Bisnis franchise atau waralaba sering kali dijumpai di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Franchise merupakan jenis bisnis yang membeli nama maupun sistem dari suatu barang atau jasa yang telah maju. Pada awal pendirian bisnis franchise, pihak pemilik franchise-lah yang paling diuntungkan. Meskipun demikian, sebelum menjual bisnis yang dijalani haruslah menetukan franchise fee maupun royalty fee terlebih dahulu.

 

Franchise fee adalah biaya awal yang harus dibayarkan oleh seorang franchisee kepada franchisor sebelum memulai bisnis waralaba. Sedangkan royalty fee merupakan biaya yang harus dibayarkan dalam jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan setelah bisnis franchise berjalan. Sebagai contoh pembayaran bisa tanggal 5 setiap bulannya, atau bisa juga 3 bulan sekali setiap tanggal 20 tergantung dari pihak franchisor.

 

Penentuan franchise fee dan royalty fee sebaiknya dihitung dengan tepat agar Anda sebagai franchisor tidak merasa dirugikan. Sebaliknya, Anda juga tidak boleh terlalu membebani franchisee. Oleh karena itu, dalam menghitungnya Anda perlu mempertimbangkan pricing policy (kebijakan dalam membebankan harga) seperti di bawah ini.

 

Market Oriented

Untuk menetapkan harga franchise fee dan royalty fee pada sebuah bisnis franchise, Anda bisa menggunakan pendekatan market oriented. Pendekatan ini dilakukan dengan cara melihat harga yang telah ditetapkan oleh kompetitor bisnis Anda di lapangan. Sebagai contoh, perusahaan A menetapkan harga 5% dari penjualan kotor dan perusahaan B menetapkan harga 6% dari penjualan kotor. Maka dengan metode ini, Anda bisa menentukan harga rata-rata dari setiap kompetitor tersebut. Kalaupun tidak ingin repot, Anda juga bisa memilih dari salah satu kompetitor yang ada.

 

Customer Oriented

Penentuan harga juga bisa dilakukan dengan metode customer oriented yang mengacu pada daya beli konsumen. Dengan cara ini, harga yang ditentukan untuk setiap daerah akan berbeda-beda karena penilaian masyarakatlah yang dijadikan pertimbangan. Harga lebih mahal untuk daerah yang masyarakatnya berani membayar tinggi. Untuk daerah yang masyarakatnya menuntut harga wajar, maka jangan memberi patokan harga terlalu tinggi. Sebagai contoh jika bisnis franchise berjalan di Bali dan Jakarta, maka harga yang ditentukan akan lebih mahal untuk bisnis di Bali karena daya bayar masyarakat Bali lebih besar dibandingkan Jakarta.

 

Cost Oriented

Perhitungan harga juga bisa ditetapkan berdasarkan biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem bisnis franchise tersebut. Dengan menggunakan metode ini, Anda harus melakukan perhitungan kualitatif dan kuantitatif yang tepat. Harga jual yang ditentukan sebaiknya menutup semua biaya produksi maupun operasional dan ditambah dengan keuntungan yang diharapkan.

 

Anda bisa menentukan franchise fee dan royalty fee pada bisnis franchise menggunakan salah satu dari ketiga cara tersebut. Kalaupun harga yang dihasilkan tidak tepat, Anda juga bisa menggabungkan beberapa metode tersebut. Apapun metode yang Anda gunakan dan berapapun harga yang Anda tetapkan, haruslah pihak franchisee tetap memiliki keuntungan dan bisa mengembalikan modal awal. Anda sebagai pemilik sekaligus pemberi franchise juga harus menerima keuntungan yang bisa dijadikan sebagai passive income dalam bisnis tersebut.

 

Untuk mengembangkan bisnis franchise, Anda pasti melibatkan banyak pihak, karena itulah penghitungan keuangan maupun laporan yang disajikan  tidak sederhana. Untuk menghindari adanya kesalahan penghitungan maupun kerugian yang dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan dari salah satu pihak, maka dibutuhkan sistem pelaporan keuangan yang akurat.

Jurnal software akuntansi online akan memberi jangkauan yang luas terhadap berbagai kebutuhan laporan keuangan bisnis Anda. Dengan Jurnal, Anda juga bisa mengonsultasikan semua masalah keuangan maupun penentuan royalty fee untuk bisnis franchise Anda dengan konsultan ahli keuangan yang telah bekerja sama dengan Jurnal. Untuk info lebih lengkap tentang Jurnal, bisa Anda dapatkan di sini.

Author