Kenali Manajemen Krisis Perusahaan di Tengah Wabah

Penyebaran virus Corona atau COVID-19 merupakan krisis bagi setiap organisasi. Baik organisasi perusahaan atau organisasi non–perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus mempersiapkan metode dan strategi agar krisis tidak menjadi halangan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Istilah seperti ini disebut dengan manajemen krisis.

Apa itu Manajemen Krisis

Sebelum mengetahui manajemen krisis, Anda perlu mengetahui apa itu krisis dan bagaimana itu bisa terjadi.

Krisis dalam Keadaan yang sangat membahayakan yang dapat menimbulkan dampak besar bagi semua orang. Krisis dapat meliputi:

  1. Wabah
  2. Bencana alam
  3. Teknologi
  4. Manajemen yang buruk
  5. Terorisme
  6. Peperangan
  7. Kelangkaan.

Sedangkan manajemen krisis dapat diartikan sebagai proses yang membahas organisasi dengan sebuah peristiwa besar yang mengancam merugikan organisasi, Pemangku kepentingan, atau masyarakat umum. Ada tiga elemen yang paling umum untuk mendefinisi krisis: ancaman bagi organisasi, unsur kejutan, dan keputusan waktu singkat. 

Berbeda dengan manajemen risiko, yang melibatkan menilai potensi ancaman dan menemukan cara terbaik untuk menghindari ancaman. Sementara manajemen krisis berurusan dengan ancaman yang telah terjadi. 

Dalam manajemen krisis terdapat komunikasi krisis. Komunikasi krisis merupakan kunci keberhasilan dari manajemen krisis itu sendiri. Kondisi krisis harus dapat tersampaikan pada semua elemen yaitu masyarakat, konsumen, dan juga karyawan dari perusahaan itu sendiri. Contohnya ketika ada wabah Corona, Perusahaan harus mampu memberikan informasi terkait regulasi kerja di saat wabah dan juga langkah-langkah agar tidak terjangkit virus.

Situasi Krisis

Menurut Djamaluddin Ancok, Profesor manajemen dan psikologi Universitas Gadjah Mada menjelaskan, jika dipandang melalui kacamata bisnis, krisis akan menimbulkan hal-hal berikut.

  1. Intensitas masalah akan semakin besar.
  2. Masalah bisa saja disoroti oleh publik.
  3. Masalah akan mengganggu kelancaran bisnis sehari-hari.
  4. Masalah akan mengganggu nama baik dan citra perusahaan.
  5. Masalah dapat merusak sistem kerja perusahaan secara keseluruhan.
  6. Masalah akan mempengaruhi pola sosial masyarakat.
  7. Pemerintah dapat melakukan intervensi.

Krisis sejatinya adalah katalis bagi semua orang terutama perusahaan untuk menjadi lebih baik. Misalnya saja di saat krisis virus Corona saat ini. Hal ini tentu memicu perusahaan untuk melakukan transformasi digital dan mempercepat perubahan industri. Seperti belajar dan bekerja di rumah yang akan menjadi kebiasaan setelah virus corona mereda.

Baca juga: Tips agar Bisnis UKM Mampu Bertahan di Masa Pandemi Corona

Analisis Tahapan Krisis

Tahapan krisis terbagi menjadi tiga tahapan yaitu prodromal atau gejala krisis, kedua akut, ketiga kronis, dan yang terakhir adalah penyembuhan. Berikut poin lengkapnya.

Prodromal atau Gejala Krisis

Pada tahap ini segala kejadian atau sinyal krisis sudah mulai nampak namun perusahaan tetap melakukan aktivitas seperti biasa. JIka perusahaan tidak bisa menangkap sinyal ini dengan tidak menerapkan manajemen krisis, maka akan memiliki dampak besar pada tahapan berikutnya. 

Contoh ketika saat itu virus Corona sudah menyebar di berbagai negara namun Indonesia belum berdampak. Hal itu menjadi sinyal bagi perusahaan untuk mempersiapkan strategi apabila virus itu memasuki Indonesia agar pada tahapan selanjutnya, perusahaan bisa bertahan.

Akut

Pada tahap ini sebenarnya krisis belum begitu kentara namun sudah mulai dirasakan pelan-pelan oleh perusahaan. Pada tahap ini terlahir juga istilah the point of no return artinya perusahaan tidak memiliki kesempatan untuk kembali memperbaiki keadaan apabila sinyal pada proses prodromal tidak diindahkan dengan melakukan manajemen krisis yang baik.

Contoh yaitu ketika sudah ada orang yang terjangkit Corona, perusahaan tetap menjalankan perusahaannya seperti biasa dan menyiapkan skenario untuk melakukan alternatif pekerjaan misalnya saja work from home.

Kronis

Pada tahap ini sudah muncul intervensi pemerintah dan mempengaruhi seluruh proses bisnis secara keseluruhan karena perusahaan sudah berdampak terhadap krisis. Pada tahap ini lah perusahaan menerapkan kebijakan strategis agar bisnis tetap bisa berjalan.

Contohnya, Ketika suatu saat nanti Jakarta dan Indonesia benar-benar lockdown sehingga dapat mempengaruhi aktivitas bisnis secara keseluruhan seperti supply chain dan juga kegiatan ekspor atau impor.

Penyembuhan

Tahap terakhir dari krisis. Perusahaan akan mulai berbenah dan mengatur kembali cara kerja dan tatanan sumber daya manusia. Namun pada masa ini perusahaan juga mulai beradaptasi dengan kondisi semua apabila perusahaan mengalami krisis yang cukup panjang.

Perencanaan Manajemen Krisis

Dalam merancang manajemen krisis, Perusahaan harus melakukan dalam tiga langkah strategis sesuai dengan situasi krisis yang sedang berjalan yaitu:

Pre-crisis

Pada fase ini menitikberatkan pada pencegahan dan persiapan. Perusahaan harus merancang strategi dengan mengidentifikasi ancaman krisis dan peluangnya. Perusahaan juga harus mampu menganalisis SWOT perusahaan dalam menghadapi krisis. Persiapan strategi juga dibuat dalam jangka panjang.

Setelah melakukan analisis, perusahaan perlu menerapkan program-program strategis dalam menghadapi krisis misalnya; pengurangan karyawan, kerja dari rumah, atau menyediakan fasilitas kesehatan bagi karyawan.

Crisis Response

Pada tahap ini perusahaan perlu membuat kebijakan terhadap arah bisnis. Perusahaan juga harus menentukan tools yang digunakan untuk merespon krisis. Salah satu dalam melakukan crisis response adalah memberdayakan sistem informasi seperti software HR untuk memudahkan work from home atau software akuntansi untuk pemantauan dan pendistribusian laporan keuangan secara remote.

Baca juga: Risiko UKM Tak Gunakan Cloud dalam Berbisnis di Tengah Wabah Corona

Post-Crisis

Hal ini terjadi ketika krisis sudah selesai. Perusahaan harus berkomitmen terhadap proses penanggulangan krisis yang terjadi. Perusahaan juga mengevaluasi apakah cara kerja  yang digunakan selama krisis efektif atau tidak sehingga jika terjadi krisis lagi perusahaan dapat lebih mempersiapkan diri menjadi lebih baik.

Itulah penjelasan singkat mengenai manajemen krisis. Sempat disinggung pada poin crisis response, perusahaan dalam menghadapi krisis harus mampu memberdayakan sistem informasi seperti software, salah satunya adalah menggunakan software akuntansi. Selain sebagai alat untuk menghadapi krisis, software akuntansi juga mempermudah Anda dalam mengatur dan mengontrol bisnis Anda secara mudah dan dapat diakses dimanapun. Jurnal menjadi software akuntansi terbaik saat ini dalam memberikan kemudahan Anda dalam mengelola keuangan bisnis Anda.

Cari tahu selengkapnya mengenai produk Jurnal di website Jurnal atau isi formulir berikut ini untuk mencoba demo gratis Jurnal secara langsung. Cukup ketuk banner di bawah ini untuk mendapatkan promo kesempatan bonus berlangganan Jurnal selama 60 hari dan diskon 35% (Min subscribe 12 bulan). Salam sehat dan produktif selalu!CTA

 


PUBLISHED30 Mar 2020
Hafidh
Hafidh

SHARE THIS ARTICLE: