Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Window Dressing: Dasar Hukum dan Contohnya

Diperbarui
Ditulis oleh: Author Avatar Adelia Vita
Highlights
  • Window dressing dapat merujuk pada upaya mempercantik portofolio investasi atau manipulasi laporan keuangan yang lebih serius.
  • Dalam akuntansi, window dressing dapat membuat laporan keuangan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya dan bertentangan dengan prinsip representasi tepat.
  • Pada perusahaan publik, praktik ini dapat menimbulkan pelanggaran dan sanksi karena informasi keuangan yang disampaikan kepada publik harus benar dan dapat dipercaya.

Window dressing memiliki dua konteks, yaitu strategi manajer investasi mempercantik portofolio dan manipulasi laporan keuangan perusahaan. Dalam akuntansi, praktik ini bukan sekadar strategi bisnis, tetapi dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan dan melanggar prinsip akuntansi serta ketentuan hukum.

Artikel ini membahas pengertian window dressing, alasan praktik ini dilarang, teknik yang umum digunakan, dampaknya terhadap rasio keuangan, serta contoh kasus di Indonesia.

Apa Itu Window Dressing?

Window dressing merujuk pada dua konteks yang berbeda, meski menggunakan istilah yang sama.

1. Pasar modal dan manajemen portofolio

Window dressing adalah praktik menyesuaikan isi portofolio menjelang akhir periode pelaporan, seperti membeli saham berkinerja baik dan menjual saham berkinerja buruk agar portofolio terlihat lebih menarik.

2. Akuntansi dan laporan keuangan

Window dressing adalah upaya menampilkan kondisi keuangan perusahaan agar terlihat lebih baik daripada keadaan sebenarnya, misalnya melalui manipulasi waktu pengakuan pendapatan dan beban, penilaian aset, atau penyajian informasi keuangan.

Dalam Conceptual Framework for Financial Reporting, IFRS Foundation menyatakan bahwa informasi keuangan yang berguna harus relevan dan memberikan faithful representation, yaitu menggambarkan substansi fenomena ekonomi secara lengkap, netral, dan bebas dari kesalahan material.

Dengan demikian, window dressing dalam laporan keuangan menjadi masalah ketika rekayasa penyajian menyebabkan informasi tidak lagi merepresentasikan kondisi ekonomi perusahaan secara tepat dan dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan.

Window Dressing Bertentangan dengan Karakteristik Kualitatif Representasi Tepat

Window dressing menjadi masalah dalam akuntansi ketika perusahaan sengaja merekayasa informasi keuangan sehingga tidak lagi menggambarkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

Berdasarkan Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan\ yang diadopsi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), informasi keuangan yang berguna harus memiliki karakteristik fundamental berupa relevansi dan representasi tepat (faithful representation). 

Representasi tepat berarti informasi menggambarkan fenomena ekonomi secara lengkap, netral, dan bebas dari kesalahan.

Karena itu, praktik seperti sengaja menggelembungkan pendapatan, menyembunyikan beban, atau memanipulasi nilai aset dapat membuat laporan keuangan tidak lagi merepresentasikan kondisi ekonomi perusahaan secara tepat. 

Dampaknya, informasi yang disajikan dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan dan mengurangi kualitas informasi sebagai dasar pengambilan keputusan.

Baca Juga: Tips Manajemen Keuangan Bisnis Kecil Yang Efektif

Dasar Hukum: Window Dressing dan UU Pasar Modal

Bagi perusahaan publik, window dressing dapat menjadi persoalan hukum jika dilakukan dengan menyajikan informasi yang menyesatkan atau memanipulasi informasi yang wajib disampaikan kepada investor.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal mengatur kewajiban keterbukaan informasi serta melarang tindakan penipuan dan manipulasi yang dapat mempengaruhi perdagangan efek. 

Karena itu, perusahaan publik yang sengaja menyajikan laporan keuangan secara tidak benar dan material dapat berpotensi melanggar ketentuan pasar modal. 

Pengawasan pasar modal dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika ditemukan dugaan pelanggaran, OJK dapat melakukan pemeriksaan dan mengenakan sanksi administratif sesuai kewenangannya. Untuk dugaan tindak pidana, penanganannya dapat dilanjutkan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Dengan demikian, window dressing pada perusahaan publik tidak hanya berisiko menurunkan kualitas laporan keuangan, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi hukum apabila memenuhi unsur pelanggaran peraturan pasar modal.

Baca Juga: Laporan Posisi Keuangan: Pengertian, Jenis, Contoh

Teknik-Teknik Umum Window Dressing dalam Laporan Keuangan

Beberapa bentuk manipulasi yang dapat digunakan untuk membuat kondisi keuangan terlihat lebih baik antara lain:

1. Mempercepat pengakuan pendapatan

Mencatat penjualan sebelum kriteria pengakuan pendapatan terpenuhi agar pendapatan dan laba periode berjalan terlihat lebih tinggi.

2. Menunda pencatatan beban

Menangguhkan pengakuan beban yang seharusnya dicatat pada periode berjalan sehingga laba terlihat lebih besar.

3. Menggelembungkan nilai piutang atau persediaan

Mencatat piutang fiktif atau menilai persediaan secara tidak wajar untuk meningkatkan aset dan memperbaiki rasio keuangan.

4. Memanipulasi posisi utang dan kas menjelang akhir periode

Melakukan transaksi sementara atau pengaturan pendanaan tertentu untuk membuat posisi kas dan rasio likuiditas tampak lebih baik pada tanggal pelaporan.

Baca Juga: 12 Alasan Pentingnya Pembukuan untuk Perusahaan

Contoh Numerik: Dampak Window Dressing terhadap Rasio Keuangan

Untuk melihat dampak window dressing, perhatikan ilustrasi PT Contoh Makmur berikut ini: 

PT Contoh Makmur memiliki aset lancar Rp2 miliar dan liabilitas jangka pendek Rp1,5 miliar.

Sebelum window dressing:

Current Ratio = Rp2 miliar ÷ Rp1,5 miliar = 1,33 kali

Menjelang akhir periode, manajemen mencatat piutang usaha fiktif sebesar Rp500 juta sehingga aset lancar yang dilaporkan menjadi Rp2,5 miliar.

Setelah window dressing:

Current Ratio = Rp2,5 miliar ÷ Rp1,5 miliar = 1,67 kali

Secara angka, likuiditas perusahaan terlihat membaik. Namun, kenaikan tersebut tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya karena berasal dari piutang fiktif. 

Jika kemudian terungkap dan piutang tersebut harus dihapuskan, kondisi keuangan perusahaan dapat kembali memburuk dan kepercayaan investor ikut terdampak.

Baca Juga: 15 Hal Penting Ketika Membuat Pembukuan, Cari Tahu!

Cara Mendeteksi dan Mencegah Window Dressing

Beberapa langkah berikut dapat membantu investor dan pemilik bisnis mendeteksi sekaligus mencegah window dressing:

  1. Bandingkan rasio keuangan antar periode: Lonjakan yang tidak wajar menjelang akhir periode dapat menjadi indikasi yang perlu ditelusuri.
  2. Periksa perubahan kebijakan akuntansi: Perubahan metode penilaian persediaan atau penyusutan yang tiba-tiba perlu disertai alasan dan pengungkapan yang memadai.
  3. Telusuri perubahan kas dan piutang: Pastikan kenaikan saldo didukung transaksi yang valid dan berasal dari aktivitas bisnis yang jelas.
  4. Perkuat pengendalian internal: Terapkan pencatatan yang transparan, pemisahan tugas, dan pemeriksaan berkala untuk mengurangi risiko manipulasi laporan keuangan.

Baca Juga: Kenali Perbedaan Pembukuan dan Pencatatan Dalam Akuntansi

Susun Laporan Keuangan Bisnis Anda Secara Transparan dengan Mekari Jurnal

Laporan keuangan yang transparan dan bebas dari manipulasi dimulai dari pencatatan transaksi yang konsisten sejak hari pertama, bukan hanya “dipoles” menjelang akhir periode pelaporan.

Mekari Jurnal sebagai software akuntansi membantu bisnis mencatat setiap transaksi secara otomatis dan konsisten, sehingga laporan keuangan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kondisi bisnis yang sesungguhnya.

Dengan fitur Pembukuan Mekari Jurnal, Anda dapat:

  • Mencatat transaksi secara otomatis dan terintegrasi ke laporan keuangan, sehingga tidak ada celah untuk memanipulasi angka menjelang akhir periode pelaporan.
  • Menyusun bagan akun (chart of accounts) yang konsisten, mendukung transparansi dan pengendalian internal yang lebih baik dalam pencatatan setiap transaksi.
  • Menghasilkan lebih dari 55 jenis laporan keuangan, manajemen, dan operasional secara real-time, sehingga kondisi keuangan bisnis Anda selalu dapat dipantau apa adanya, bukan hanya menjelang tanggal pelaporan tertentu.
  • Menjaga akurasi data keuangan melalui integrasi bank, sehingga saldo kas dan piutang yang dilaporkan selalu sinkron dengan kondisi sebenarnya.

Kelola laporan keuangan bisnis Anda secara lebih transparan, akurat, dan bebas dari risiko manipulasi dengan Mekari Jurnal!

Coba Gratis Sekarang!

Referensi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), “Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.”

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), “Pengesahan Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan dan Standar Akuntansi Keuangan.”

IFRS Foundation. “Conceptual Framework for Financial Reporting. IFRS Foundation”

FAQ

1. Apa perbedaan window dressing portofolio investasi dan window dressing laporan keuangan?

1. Apa perbedaan window dressing portofolio investasi dan window dressing laporan keuangan?

Window dressing portofolio investasi adalah kebiasaan manajer investasi menyesuaikan komposisi portofolio menjelang akhir periode agar terlihat menarik, sementara window dressing laporan keuangan adalah manipulasi angka akuntansi perusahaan yang jauh lebih serius secara hukum karena menyesatkan pengguna laporan keuangan.

2. Apakah window dressing selalu ilegal?

2. Apakah window dressing selalu ilegal?

Window dressing portofolio investasi umumnya tidak melanggar hukum meski etis dipertanyakan, sedangkan window dressing laporan keuangan yang mengandung unsur kesengajaan menyesatkan pengguna informasi berpotensi melanggar UU Pasar Modal dan standar akuntansi yang berlaku.

3. Apa dasar hukum yang dilanggar ketika perusahaan melakukan window dressing?

3. Apa dasar hukum yang dilanggar ketika perusahaan melakukan window dressing?

Bagi perusahaan publik, window dressing berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, khususnya ketentuan mengenai kewajiban pelaporan dan larangan penipuan atau manipulasi informasi kepada publik.

4. Apa saja teknik umum window dressing dalam laporan keuangan?

4. Apa saja teknik umum window dressing dalam laporan keuangan?

Teknik yang umum digunakan meliputi mempercepat pengakuan pendapatan, menunda pencatatan beban, menggelembungkan nilai piutang atau persediaan, dan melunasi utang jangka pendek secara mendadak menjelang tanggal pelaporan.

5. Bagaimana cara mendeteksi window dressing sebagai investor?

5. Bagaimana cara mendeteksi window dressing sebagai investor?

 Bandingkan tren rasio keuangan dari beberapa periode, perhatikan perubahan kebijakan akuntansi yang mendadak, dan telusuri sumber kenaikan saldo kas atau piutang secara mendetail sebelum mengambil kesimpulan.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami