Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
8 min read

Memahami Perbedaan Antara Backorder dan Pre-Order: Panduan Lengkap

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Adelia Vita. A
Highlights
  • Backorder membantu mengurangi kehilangan penjualan saat permintaan melebihi stok, strategi ini memungkinkan bisnis tetap menerima pesanan pelanggan sambil menunggu proses restock dari pemasok atau produksi tambahan.
  • Pre-order membantu mengukur permintaan pasar sebelum produksi dilakukan, metode ini banyak digunakan untuk produk baru, edisi terbatas, atau bisnis yang ingin mengurangi risiko kelebihan stok (overstock).
  • Kedua sistem memiliki manfaat dan risiko yang berbeda, Backorder dapat meningkatkan peluang penjualan tetapi berisiko menimbulkan keterlambatan pengiriman, sedangkan pre-order membantu efisiensi produksi namun sangat bergantung pada ketepatan jadwal peluncuran dan produksi.

Dalam dunia e-commerce, retail, dan manajemen rantai pasok (supply chain), ketersediaan stok menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan dan kelancaran operasional bisnis.

Namun, tidak semua pesanan dapat langsung dipenuhi saat pelanggan melakukan pembelian.

Ketika suatu produk tidak tersedia untuk segera dikirim, bisnis biasanya menerapkan salah satu dari dua metode pemesanan, yaitu backorder atau pre-order.

Meski sering dianggap serupa karena sama-sama melibatkan waktu tunggu, keduanya memiliki mekanisme, tujuan, dan implikasi yang berbeda.

Memahami perbedaan antara backorder dan pre-order penting bagi pemilik bisnis, manajer inventaris maupun professional logistik agar dapat membuat keputusan yang tepat terkait pengelolaan stok dan proses pembelian.

Apa itu Backorder?

Backorder adalah kondisi ketika pelanggan memesan produk yang untuk sementara tidak tersedia di stok, tetapi masih diproduksi atau diperkirakan akan kembali tersedia dalam waktu tertentu.

Meskipun persediaan sedang habis, penjual tetap menerima pesanan dan akan mengirimkan barang setelah stok baru tiba dari produsen atau distributor.

Dalam praktik bisnis dan ritel, sistem backorder sering digunakan untuk menjaga peluang penjualan tetap berjalan meskipun persediaan sementara kosong.

Dengan demikian, pelanggan tidak perlu melakukan pemesanan ulang ketika stok kembali tersedia.

Dari sisi akuntansi, pembayaran yang diterima dari transaksi backorder belum dapat langsung diakui sebagai pendapatan.

Sebab, perusahaan masih memiliki kewajiban untuk menyerahkan barang kepada pelanggan.

Oleh karena itu, dana yang diterima biasanya dicatat sebagai pendapatan diterima di muka (unearned revenue) atau kewajiban lancar hingga barang dikirim dan kewajiban penyerahan produk telah dipenuhi.

Bagaimana Cara Kerja Backorder?

Backorder terjadi ketika pelanggan memesan produk yang stoknya sedang habis, tetapi perusahaan tetap menerima pesanan tersebut karena yakin persediaan akan tersedia kembali dalam waktu tertentu.

Dalam kondisi ini, produk sebenarnya sudah dipasarkan dan pernah tersedia, hanya saja jumlah permintaan melebihi stok yang ada.

Proses backorder biasanya dimulai saat sistem inventaris mendeteksi bahwa stok produk telah mencapai nol atau berada di bawah batas minimum.

Alih-alih menutup penjualan, perusahaan tetap membuka pemesanan dan memberi informasi kepada pelanggan bahwa produk akan dikirim setelah persediaan kembali tersedia.

Secara umum, alur backorder meliputi:

Memahami Perbedaan Antara Backorder dan Pre-Order Panduan Lengkap

Pada praktiknya, perusahaan yang menerapkan backorder perlu memiliki koordinasi yang baik dengan pemasok.

Jika terjadi keterlambatan restock, pelanggan berisiko menunggu lebih lama dari perkiraan sehingga dapat menurunkan tingkat kepuasan pelanggan.

