Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
7 min read

Biaya Diskresioner dalam Akuntansi: Cara Mengelolanya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Angela Amanda
Mekari Jurnal Insight

  • Biaya diskresioner tidak muncul sebagai pos tersendiri di laporan keuangan. Ia tersebar di beban penjualan serta beban umum dan administrasi.
  • Menurut PSAK 238, iklan dan pelatihan dibebankan saat jasa diterima, bukan dicatat sebagai aset.
  • Mekari Jurnal melalui fitur anggaran dan biaya dapat mengelola plafon, approval, dan realisasi pos diskresioner bisa dipantau per proyek.

Diskresioner adalah sifat keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan sendiri. Dalam akuntansi, biaya diskresioner berarti biaya yang besarnya ditentukan kebijakan manajemen, bukan oleh volume produksi atau kontrak. Contohnya iklan, pelatihan, dan riset produk. Pos ini paling cepat disesuaikan saat target berubah. 

Survei Gartner mencatat 42% CFO menargetkan penghematan biaya operasional 3 hingga 5% pada 2026, terutama lewat disiplin beban penjualan dan administrasi.

Artikel ini membahas cara mengenali, mencatat, dan mengendalikan biaya diskresioner.

Memahami Diskresioner dalam Beberapa Konteks

Arti diskresioner secara umum

Kata diskresioner berasal dari “diskresi”. KBBI mengartikan diskresi sebagai kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi. 

Jadi sesuatu yang bersifat diskresioner, artinya bergantung pada pertimbangan pihak tertentu.

Pengertian biaya diskresioner dalam akuntansi

Biaya diskresioner (discretionary cost) adalah biaya yang jumlahnya ditetapkan melalui keputusan manajemen untuk satu periode anggaran. Besarnya tidak ditentukan oleh jumlah unit yang diproduksi, dan tidak terikat kontrak jangka panjang.

Literatur akuntansi manajemen seperti Managerial Accounting karya Garrison, Noreen, dan Brewer juga menyebut discretionary cost sebagai managed fixed cost. 

Disebut biaya tetap karena jumlahnya tidak bergerak mengikuti volume. Disebut “managed” karena manajemen bisa menaikkan, menurunkan, atau menghentikannya pada siklus anggaran berikutnya.

Perlu dicatat, diskresioner tidak sama dengan “tidak penting”. Iklan dan riset justru sering menjadi mesin pertumbuhan. Yang membedakan adalah fleksibilitasnya. Bisnis tetap bisa beroperasi dalam jangka pendek walau pos ini dikurangi.

Ciri-Ciri Biaya Diskresioner

Agar lebih mudah membedakan biaya diskresioner dan kategori biaya lainnya, Anda bisa melihatnya melalui ciri-ciri berikut:

  • Ditetapkan per periode anggaran: umumnya diputuskan setahun sekali dan bisa direvisi di tengah tahun.
  • Tidak ada hubungan input-output yang pasti: menambah anggaran pelatihan 10% tidak otomatis menaikkan produktivitas 10%.
  • Bisa ditunda atau dikurangi: menghentikannya tidak langsung menghentikan operasi harian.
  • Manfaatnya tertunda: hasil iklan atau riset sering baru terlihat di periode berikutnya.
  • Tidak bergantung volume produksi: jumlahnya tetap sesuai plafon walau penjualan naik atau turun.

Contoh Biaya Diskresioner dalam Bisnis

Seperti yang disampaikan di awal, biaya diskresioner bukan berarti tidak penting; perbedaannya ada pada fleksibilitasnya.

Beberapa contoh biaya diskresioner dalam bisnis yang umumnya masuk pada ciri-ciri di atas bisa ditemukan dalam:

  • Iklan dan promosi: kampanye digital, iklan media, materi promosi.
  • Pelatihan dan pengembangan karyawan: workshop, sertifikasi, program kepemimpinan.
  • Riset dan pengembangan: uji produk baru, riset pasar, pengembangan resep atau fitur.
  • Sponsorship dan donasi: program CSR, sponsor acara komunitas.
  • Bonus dan tunjangan tidak wajib: bonus kinerja di luar kontrak, outing kantor.
  • Jasa konsultan dan kontraktor proyek: konsultan strategi, desain ulang merek.
  • Perbaikan fasilitas nonesensial: renovasi ruang kerja, pembaruan interior.

Klasifikasi ini bergantung konteks dan kebijakan perusahaan. Bagi perusahaan jasa pelatihan, biaya instruktur adalah biaya inti, bukan diskresioner. Karena itu, tiap bisnis perlu menetapkan daftar pos diskresionernya sendiri.

Posisi & Perlakuan Biaya Diskresioner dalam Akuntansi

Posisi biaya diskresioner di laporan laba rugi

Biaya diskresioner adalah klasifikasi akuntansi manajemen, bukan pos laporan keuangan. PSAK 201 tentang Penyajian Laporan Keuangan (sebelumnya PSAK 1) meminta entitas menyajikan analisis beban berdasarkan sifat atau fungsinya.

Akibatnya, biaya diskresioner di laba rugi tersebar di beberapa pos, seperti:

  • Iklan masuk beban penjualan
  • Pelatihan dan konsultan masuk beban umum dan administrasi

Karena itu, tim keuangan perlu penanda tambahan, seperti akun terpisah atau tag, agar total biaya diskresioner bisa dilacak.

Ada kekeliruan yang sering muncul: biaya diskresioner disebut “diperhitungkan dalam neraca”. Pencatatan yang tepat, biaya yang sudah terjadi diakui sebagai beban di laba rugi. Hanya uang muka untuk jasa yang belum diterima yang tampil di neraca sebagai aset.

Perlakuan pengakuan menurut PSAK 238

PSAK 238 tentang Aset Takberwujud (sebelumnya PSAK 19) mengadopsi IAS 38. Standar ini mengatur beberapa biaya diskresioner yang paling umum:

  • Iklan dan promosi: diakui sebagai beban saat terjadi, yaitu saat barang atau jasa diterima. Ketentuan ini tertuang di IAS 38 paragraf 69(c).
  • Pelatihan karyawan: juga dibebankan saat terjadi, tidak boleh dikapitalisasi sebagai aset.
  • Uang muka: jika dibayar sebelum jasa diterima, dicatat sebagai aset (beban dibayar di muka) sampai jasanya diterima.
  • Riset dan pengembangan: IAS 38 membebankan pengeluaran fase riset. Pengeluaran fase pengembangan dapat diakui sebagai aset takberwujud jika memenuhi kriteria tertentu.

Biaya diskresioner dalam akuntansi manajemen

Dalam sistem pengendalian manajemen, Anthony dan Govindarajan membedakan:

  • Pusat biaya terekayasa (engineered expense center)
  • Pusat biaya diskresioner (discretionary expense center). 

Di pusat biaya terekayasa, hubungan input dan output bisa diukur, misalnya bahan baku per unit produk.

Di pusat biaya diskresioner, hubungan itu tidak bisa diukur secara pasti. Contohnya divisi pemasaran, HR, dan riset. Karena itu, kinerjanya dinilai dari kepatuhan terhadap plafon anggaran dan pencapaian target program, bukan efisiensi per unit.

Istilah terkait: akrual diskresioner

Dalam riset akuntansi, dikenal juga istilah akrual diskresioner (discretionary accruals). Istilah ini merujuk pada bagian akrual yang dipengaruhi pilihan kebijakan manajemen, dan sering dipakai untuk mendeteksi manajemen laba. 

Konsepnya berbeda dari biaya diskresioner, walau sama-sama berangkat dari makna “keputusan manajemen”.

Rumus Rasio Biaya Diskresioner

Untuk mengukur seberapa besar porsi biaya diskresioner terhadap pendapatan, gunakan rumus berikut:

Rasio Biaya Diskresioner = (Total Biaya Diskresioner ÷ Pendapatan) × 100%

Cara membacanya:

  • Rasio naik dari periode ke periode: belanja diskresioner tumbuh lebih cepat dari pendapatan. Periksa apakah hasil programnya sepadan.
  • Rasio turun tajam: bisa berarti efisiensi, tapi juga bisa tanda investasi pertumbuhan dipangkas terlalu dalam.
  • Rasio dibandingkan dengan anggaran: menunjukkan disiplin eksekusi terhadap plafon yang disepakati.

Perbedaan Biaya Diskresioner, Biaya Tetap Terikat, dan Biaya Terekayasa

AspekBiaya DiskresionerBiaya Tetap TerikatBiaya Terekayasa
Dasar penentuanKeputusan manajemen per periodeKontrak atau keputusan investasi jangka panjangHubungan teknis input dan output
Horizon keputusanPendek, umumnya satu tahunPanjang, lebih dari satu tahunMengikuti volume aktivitas
FleksibilitasTinggi, bisa dikurangi cepatRendah, sulit diubah tanpa restrukturisasiOtomatis berubah sesuai volume
ContohIklan, pelatihan, riset, sponsorshipSewa, penyusutan, gaji tetap, asuransiBahan baku, kemasan, komisi per unit
Cara evaluasiKepatuhan plafon dan hasil programUtilisasi kapasitasEfisiensi biaya per unit

Poin pentingnya, memangkas biaya terikat butuh waktu dan biaya keluar, sedangkan biaya terekayasa akan turun sendiri saat volume turun. Pos diskresioner adalah tempat manajemen punya kendali langsung.

Cara Mengelola Biaya Diskresioner

Untuk memastikan biaya diskresioner tetap terkendali dan efisien, perusahaan dapat menerapkan beberapa langkah strategis berikut:

  • Pisahkan akun atau beri tag khusus: agar total biaya diskresioner bisa ditarik kapan saja tanpa rekap manual.
  • Terapkan zero-based budgeting untuk pos diskresioner: Deloitte menjelaskan bahwa pendekatan ini mengalokasikan dana berdasarkan efisiensi dan kebutuhan program, bukan histori anggaran tahun lalu.
  • Tetapkan KPI per program: misalnya biaya per akuisisi pelanggan untuk iklan, atau skor kompetensi untuk pelatihan.
  • Gunakan approval berjenjang: transaksi di atas plafon tertentu wajib disetujui sebelum dijalankan.
  • Bandingkan anggaran dan realisasi tiap bulan: jangan menunggu tutup buku akhir tahun.
  • Pangkas secara selektif, bukan rata: Gartner mencatat CFO kini memilih penghematan bertahap yang tetap menjaga kapabilitas penting, alih-alih pemotongan menyeluruh.

Kelola Biaya Diskresioner Lebih Terkendali dengan Mekari Jurnal

Biaya diskresioner memberi manajemen ruang gerak saat target berubah. Namun ruang gerak itu hanya berguna jika setiap pos tercatat terpisah, dibandingkan dengan anggarannya, dan dipantau tanpa menunggu akhir periode.

Fitur biaya dan anggaran Mekari Jurnal membantu Anda melakukannya:

  • Anggaran bulanan otomatis: susun plafon per periode sehingga biaya operasional terkendali dan arus kas terjaga.
  • Approval transaksi: hanya draft transaksi yang Anda setujui yang berjalan, sehingga pengeluaran di luar plafon bisa dicegah sejak awal.
  • Laporan anggaran vs transaksi real: bandingkan realisasi setiap pos diskresioner dengan anggarannya.
  • Tagging per proyek atau program: kelompokkan transaksi, misalnya “Kampanye Mei” atau “Pelatihan QC”, untuk menganalisis biaya dan anggaran setiap program.
  • Opsi pencatatan fleksibel: catat biaya langsung lunas atau sebagai utang, lengkap dengan transaksi berulang untuk biaya rutin.
  • Dasbor ringkas: lihat total biaya per bulan hingga biaya yang belum dibayar.
  • Integrasi Mekari Expense: rekap pengeluaran karyawan masuk otomatis ke pembukuan.

Referensi

  • Anthony, R. N., & Govindarajan, V. Management Control Systems. McGraw-Hill.
  • Deloitte. Zero-Based Budgeting.
  • Garrison, R. H., Noreen, E. W., & Brewer, P. C. Managerial Accounting. McGraw-Hill.
  • Gartner. Gartner Survey Shows Top Priorities for CFOs in 2026.
  • Gartner. Gartner Survey Shows CFOs Are Trimming Overhead in 2026.

FAQ

1. Apa arti diskresioner?

1. Apa arti diskresioner?

Diskresioner artinya bergantung pada keputusan atau pertimbangan pihak yang berwenang. Kata ini berasal dari “diskresi”, yang menurut KBBI berarti kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi.

2. Apa yang dimaksud biaya diskresioner?

2. Apa yang dimaksud biaya diskresioner?

Biaya diskresioner adalah biaya yang besarnya ditetapkan melalui keputusan manajemen per periode anggaran. Besarnya tidak ditentukan volume produksi atau kontrak jangka panjang.

3. Apa saja contoh biaya diskresioner?

3. Apa saja contoh biaya diskresioner?

Contohnya iklan dan promosi, pelatihan karyawan, riset dan pengembangan, sponsorship, donasi, bonus tidak wajib, dan jasa konsultan proyek.

4. Apakah biaya diskresioner termasuk biaya tetap?

4. Apakah biaya diskresioner termasuk biaya tetap?

Ya. Biaya diskresioner umumnya digolongkan sebagai biaya tetap karena jumlahnya tidak mengikuti volume produksi. Bedanya dengan biaya tetap terikat, manajemen bisa mengubahnya dalam waktu singkat.

5. Di mana biaya diskresioner dicatat dalam laporan keuangan?

5. Di mana biaya diskresioner dicatat dalam laporan keuangan?

Biaya diskresioner diakui sebagai beban di laporan laba rugi, tersebar di beban penjualan serta beban umum dan administrasi sesuai PSAK 201. Uang muka untuk jasa yang belum diterima dicatat di neraca sebagai aset.

6. Apa perbedaan biaya diskresioner dan biaya tetap terikat?

6. Apa perbedaan biaya diskresioner dan biaya tetap terikat?

Biaya diskresioner diputuskan per periode dan bisa dikurangi cepat. Biaya tetap terikat berasal dari kontrak atau investasi jangka panjang, seperti sewa dan penyusutan, sehingga sulit diubah tanpa restrukturisasi.

7. Bagaimana cara mengontrol biaya diskresioner?

7. Bagaimana cara mengontrol biaya diskresioner?

Pisahkan akun atau beri tag khusus, tetapkan plafon dan KPI per program, gunakan approval berjenjang, serta bandingkan anggaran dengan realisasi setiap bulan menggunakan aplikasi seperti Mekari Jurnal.

Kategori : Cost Accounting

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami