Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Jurnal Pembelian Aset Tetap: Pengertian, Cara Membuat dan Contoh Pencatatannya dalam Akuntansi

Tayang
Di tulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Setiap pembelian aset jangka panjang perlu dicatat sebagai aset yang dikapitalisasi di nerac, kemudian dialokasikan melalui penyusutan agar laporan keuangan tetap akurat dan tidak menyesatkan laba
  • Biaya pengiriman, pemasangan, hingga uji coba operasional dapat dikapitalisasi agar nilai aset mencerminkan total investasi perusahaan secara nyata
  • Pengelolaan aset tidak berhenti di jurnal pembelian, namun tetap berlanjut ke daftar aset, diberi label fisik, disusutkan secara rutin, dan direkonsiliasi berkala agar siap diaudit dan mendukung keputusan bisnis jangka panjang

Pembelian aset tetap sering kali menjadi transaksi bernilai besar yang berdampak langsung pada struktur neraca, laba rugi, dan keputusan bisnis jangka panjang.

Aset-aset seperti mesin produksi, kendaraan operasional, hingga peralatan kantor bukan sekadar pembelian rutin, namun sudah termasuk investasi jangka panjang yang harus tercatat dengan baik dan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku.

Oleh karena itu, praktisi akuntan harus bisa mencatat pembelian aset tetap dengan benar agar tidak menyebabkan laporan keuangan tidak akurat, salah saji nilai aset, hingga risiko temuan audit.

Berikuta artikel dari Mekari Jurnal akan menjelaskan panduan dalam memahami jurnal pembelian aset tetap secara praktis dan sistematis.

Apa itu Aset Tetap dalam Akuntansi?

Aset tetap atau fixed assets adalah sumber daya berwujud yang perusahaan yang dimanfaatkan dalam operasional harian dan memberikan manfaat ekonomis.

Aset ini mencakup barang berwujud yang umumnya mencakup tanah, bangunan, mesin, kendaraan, serta peralatan kantor.

Mencatat pembelian aset tetap sangat penting dalam praktik akuntansi karena menjadi kunci untuk menentukan:

  • Posisi neraca (kapitalisasi bukan beban langsung)
  • Perhitungan penyusutan yang memengaruhi laba periode berjalan
  • Kepatuhan audit dan pelacakan aset fisik

Apa Itu Jurnal Pembelian Aset Tetap?

Jurnal pembelian aset tetap merupakan entri pencatatan awal yang merekam transaksi saat perusahaan hendak membeli aset jangka panjang.

Berbeda dengan pembelian persediaan, pembelian aset tetap tidak langsung dibebankan ke laporan laba-rugi, melainkan dicatat sebagai aset di neraca dan kemudian disusutkan selama masa manfaatnya.

Sederhananya, akun aset tetap akan termasuk ke dalam debit yang menambah nilai aset, sedangkan pemberian akan masuk ke kredit baik itu tunai (kas/bank) maupun utang usaha (jika kredit).

Baca Juga: Contoh Jurnal Umum Beserta Tahapan Pembuatannya Dalam Akuntansi

Komponen Akun yang Terlibat

Akun-akun yang biasa digunakan dalam jurnal pembelian aset tetap, mencakup:

Komponen Keterangan
Aset Tetap Menampung nilai perolehan aset (harga beli + biaya yang dapat di-capitalize)
Kas/ Bank (Kredit) Jika pembayaran dilakukan tunai atau transfer
Utang Usaha/ Kreditur (Kredit) Jika pembelian dilakukan kredit/tempo
PPN Masukan/ Pajak Dibayar Dimuka (jika berlaku) Pencatatan PPN dipisah jika perusahaan memisahkan akun pajak (kebijakan akuntansi dan peraturan pajak setempat)
Beban-biaya langsung yang dapat dikapitalisasi Biasanya digabung ke nilai aset, contohnya: asuransi pengiriman sampai barang siap dipakai
Akumulasi Penyusutan Untuk pencatatan berikutnya; bukan saat pembelian

Cara Membuat Jurnal Pembelian Aset Tetap

Selanjutnya akan dijelaskan cara membuat jurnal pembelian aset tetap secara praktis.

1. Identifikasi Transaksi

Langkah pertama bisa dilakukan dengan memahami secara utuh transaksi yang terjadi sebelum terjadi sebagai fondasi penilaian aset yang benar dan tidak menimbulkan koreksi di kemudian hari.

Beberapa aspek yang perlu diidentifikasi, mencakup:

  • Jenis aset (mesin, kendaraan, dll.)
  • Tanggal perolehan
  • Harga pembelian (invoice)
  • Biaya tambahan yang diperlukan agar aset siap digunakan (transportasi, pemasangan)
  • Apakah ada PPN atau pajak lain

2. Tentukan Perlakuan Pembayaran

Langkah selanjutnya adalah menentukan mekanisme pembayaran yang digunakan.

Ini penting karena cara pembayaran dapat memengaruhi akun yang dikredit dalam jurnal dan berdampak langsung pada posisi kas dan kewajiban di neraca.

Dalam praktiknya, pembayaran tunai lebih umum digunakan untuk pembelian aset bernilai kecil. Sedangkan pembayaran kredit atau bertahap mencerminkan kewajiban yang harus diselesaikan di masa mendatang.

Baca Juga: Cara Membuat Neraca Saldo Lengkap dengan Contoh, Mudah!

3. Menentukan Apakah Biaya Terkait Dapat Dikapitalisasi

Pencatatan jurnal pembelian aset tetap juga berfungsi mengevaluasi biaya-biaya yang timbul sehubungan dengan perolehan aset.

Tidak semua biaya bisa langsung dibebankan ke laporan laba-rugi, namun harus melalui penilaian apakah biaya tersebut memenuhi kriteria untuk dikapitalisasi sebagai bagian dari nilai aset tetap.

Umumnya, biaya yang dapat dikapitalisasi terbagi menjadi tiga, yaitu biaya yang menambah manfaat ekonomi masa depan, biaya yang diperlukan agar aset siap digunakan, serta biaya yang bersifat pemeliharaan rutin.

4. Membuat Jurnal Akuntansi Pembelian Aset Tetap

Setelah seluruh informasi transaksi dikonfirmasi dan perlakuan akuntansinya ditentukan, maka Anda sudah bisa memulai penyusunan jurnal akuntansi pembelian aset tetap.

Jurnal ini akan menjadi dasar pencatatan awal aset di sistem pembukuan, kemudian akan memengaruhi neraca dan perhitungan penyusutan di periode yang mendatang.

Prinsip dasar pembelian aset tetap adalah selalu menambah nilai aset perusahaan sehingga akun aset tetap didebit, sementara akun yang dikredit mencerminkan sumber pendanaan pembelian tersebut.

Apabila transaksi pembelian aset tetap tidak melibatkan PPN atau pajak diperlakukan sebagai bagian dari nilai perolehan aset, maka pencatatan jurnal dilakukan secara sederhana

Namun, dalam praktik bisnis di Indonesia, pembelian aset tetap sering kali dikenakan PPN. Jika perusahaan memisahkan pencatatan PPN sesuai kebijakan akuntansi dan ketentuan perpajakan, maka jurnal disusun dengan tiga komponen akun.

Nilai aset tetap dicatat sebesar harga bersih sebelum PPN, sementara PPN dicatat secara terpisah pada akun PPN Masukan. Akun Kas/Bank atau Utang Usaha dikredit sebesar total pembayaran termasuk PPN.

Pemisahan ini penting untuk memudahkan pelaporan pajak, rekonsiliasi PPN, serta memastikan bahwa nilai aset tetap tidak tercampur dengan komponen pajak yang bersifat sementara dan dapat dikreditkan.

Baca Juga: 5 Metode Penyusutan Aktiva Tetap dan Pencatatan Jurnal

Contoh Jurnal Pembelian Aset Tetap

Biasanya jurnal pembelian aset tetap akan terbentuk berdasarkan contoh format berikut:

Studi Kasus Pembelian Motor Operasional

Sebuah perusahaan ingin membeli aset tetap berupa motor untuk operasional bisnis sebesar Rp40.000.000 dengan cara kredit selama 1 tahun, uang muka sebesar 20%, bunga 10% setahun, dan angsuran dibayar sebesar 1.500.000 setiap bulan tanggal 12.

Untuk jurnal pembelian aset tetap, akan terlihat sebagai berikut:

Tanggal Akun Deskripsi Debet Kredit
6 Jan 26 Uang muka DP Pembelian motor operasional 8.000.000
Kas/ Bank 8.000.000
12 Jan 26 Aset tetap motor 40.000.000
Hutang leasing 32.000.000
Uang muka 8.000.000
12 Jan 26 Hutang leasing 1.166.667
Beban bunga 333.333
Kas/ Bank 1.500.000
49.500.000 49.500.000

Baca Juga: Pencatatan Jurnal Pembelian dan Penjualan Perusahaan Dagang

Kesalahan Umum dalam Pencatatan Aset Tetap

Kesalahan yang terlihat kecil pada tahap awal bisa memberikan dampak besar pada laporan keuangan, perhitungan pajak, dan hasil audit di akhir pencatatan.