Contoh Cara Kerja Backorder

Sebuah toko online menjual kursi gaming dengan stok awal sebanyak 500 unit. Setelah sebuah influencer teknologi mengulas produk tersebut, permintaan meningkat tajam hingga mencapai 700 pesanan dalam tiga hari.

Karena stok yang tersedia hanya 500 unit, sebanyak 200 pesanan berikutnya masuk ke dalam kategori backorder. Perusahaan kemudian memesan tambahan 300 unit kepada pemasok.

Dua minggu kemudian, stok tambahan tiba di gudang dan perusahaan mulai mengirimkan produk kepada pelanggan yang sebelumnya berada dalam antrean backorder.

Dalam kasus ini, perusahaan tetap berhasil memperoleh penjualan meskipun stok sempat habis.

Baca Juga: Sales Order: Pengertian, Manfaat, Contoh, dan Perbedaan dengan Dokumen Serupa

Kelebihan dan Kekurangan Backorder

Kelebihan Backorder

Keuntungan utama dari backorder adalah membantu bisnis tetap memperoleh penjualan meskipun stok produk sedang habis.

Dengan tetap menerima pesanan, perusahaan dapat mengurangi risiko kehilangan pelanggan yang mungkin beralih ke kompetitor.

Selain itu, backorder juga memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tingkat permintaan pasar sehingga perusahaan dapat merencanakan pengadaan atau produksi dengan lebih baik.

Kekurangan Backorder

Sistem backorder dapat menimbulkan tantangan dalam pengelolaan pesanan dan kepuasan pelanggan.

Jika proses restock membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan, pelanggan mungkin harus menunggu lebih lama untuk menerima barang yang dipesan.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko pembatalan pesanan, permintaan pengembalian dana, hingga menurunkan kepercayaan pelanggan terhadap bisnis.

Selain itu, perusahaan juga perlu mengelola komunikasi dan distribusi secara lebih cermat agar proses pemenuhan pesanan tetap berjalan lancar.

Apa itu Pre-order?

Pre-Order adalah sistem pemesanan produk sebelum produk tersebut tersedia untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan.

Umumnya, produk yang ditawarkan melalui pre-order masih dalam tahap produksi, persiapan peluncuran, atau belum resmi dirilis ke pasar.

Skema ini banyak digunakan pada peluncuran gadget terbaru, produk fashion edisi terbatas, buku, game, maupun barang koleksi.

Dengan melakukan pre-order, pelanggan dapat memesan produk lebih awal dan menjadi salah satu pihak pertama yang menerima produk saat peluncuran resmi dilakukan.

Bagi perusahaan, sistem pre-order membantu mengukur minat pasar, memperkirakan kebutuhan produksi, serta memperoleh arus kas lebih awal sebelum produk didistribusikan secara luas.

Dalam beberapa industri, pre-order bahkan digunakan sebagai alat validasi pasar. Jika jumlah pesanan tidak memenuhi target, perusahaan dapat menyesuaikan strategi produksi atau pemasaran sebelum produk benar-benar diluncurkan.

Bagaimana Cara Kerja Pre-Order?

Berbeda dengan skema backorder, skema pre-order dilakukan ketika produk belum tersedia sama sekali untuk dijual atau dikirim.

Produk tersebut mungkin masih berada dalam tahap produksi, pengembangan, atau persiapan peluncuran.

Melalui sistem pre-order, perusahaan membuka kesempatan bagi pelanggan untuk memesan produk sebelum produk tersedia secara fisik.

Strategi ini membantu perusahaan memperkirakan jumlah permintaan pasar sehingga produksi dapat dilakukan secara lebih efisien.

Tahapan pre-order umumnya meliputi:

Memahami Perbedaan Antara Backorder dan Pre-Order: Panduan Lengkap

 

Dalam beberapa industri, pre-order bahkan digunakan sebagai alat validasi pasar.

Jika jumlah pesanan tidak memenuhi target, perusahaan dapat menyesuaikan strategi produksi atau pemasaran sebelum produk benar-benar diluncurkan.

Contoh Cara Kerja Pre-Order

Sebuah brand fashion lokal ingin meluncurkan koleksi jaket eksklusif edisi terbatas. Karena tidak ingin menanggung risiko kelebihan stok, perusahaan membuka pre-order selama 14 hari.

Selama periode tersebut, terdapat 1.200 pelanggan yang melakukan pemesanan. Berdasarkan data tersebut, perusahaan memproduksi jumlah yang sesuai dengan permintaan ditambah cadangan stok sekitar 10%.

Setelah produksi selesai dalam waktu satu bulan, seluruh pesanan pre-order mulai dikirim kepada pelanggan.

Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat mengurangi risiko produk tidak terjual sekaligus memastikan modal produksi digunakan secara lebih efisien.

Baca Juga: 10 Tips Sukses Membangun Bisnis Online dengan Sistem Pre-Order

Kelebihan dan Kekurangan Pre-Order

Kelebihan Pre-Order

Keunggulan utama sistem pre-order adalah membantu bisnis mengurangi risiko kelebihan stok karena jumlah produksi dapat disesuaikan dengan jumlah pesanan yang masuk.

Selain itu, perusahaan juga dapat memperoleh kepastian permintaan pasar sebelum memulai produksi dalam skala besar.

Dalam beberapa kasus, pembayaran yang diterima di awal juga dapat membantu mendukung kebutuhan modal kerja dan arus kas perusahaan.

Kekurangan Pre-Order

Sistem pre-order sangat bergantung pada ketepatan jadwal produksi dan pengiriman.

Jika terjadi keterlambatan produksi, kendala pasokan bahan baku, atau perubahan jadwal peluncuran, pelanggan mungkin harus menunggu lebih lama dari yang diperkirakan.

Apabila hal tersebut tidak dikomunikasikan dengan baik, risiko keluhan pelanggan, pembatalan pesanan, hingga penurunan kepercayaan terhadap merek dapat meningkat.

Backorder vs Pre-Order: Kapan Sebaiknya Digunakan?

Kapan Sebaiknya Menggunakan Backorder?

Backorder tidak selalu cocok untuk semua jenis bisnis. Strategi ini paling efektif ketika perusahaan memiliki tingkat kepastian tinggi bahwa stok dapat tersedia kembali dalam waktu yang relatif singkat.

Beberapa kondisi yang mendukung penggunaan backorder antara lain:

1. Permintaan Produk Sangat Tinggi

Ketika suatu produk mengalami lonjakan permintaan secara tiba-tiba, backorder memungkinkan bisnis tetap menerima pesanan tanpa kehilangan pelanggan.

Contohnya adalah produk elektronik yang viral atau perlengkapan rumah tangga yang sedang tren.

2. Pemasok Memiliki Kapasitas Produksi Stabil

Jika pemasok mampu menyediakan stok tambahan secara cepat dan konsisten, risiko keterlambatan dapat diminimalkan.

3. Produk Memiliki Riwayat Penjualan yang Kuat

Produk yang telah memiliki basis pelanggan loyal biasanya lebih aman dijual dengan sistem backorder karena pelanggan cenderung bersedia menunggu.

4. Margin Produk Relatif Tinggi

Produk dengan margin yang baik dapat membantu perusahaan menanggung biaya tambahan yang mungkin muncul akibat proses backorder.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Pre-Order?

Pre-order sangat efektif ketika bisnis ingin mengurangi ketidakpastian terkait permintaan pasar.

1. Saat Meluncurkan Produk Baru

Produk baru sering kali belum memiliki data permintaan yang akurat. Pre-order membantu perusahaan mengukur minat pelanggan sebelum memproduksi barang dalam jumlah besar.

2. Saat Menjual Produk Edisi Terbatas

Produk eksklusif atau koleksi khusus sering menggunakan pre-order untuk menciptakan rasa kelangkaan sekaligus mengontrol jumlah produksi.

3. Ketika Modal Produksi Terbatas

Bisnis yang memiliki keterbatasan modal dapat memanfaatkan pre-order untuk memperoleh kepastian permintaan sebelum mengeluarkan biaya produksi besar.

4. Saat Ingin Mengurangi Risiko Overstock

Produksi berdasarkan pesanan yang telah diterima membantu perusahaan menghindari penumpukan inventaris yang tidak terjual.

Baca Juga: Bisnis Offline atau Online, Mana yang Pilihan Terbaik?

Kesimpulan

Backorder dan pre-order merupakan dua strategi yang membantu bisnis tetap melayani pelanggan meskipun produk belum dapat langsung dikirim.

Perbedaan utamanya terletak pada ketersediaan produk, di mana backorder digunakan saat stok habis, sedangkan pre-order diterapkan ketika produk belum tersedia atau belum dirilis.

Pemilihan metode yang tepat bergantung pada kondisi bisnis, karakteristik produk, dan tujuan pengelolaan inventaris. Dengan memahami perbedaan keduanya, perusahaan dapat mengoptimalkan persediaan, menjaga kepuasan pelanggan, serta mengurangi risiko kehilangan penjualan maupun kelebihan stok.

Untuk mengelola transaksi backorder maupun pre-order dengan lebih akurat, bisnis memerlukan Software pencatatan yang mampu memantau uang muka pelanggan dan status pesanan secara real-time.

Dengan software akuntansi berbasis cloud seperti Mekari Jurnal, Anda dapat mencatat transaksi secara otomatis, melakukan rekonsiliasi dengan lebih mudah, serta memantau arus kas dan persediaan dalam satu platform terintegrasi.

Coba Gratis sekarang juga!

Saya Mau Bertanya Ke Sales Mekari Jurnal Sekarang!

Referensi

Heizer, J., Render, B., & Munson, “Operations Management: Sustainability and Supply Chain Management (13th ed.)

Investopedia, “Understanding Backorders: Definition, Causes, Examples”

Deloitte University Press, “The Future of Manufacturing: Making Things in a Changing World”

 

FAQ

Apa perbedaan antara backorder dan pre-order?

Apa perbedaan antara backorder dan pre-order?

Backorder terjadi ketika produk sudah pernah tersedia tetapi stoknya sedang habis saat pelanggan melakukan pemesanan. Sementara itu, pre-order adalah pemesanan produk yang belum tersedia atau belum resmi dirilis ke pasar.

Apa itu backorder dalam bisnis?

Apa itu backorder dalam bisnis?

Backorder adalah sistem pemesanan yang memungkinkan pelanggan tetap membeli produk meskipun stok sedang kosong. Pesanan akan diproses dan dikirim setelah persediaan kembali tersedia

Apa itu pre-order?

Apa itu pre-order?

Pre-order adalah sistem pemesanan produk sebelum produk tersebut tersedia untuk dijual atau dikirim. Biasanya digunakan untuk produk baru, edisi terbatas, atau produk yang masih dalam tahap produksi.

Mengapa perusahaan menerapkan sistem backorder?

Mengapa perusahaan menerapkan sistem backorder?

Perusahaan menggunakan backorder untuk mengurangi risiko kehilangan penjualan saat stok habis, mempertahankan pelanggan, dan mengukur tingkat permintaan terhadap suatu produk.

Mengapa bisnis menggunakan sistem pre-order?

Mengapa bisnis menggunakan sistem pre-order?

Pre-order membantu bisnis mengukur minat pasar sebelum produksi massal, mengurangi risiko kelebihan stok, serta memperoleh kepastian permintaan dari pelanggan.

Mana yang lebih baik, backorder atau pre-order?

Mana yang lebih baik, backorder atau pre-order?

Tidak ada yang lebih baik secara mutlak. Backorder lebih cocok untuk produk yang stoknya habis sementara, sedangkan pre-order lebih efektif untuk produk baru yang belum tersedia atau masih dalam proses produksi.

Kategori : Business Management

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami