Mengerti bagaimana cara Anda memutuskan adalah langkah awal untuk membuat keputusan yang lebih informatif di masa depan.

Itulah kalimat yang dikatakan Jeffrey Shinaberger, penulis dari Yes or No: How Your Everyday Decisions Will Forever Change Your Life dan pendiri Plywood People. Menurutnya, keunikan gaya decision making seseorang merupakan kekuatan sekaligus kelemahan terbesarnya. Saat Anda mengenal gaya Anda dengan baik, Anda akan mendapatkan kesempatan untuk mengundang orang lain dengan gaya yang berbeda dalam proses pengambilan keputusan untuk menciptakan keputusan yang inovatif.

Berikut ini merupakan 7 gaya decision making yang dicetuskan oleh Jeffrey Shinaberger. Manakah yang menjadi gaya Anda?

Penalaran Kolektif (Collective Reasoning)

Orang dengan gaya penalaran kolektif atau collective reasoning suka mengumpulkan berbagai opini sebelum memutuskan. Orang ini akan membutuhkan konsensus kelompok serta meminta “panduan” orang sebelum melangkah. Decision maker tipe seperti ini adalah orang yang sangat mempercayai demokrasi dan senang sekali melakukan voting.

Memutuskan berdasarkan Data (Data driven)

Setiap keputusan yang diambil oleh data driven decision maker harus berdasarkan data, alasan, dan hasil penelitian, terutama angka-angka. Mereka akan melakukan penelitian, mengatur, dan mempertimbangkan segala sesuatu sebelum melangkah maju. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan, maka kemungkinan mendapatkan hasil yang diharapkan semakin besar.

Reaksi Insting (Gut Reaction)

Decision maker jenis ini akan bergantung kepada perasaan untuk membuat keputusan cepat. Mereka tidak takut mengambil risiko akan dan melangkah dengan percaya diri. Keputusan yang diambil biasanya bersifat emosional, berdasarkan insting, dan sulit diprediksi. Fokus mereka berada pada saat ini.

Pendekatan Daftar / Membuat Daftar (List Approach)

Decision maker dengan tipe list approach hanya melangkah setelah mempertimbangkan prospek dan konsekuensi dari setiap keputusan secara sistematis. Daftar penelitian yang telah mereka lakukan akan meningkatkan kepercayaan diri mereka dan menginspirasi mereka untuk melakukan perencanaan bagi masa depan.

Setiap keputusan akan dimulai dengan selembar kertas dan sebuah garis yang digambar dari atas ke bawah sebelum membuat daftar prospek dan konsekuensi. Mereka dapat melihat dari segala aspek dan tidak akan memilih sebelum mempertimbangkan setiap pilihan yang ada.

Pimpinan Spiritual (Spiritually Guided)

Pendekatan diri kepada Tuhan atau kepercayaan spiritual dan mendengarkan “suara” dengan kesiapan hati adalah proses yang dijalani oleh decision maker yang dipimpin secara spiritual. Kegiatan spiritual seperti doa, menyendiri, dan ziarah adalah metode kunci mereka dalam membuat keputusan. Sebelum membuat sebuah keputusan besar, mereka akan pergi menjauhkan diri dari orang lain atau pekerjaan selama beberapa waktu untuk berdoa atau meditasi demi meminta pencerahan bagaimana harus melangkah. Mereka tidak akan melangkah lebih jauh sebelum mendapat pencerahan ats masalah yang diinginkan.

Menghidupi Cerita (Story living)

Story Living Decision Maker membuat keputusan berdasarkan cerita yang dapat mereka sampaikan di kemudian hari. Mereka ingin pergi ke tempat-tempat baru, mencoba hal yang tidak mungkin dan memberitahukannya pada dunia. Bagi mereka, liburan yang menarik adalah mendaki gunung Kilimanjaro hari ini dengan tiga sahabat yang baru ditemui kemarin di Twitter. Mereka adalah tipe orang yang dapat bertahan semalaman untuk terus bercakap.

Pasif dan Ragu-Ragu (Passive Undecided)

Orang dengan mental pasif dan ragu-ragu senang untuk melangkah ke depan dengan keputusan apapun selama bukan mereka yang memutuskannya. Mereka menghindari konflik dengan memilih untuk mengikuti orang lain. Bagi mereka keputusan orang lain adalah yang terbaik dalam situasi apapun.

Setelah mengetahui ketujuh gaya tersebut, dapatkah Anda memutuskan gaya yang sesuai dengan decision making Anda sehari-hari? Apakah Anda sudah dikelilingi oleh orang-orang dengan gaya decision making yang berbeda untuk membantu memutuskan apa yang terbaik bagi Anda dan perusahaan?

Sumber:

Entrepreneur.com