Untuk meminimalisir dan menghilangkan risiko tersebut, Anda harus jeli untuk memperhatikan beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam mencatat aset tetap, misalnya:

  1. Mencatat pembelian aset tetap sebagai beban operasional, hindari dengan memiliki kebijakan kapitalisasi yang jelas, seperti memiliki batas minimal nilai aset yang harus dicatat sebagai aset tetap
  2. Tidak memasukkan biaya yang dapat dikapitalisasi ke nilai aset, hindari dengan mengevaluasi biaya perolehan secara menyeluruh sejak awal transaksi
  3. Mengkapitalisasi biaya yang seharusnya dibebankan, ini membuat nilai aset menjadi terlalu tinggi dan menunda pengakuan beban yang seharusnya diakui pada periode berjalan
  4. Kesalahan dalam penentuan masa manfaat dan metode penyusutan, sebaiknya didasarkan pada kebijakan akuntansi yang selaras dengan standar akuntansi dan kondisi operasional aset
  5. Kesalahan dalam perlakuan PPN dan pajak terkait, diperlukan konsistensi kebijakan pencatatan pajak dan koordinasi antara fungsi akuntansi dan pajak

Langkah Selanjutnya Setelah Mencatat Jurnal Pembelian

Selanjutnya, setelah pembelian aset tetap berhasil dicatat adalah mengelola aset agar nilai, keberadaan, dan dampaknya pada laporan keuangan masih tetap terkontrol.

Mulailah dengan:

1. Membuat Daftar Aset Tetap

Setelah aset tercatat di jurnal, aset bisa dimasukkan ke dalam daftar aset tetap agar perusahaan mengetahui apa saja aset yang dimiliki, di mana lokasinya, dan berapa nilainya di pembukuan.

2. Memberi Tanda Fisik pada Aset

Berikan label atau nomor aset secara fisik agar aset yang tercatat di pembukuan benar-benar terlihat secara fisik dan mudah dikenali pada saat audit.

Contohnya, berikan informasi seperti kode aset: FA-001, terletak di kantor pusat, dan tambahkan foto aset sebagai dokumentasi.

3. Menentukan Metode dan Masa Manfaat Penyusutan

Aset tetap tidak tercatat sebagai beban langsung, namun dibebankan secara bertahap melalui penyusutan.

Ketika memasuki tahap ini, mulai tentukan:

  • Masa manfaat, misalnya berapa lama aset dipakai (misalnya 4, 5, atau 8 tahun)
  • Metode penyusutan, misalnya cara membagi beban (seperti garis lurus atau straight-line)

4. Menjadwalkan Pencatatan Penyusutan

Setelah metode dan masa manfaat ditentukan, penyusutan harus dicatat secara rutin. Tujuannya agar laporan laba rugi dan neraca selalu mencerminkan nilai aset yang sebenarnya dari waktu ke waktu.

Lakukan hal ini setiap bulan atau setiap akhir tahun, dengan jurnal penyusutan yang selalu sama, yaitu debit untuk beban penyusutan adn kredit untuk akumulasi penyusutan.

Baca Juga: Penyusutan Inventaris (Inventory Shrinkage): Penyebab, Rumus, dan Contoh

5. Melakukan Pengecekan Berkala

Lakukan rekonsiliasi aset secara berkala dengan membandingkan daftar aset tetap dengan kondisi aset yang benar-benar ada di lapangan.

Terapkan evaluasi singkat dengan menilai berdasarkan beberapa pertanyaan umum, seperti:

  • Apakah aset masih ada?
  • Apakah masih digunakan?
  • Apakah rusak atau sudah tidak dipakai?

Kesimpulan

Pencatatan jurnal pembelian aset tetap harus diterapkan secara konsisten karena merupakan fondasi penting bagi pengelolaan keuangan perusahaan.

Semakin banyak aset yang dikelola, semakin besar pula risiko kesalahan pencatatan jika proses dilakukan secara manual.

Di sinilah peran software akuntansi terintegrasi seperti Mekari Jurnal hadir untuk mengelola pencatatan aset tetap dengan lebih mudah, konsisten, dan andal.

Dengan pencatatan otomatis, perhitungan penyusutan yang konsisten, hingga integrasi langsung ke neraca dan laporan keuangan secara real-time, Mekari Jurnal menjadi solusi tepat untuk efisiensi operasional sehari-hari. Coba gratis sekarang!

Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

Scribd, “Fixed Asset Accounting.: Purchase Depreciation Sale Reveluation”.

Youtube, “Cara membuat jurnal pembelian aset tetap dengan cash/Kas dan kredit”.

Businessecon, “Bookkeeping – Fixed Asset Purchases (Lesson 49)”.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami