal yang sudah disetujui.

Jenis transaksi derivatif ini bisa dikatakan selesai ketika aset seperti valuta asing atau komoditas telah diserahkan secara fisik atau neto.

Kontrak Berjangka (Futures)

Secara konsep, kontrak berjangka tidak berbeda dengan kontrak serah.

Hanya saja, transaksi derivatif ini diperdagangkan secara teratur di bursa atau pasar berjangka.

Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) merupakan lembaga resmi yang menyediakan sarana kontrak berjangka di Indonesia yang menawarkan produk-produk yang aktif diperdagangkan seperti emas maupun kelapa sawit.

Terdapat dua pihak yang biasanya bertransaksi dalam bursa berjangka ini – yaitu spekulator dan hedger.

Spekulator adalah orang yang memperjualbelikan kontrak berjangka agar menghasilkan keuntungan dari selisih harga terakhir di pasar dan harga awal dalam kontrak.

Sedangkan hedger adalah para konsumen dan produsen dari instrumen yang diperdagangkan yang ingin mengurangi risiko kerugian di pasar.

Baca juga : Tahapan Pencatatan Transaksi Keuangan Menjadi Buku Besar

Opsi (Option)

Kontrak opsi adalah salah satu instrumen derivatif yang banyak digunakan untuk berlindung dari risiko atau nilai (hedging) di mana salah satu pihak menyetujui untuk membayar sejumlah imbalan kepada pihak lainnya untuk suatu “hak” (tetapi bukan kewajiban) dalam melakukan transaksi jual beli.

Kontrak opsi terdiri dari 2 jenis yaitu:

  • Opsi Jual (Put Option

Jenis opsi ini memberikan hak kontrak kepada pemiliknya untuk menjual aset tertentu.

Misalnya saja ada seseorang yang khawatir bahwa harga dari saham A akan turun sebelum ia sempat menjualnya

Maka, ia membayar imbalan kepada orang lain yang disebut “penjual” opsi jual (put option) yang menyetujui untuk membeli saham darinya dengan harga yang ditentukan di depan (strike price).

Pembeli menggunakan opsi ini untuk mengelola risiko turunnya nilai jual dari saham A yang dimilikinya.

Di sisi lain, si pembeli opsi mungkin saja menggunakan transaksi tersebut untuk memperoleh imbalan jasa dan bisa jadi telah memiliki suatu gambaran bahwa nilai jual saham A tersebut tidak akan turun.

  • Opsi Beli (Call Option)

Berlawanan dengan opsi jual, opsi beli memberikan hak kontrak kepada pemiliknya untuk membeli aset tertentu (underlying asset) pada suatu tanggal yang disepakati dengan harga yang telah ditetapkan atau yang dikenal dengan istilah option strike.

Namun, mereka tidak berkewajiban melakukan transaksi dengan harga yang ditentukan dalam kontrak opsi.

Swap

Perjanjian swap adalah transaksi antara dua belah pihak dua di mana terjadi pertukaran valuta melalui pembelian atau penjualan tunai (spot) dengan penjualan/pembelian kembali secara berjangka.

Biasanya, transaksi ini berlaku untuk mata uang asing dan kebanyakan terjadi di luar bursa agar mendapatkan kepastian kurs atau suku bunga sehingga nilainya akan tetap sama selama kontrak berlangsung.

Contoh transaksi derivatif yang biasa dilakukan adalah interest rate swap yang dikaitkan dengan nilai atau harga apapun yang cenderung fluktuatif.

Hal ini dilakukan secara simultan dengan bank yang sama dan pada tingkat premi atau diskon dan kurs yang telah dibuat dan disepakati pada tanggal transaksi dilakukan.

Baca juga: Peran Sistem Pemrosesan Transaksi Bagi Perusahaan

Penerapan Pajak Instrumen Derivatif

contoh transaksi derivatif

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 17 Tahun 2009 tentang “pajak penghasilan atas penghasilan dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa”, dijelaskan bahwa:

  • Pajak yang dikenakan pada transaksi derivatif tergolong sebagai PPh final.
  • Tarif dari PPh final adalah sebesar 2,5% berdasarkan margin awal.

Risiko Transaksi Derivatif

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, derivatif adalah produk investasi yang berbentuk kontrak perdagangan.

Dalam praktiknya, proses pelaksanaan instrumen ini sangat kompleks dan rinci.

Transaksi derivatif akan lebih condong menggunakan perkiraan harga yang ada di masa depan.

Meskipun keuntungannya besar, namun risiko dari instrumen investasi ini pun sangat tinggi, bahkan bisa dibilang melebihi risiko saham.

Perusahaan yang menggunakan produk derivatif bukan berarti terbebas dari risiko yang ada.

Oleh karena itu, sebaiknya Anda melakukan riset mendalam terlebih dahulu sebelum membuat keputusan terkait investasi ini.

Untuk meminimalisir risiko, perusahaan harus dapat mengelola keuangannya dengan baik.

Mekari Jurnal hadir sebagai software akuntansi online yang telah dipercayai oleh lebih dari 20,000+ perusahaan. 

Dengan menggunakan Jurnal, Anda tidak perlu memusingkan hal-hal yang berhubungan dengan pencatatan akuntansi hingga perpajakan bisnis.

Layanan mobile  dapat menampilkan ringkasan bisnis Anda dalam aplikasi handphone.

Kapanpun dan di mana pun Anda dapat memantau perkembangan bisnis dan melihat laporan keuangan secara cepat.

Dapatkan kesempatan coba gratis selama 14 hari dari Jurnal dengan menekan tombol di bawah ini.

Saya Mau Coba Gratis Jurnal Sekarang!

atau

Saya Mau Bertanya Ke Sales Jurnal Sekarang!

Di atas adalah penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan transaksi derivatif, lengkap dengan jenis-jenis dan contoh, semoga bermanfaat!

 

Kategori : BisnisKeuangan

Kembangkan bisnis Anda dengan Mekari Jurnal sekarang

https://www.jurnal.id/wp-content/uploads/2021/04/ic-invite-to-office.svg

Coba Gratis

Akses seluruh fitur Mekari Jurnal selama 14 hari tanpa biaya apapun

Coba Gratis 14 hari
https://www.jurnal.id/wp-content/uploads/2021/04/ic-demo-interaktif.svg

Jadwalkan Demo

Jadwalkan sesi demo dan konsultasikan kebutuhan Anda langsung dengan sales kami

Jadwalkan Demo