Cara Membuat Laporan Laba Rugi untuk Bisnis Franchise

Bisnis franchise atau bisnis waralaba adalah salah satu bisnis yang berkembang dengan pesat di Indonesia. Banyak orang memilih untuk memulai usaha dengan menggeluti bisnis franchise karena dianggap lebih mudah dilakukan dibandingkan harus memulai bisnis sendiri. Namun, Anda haru memahami cara membuat laporan laba rugi agar dapat memperoleh keuntungan dengan cepat. 

Pengertian dari kata franchise sendiri adalah hubungan kerja sama yang salah satu pihaknya diberikan hak untuk memanfaatkan dan menggunakan hak kekayaan intelektual (HAKI) dari pihak yang lainnya. HAKI tersebut bisa berupa ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain maupun merek dari produk tersebut.

Sebagai timbal baliknya, pihak yang memiliki HAKI mendapatkan imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh mereka. Keuntungan yang didapat oleh pihak pemilik HAKI tersebut adalah imbalan atas penggunaan HAKI mereka. Semakin banyak yang menggunakan, maka semakin banyak juga keuntungan yang mereka dapatkan.

Sama seperti bisnis yang lain, bisnis franchise atau waralaba juga perlu membuat laporan keuangan setiap periode akuntansi. Salah satunya adalah laporan laba rugi. Laporan laba rugi memang laporan yang cukup penting bagi pemilik bisnis franchise. Dari laporan laba rugi tersebut bisa dilihat apakah kondisi keuangan bisnis sehat atau tidak.

Laporan Laba Rugi Bisnis Franchise

Dalam bisnis franchise, laporan laba rugi yang dibuat oleh perusahaan ada sedikit yang berbeda dari bisnis yang lainnya. Laporan laba rugi bisnis franchise bergantung kepada bagaimana kondisi laporan keuangan franchisee atau orang atau badan usaha yang memperoleh hak mereproduksi konsep bisnis franchisor.

Semakin suksesnya bisnis yang dijalankan oleh franchisee, maka semakin tinggi pula pemasukan dan keuntungan dari bisnis franchise tersebut. Maka dari itu, franchisee diharapkan bisa meningkatkan omzet agar bisnis franchise bisa mendapatkan royalti yang bagus juga.

Lalu apa saja yang perlu diperhatikan pada laporan laba rugi saat ingin membuka bisnis franchise atau waralaba. Berikut adalah poin poin yang perlu Anda perhatikan:

Persediaan Barang Dagangan

Dalam bisnis franchise, barang dagangan selalu dipasok oleh franchisor. Jika barang dagangan tersebut adalah barang jadi, maka proses ini akan lebih mudah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika barang dagangan tersebut harus diolah terlebih dahulu. Misalnya seperti makanan atau minuman.

Penting untuk franchisee mengetahui apakah stok selalu dipasok oleh mereka atau diperbolehkan mengambil dari supplier lain. Hal ini juga perlu ditulis dengan jelas dalam laporan keuangan. Berapa jumlah dan nilai dari pasokan tersebut agar tidak terjadi kesalahan perhitungan.

Baca Juga: Kenali Jenis-jenis Aplikasi Pendukung agar Bisnis Franchise Anda Sukses

Piutang Dagang

Dalam bisnis franchise, piutang dagang biasanya relatif kecil atau bahkan nihil. Sehingga dengan tingkat pengembalian yang cepat maka perusahaan mendapatkan sumber dana kembali.

 

Aktiva Tetap

Aktiva merupakan komponen yang paling besar dalam neraca perusahaan. Apalagi jika lokasi dan bangunan dimiliki oleh pemilik bisnis sendiri. Begitu juga dengan furniture serta peralatan kantor.

 

Utang Lancar

Untuk komponen ini, isinya adalah utang dagang dan utang bank. Utang dagang biasanya muncul karena pola pembayaran pengadaan barang berjangka lebih besar dari term of payment. Akan tetapi hal ini biasanya telah diatur sesuai dengan perjanjian yang disepakati kedua pihak.

Baca Juga: Aturan Hukum yang Perlu Dipahami Pelaku Bisnis Franchise

Modal 

Biaya modal untuk bisnis franchise atau waralaba di Indonesia berkisar antara 10 juta hingga 400 juta rupiah.

 

Komponen Biaya

Merupakan biaya-biaya yang spesifik dikeluarkan karena karena adanya bisnis franchise ini. Misalnya seperti royalti fee, advertising fee, dan management fee.

 

Margin (Tingkat Keuntungan)

Bisnis franchise memiliki tingkat return dan profit yang relatif lebih tinggi. Sehingga modal awal yang tinggi biasanya bisa dengan cepat dapat tertutup.

Agar bisnis tetap bisa berjalan lancar, laporan keuangan harus dibuat seakurat mungkin. Dengan demikian, akan lebih mudah untuk Anda menggunakan aplikasi akuntansi dalam hal pengelolaan akuntansi perusahaan. Salah satu contohnya adalah Jurnal. Dengan Jurnal, proses pengelolaan keuangan bisa menjadi lebih akurat.

Software Jurnal by Mekari dapat mempermudah Anda dalam mengelola keuangan bisnis dengan tersedianya berbagai fitur, seperti laporan keuangan, persediaan barang, rekonsiliasi transaksi, termasuk pula pencatatan faktur pembelian dan pembayaran.

Dengan menggunakan aplikasi accounting online Jurnal by Mekari, Anda bisa menghemat biaya, waktu, dan energi karena data keuangan bisnis diproses dengan baik.

Pada Oktober ini, dapatkan promo diskon hingga 20% dan Cashback mencapai Rp1,5 juta bagi yang berlangganan Jurnal Paket Enterprise+ minimal 24 bulan. Tak hanya itu, Anda juga berhak mendapat diskon 20% dan cashback hingga Rp1 juta jika berlangganan Paket Pro minimal 24 bulan.

Untuk info selengkapnya, Anda bisa mengunjungi website Jurnal atau mencoba demo gratis selama 14 hari dengan mengetuk banner di bawah ini.


PUBLISHED06 Oct 2020
Lavinda
Lavinda


Kategori : Accounting