Amortisasi: Pengertian, Rumus Amortisasi, Cara Menghitung dan Contoh dalam Akuntansi Bisnis Highlights Amortisasi membantu perusahaan dalam mengalokasikan biaya aset tak berwujud dan kewajiban jangka panjang secara sistematis sesuai prinsip akuntansi akrual Amortisasi aset tak berwujud berfokus pada pengakuan beban non-kas atas hak ekonomi perusahaan, sedangkan amortisasi utang mengatur struktur pembayaran cicilan yang mencakup bunga dan pokok untuk menjaga likuiditas dan perencanaan kas Pemilihan metode amortisasi mempengaruhi pola beban periode sehingga harus disesuaikan dengan karakteristik aset dan strategi keuangan perusahaan Amortisasi merupakan konsep akuntansi bagi perusahaan yang memiliki aset tak berwujud atau organisasi yang sedang menanggung beban pinjaman jangka menengah-panjang.Memahami amortisasi menjadi bagian penting dalam mengelola perusahaan, karena mengukur beban yang relevan per periode, memperbaiki kualitas laporan keuangan, dan mendukung keputusan fiskal.Adanya konse[ ini juga mendorong adanya transparansi pada neraca dan laporan laba-rugi sehingga pengguna laporan keuangan mendapatkan gambaran kinerja yang lebih akurat.Simak penjelasan selengkapnya dalam artikel Mekari Jurnal berikut ini, ya! Apa Itu Amortisasi?Amortisasi adalah proses sistematis untuk mengalokasikan biaya suatu aset tidak berwujud selama masa pemanfaatannya berlangsung, atau ketika proses pelunasan utang melalui pembayaran berkala yang mencakup pokok dan bunga.Dalam konteks akuntansi perusahaan, amortisasi merujuk pada pengalokasian biaya aset tak berwujud seperti hak cipta, paten, lisensi, dan perangkat lunak.Lalu, pada konteks utang, amortisasi mengarah ke jadwal pembayaran yang menurunkan saldo pokok hingga lunas.“Amortisasi juga mendukung mendukung keputusan fiskal seperti penentuan harga, proyeksi arus kas, serta perencanaan pajak.“Amortisasi vs DepresiasiSebagian orang mungkin masih sulit dalam membedakan amortisasi dan depresiasi. Namun, terdapat perbedaan utama dari keduanya.Perbedaan yang paling utama adalah amortisasi ditujukkan pada aset tak berwujud, sedangkan depresiasi untuk aset berwujud.Namun, keduanya memiliki peran yang sama, yakni menyebarkan biaya perolehan aset ke periode-periode yang menikmati manfaatnya.Jenis-Jenis AmortisasiDalam praktik bisnis dan akuntansi, amortisasi terbagi menjadi dua kategori utama berdasarkan objek yang diamortisasi.Objek ini berkaitan dengan amortisasi utang dan amortisasi aset tak berwujud yang keduanya memiliki tujuan dan karakteristik yang berbeda meskipun sama-sama berfungsi mendistribusikan beban sepanjang periode tertentu.1. Amortisasi Aset Tak BerwujudMerupakan pengalokasikan dan pengakuan biaya ke aset tak berwujud milik perusahaan, yang biasanya berkaitan dengan hak cipta, paten, lisensi, merek dagang, lisensi perangkat lunak, dan aset atau hak lain yang tidak memiliki bentuk fisik tetapi memberikan manfaat ekonomi.Berbeda dengan amortisasi utang, amortisasi jenis ini tidak melibatkan arus kas keluar secara langsung, melainkan hanya pencatatan akuntansi.Beberapa komponen utama dalam amortisasi tak berwujud, mencakup beban non-kas, metode amortisasi yang konsisten, estimasi masa manfaat aset, dan penyesuaian nilai buku aset.Melalui amortisasi aset tak berwujud, laporan keuangan dapat menyajikan nilai aset yang lebih realistis serta mencerminkan prinsip pencocokan antara biaya dan pendapatan.2. Amortisasi Pinjaman atau UtangJenis amortisasi ini merujuk pada struktur pembayaran berkala yang mengurangi saldo pokok sampai lunas, di mana terdapat dua unsur utama yakni bunga dan pokok pinjaman.Contohnya adalah kredit kendaraan, hipotek, dan kredit modal kerja yang disusun dengan jadwal amortisasi tetap atau variabel.Pengelolaan amortisasi utang penting bagi sebuah perusahaan untuk merencanakan likuiditas dan pengukuran beban bunga.Amortisasi utang memiliki beberapa komponen penting di dalamnya, seperti pembayaran berkala, komposisi bunga dan pokok, jangka waktu pinjaman, dan jadwal amortisasi.Metode dan Rumus AmortisasiMengutip dari artikel yang dipublikasikan oleh PPM School of Management, terdapat dua metode utama dalam menghitung amortisasi, yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun.1. Metode Garis LurusMetode garis lurus menghitung biaya pengakuan amortisasi yang stabil dengan dibagi sepanjang masa manfaat aset secara konsisten dalam laporan keuangan.Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:Amortisasi Tahunan = (Biaya Awal Aset – Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat2. Metode Saldo MenurunMetode saldo menurun mengalokasikan biaya amortisasi yang lebih besar pada tahun-tahun awal dan kemudian akan semakin kecil di tahun-tahun berikutnya.Rumus yang digunakan untuk metode ini, yaitu:Amortisasi = Saldo Awal x Persentase Tetap3. Amortisasi UtangSelain metode garis lurus dan saldo menurun, terdapat juga metode amortisasi utang dengan cicilan tetap yang menggunakan rumus:M = P × [ i(1 + i)ⁿ ] ÷ [ (1 + i)ⁿ − 1 ]Keterangan: M = pembayaran per periode P = pokok pinjaman i = suku bunga per periode n = jumlah periode pembayaran Rumus ini menghasilkan nilai cicilan yang konsisten, sementara komposisi bunga dan pokok berubah setiap periode.Baca Juga: 5 Metode Penyusutan Aktiva Tetap dan Pencatatan JurnalContoh Perhitungan Beserta Jadwal AmortisasiUntuk memahami cara menghitung amortisasi dengan baik dan benar di setiap langkahnya, simak studi kasus berikut.Sebuah perusahaan memiliki aset tak berwujud berupa lisensi software dengan informasi sebagai berikut: Biaya perolehan aset: Rp100.000.000 Nilai residu: Rp0 Masa manfaat: 5 tahun Untuk menghitung aset tersebut akan dilakukan menggunakan dua metode amortisasi yang berbeda.1. Contoh Amortisasi dengan Metode Garis LurusMetode garis lurus membebankan biaya amortisasi dalam jumlah yang sama setiap periode selama masa manfaat aset.Langkah 1: Menentukan nilai yang diamortisasiNilai yang diamortisasi adalah selisih antara biaya perolehan dan nilai residu.Biaya perolehan – Nilai residu Rp100.000.000 – Rp0 = Rp100.000.000Langkah 2: Menentukan masa manfaatMasa manfaat aset ditetapkan selama 5 tahun.Langkah 3: Menghitung amortisasi tahunanGunakan rumus metode garis lurus:Amortisasi Tahunan = (Biaya Awal Aset – Nilai Residu) ÷ Masa ManfaatRp100.000.000 ÷ 5 = Rp20.000.000 per tahunLangkah 4: Menyusun beban amortisasi per tahun Tahun Beban Amortisasi Akumulasi Amortisasi Nilai Buku Akhir 1 Rp20.000.000 Rp20.000.000 Rp80.000.000 2 Rp20.000.000 Rp40.000.000 Rp60.000.000 3 Rp20.000.000 Rp60.000.000 Rp40.000.000 4 Rp20.000.000 Rp80.000.000 Rp20.000.000 5 Rp20.000.000 Rp100.000.000 0 Melalui metode garis lurus, beban amortisasi akan lebih konsisten setiap tahunnya hingga nilai buku aset menjadi nol di akhir masa manfaat.Baca Juga: Panduan Lengkap tentang Amortisasi: Definisi, Formula, dan Jadwal2. Contoh Amortisasi dengan Metode Saldo MenurunJika ingin menggunakan metode saldo turun, beban amortisasi cenderung lebih besar pada awal masa manfaat dan semakin kecil pada periode berikutnya.Dengan asumsi tambahan, misalnya tarif amortisasi tetap di 40% per tahun dan dasar perhitungannya adalah nilai buku awal setiap tahun, maka langkah menghitungnya adalah sebagai berikut:Langkah 1: Menentukan saldo awalSaldo awal tahun pertama adalah biaya perolehan aset, yaitu Rp100.000.000.Langkah 2: Menghitung amortisasi tahun pertamaGunakan rumus metode saldo menurun:Amortisasi = Saldo Awal × Persentase TetapRp100.000.000 × 40% = Rp40.000.000Nilai buku akhir tahun pertama: Rp100.000.000 – Rp40.000.000 = Rp60.000.000Langkah 3: Menghitung amortisasi tahun berikutnyaPerhitungan dilakukan dengan dasar nilai buku terakhir. Tahun Saldo Awal Amortisasi (40%) Nilai Buku Akhir 1 Rp100.000.000 Rp40.000.000 Rp60.000.000 2 Rp60.000.000 Rp24.000.000 Rp36.000.000 3 Rp36.000.000 Rp14.400.000 Rp21.600.000 4 Rp21.600.000 Rp8.640.000 Rp12.960.000 5 Rp12.960.000 Rp5.184.000 Rp7.776.000 Dalam praktik akuntansi, pada tahun terakhir biasanya dilakukan penyesuaian agar nilai buku aset tidak melebihi nilai residu atau agar aset dapat diamortisasi secara wajar hingga akhir masa manfaat.Peran Amortisasi dalam Laporan KeuanganAmortisasi memegang peranan penting dalam memastikan laporan keuangan tetap mencerminkan kondisi keuangan dan kinerja perusahaan yang wajar dan andal.Biaya yang timbul dari perolehan aset tak berwujud maupun kewajiban jangka panjang tidak diakui sekaligus, namun akan dialokasikan secara sistematis sesuai periode pemanfaatan atau jangka waktu yang relevan.Penerapan amortisasi yang tepat membantu menjaga prinsip pencocokan (matching principle), yaitu mencatat beban pada periode yang sama dengan pendapatan yang dihasilkan.Di sisi lain, amortisasi juga mempengaruhi dua laporan utama, di mana:1. Pada NeracaAset tak berwujud dicatat pada harga perolehan dikurangi akumulasi amortisasi yang menurun seiring berjalannya waktu sesuai amortisasi yang diakui.Hal ini mencerminkan penggunaan manfaat ekonomis aset tersebut.2. Pada Laporan Laba-RugiBeban amortisasi (periodik) diakui sebagai pengeluaran yang mengurangi laba sebelum pajak.Pembebanan ini memengaruhi profitabilitas periodik tetapi tidak langsung berdampak pada arus kas, kecuali amortisasi terkait biaya yang sebenarnya dibayarkan di muka.Baca Juga: Laporan Laba Rugi: Pengertian, Cara Membuat, ContohKesimpulanAmortisasi menjadi alat manajerial yang penting untuk aset tak berwujud dalam memastikan biaya dapat dibebankan secara wajar dan menggunakan kerangka pembayaran yang jelas dan terukur.Oleh karena itu, memahami metode ini penting sebagai kemampuan dasar akuntan dan profesional dalam menjaga akurasi laporan, mengoptimalkan perencanaan kas, dan memenuhi kepatuhan fiskal.Implementasi sistem pencatatan yang tepat meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko salah pengakuan.Untuk mempermudah pencatatan amortisasi, pembuatan jadwal, dan otomatisasi jurnal, pertimbangkan menggunakan solusi akuntansi yang terintegrasi seperti Mekari Jurnal.Platform terintegrasi membantu memastikan amortisasi aset dan amortisasi utang tercatat konsisten, akurat, dan siap audit.Hal ini dapat mempercepat proses penutupan buku bulanan dan penyusunan laporan keuangan yang dapat diandalkan.Coba Mekari Jurnal untuk mempermudah pencatatan amortisasi dan laporan keuangan Anda dengan klik tombol di bawah ini, dapatkan uji coba gratis selama 7 hari dan penawaran menarik lainnya!Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang! Referensi:Accounti, “Understanding Amortization: Meaning, Calculation, and Schedules”.The Balance, “What Is Amortization?”.Accountingforeveryone, “What is Amortization: A Clear Explanation”. Kategori : Financial Accounting Artikel Sebelumnya Artikel Selanjutnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
Amortisasi: Pengertian, Rumus Amortisasi, Cara Menghitung dan Contoh dalam Akuntansi Bisnis Highlights Amortisasi membantu perusahaan dalam mengalokasikan biaya aset tak berwujud dan kewajiban jangka panjang secara sistematis sesuai prinsip akuntansi akrual Amortisasi aset tak berwujud berfokus pada pengakuan beban non-kas atas hak ekonomi perusahaan, sedangkan amortisasi utang mengatur struktur pembayaran cicilan yang mencakup bunga dan pokok untuk menjaga likuiditas dan perencanaan kas Pemilihan metode amortisasi mempengaruhi pola beban periode sehingga harus disesuaikan dengan karakteristik aset dan strategi keuangan perusahaan Amortisasi merupakan konsep akuntansi bagi perusahaan yang memiliki aset tak berwujud atau organisasi yang sedang menanggung beban pinjaman jangka menengah-panjang.Memahami amortisasi menjadi bagian penting dalam mengelola perusahaan, karena mengukur beban yang relevan per periode, memperbaiki kualitas laporan keuangan, dan mendukung keputusan fiskal.Adanya konse[ ini juga mendorong adanya transparansi pada neraca dan laporan laba-rugi sehingga pengguna laporan keuangan mendapatkan gambaran kinerja yang lebih akurat.Simak penjelasan selengkapnya dalam artikel Mekari Jurnal berikut ini, ya! Apa Itu Amortisasi?Amortisasi adalah proses sistematis untuk mengalokasikan biaya suatu aset tidak berwujud selama masa pemanfaatannya berlangsung, atau ketika proses pelunasan utang melalui pembayaran berkala yang mencakup pokok dan bunga.Dalam konteks akuntansi perusahaan, amortisasi merujuk pada pengalokasian biaya aset tak berwujud seperti hak cipta, paten, lisensi, dan perangkat lunak.Lalu, pada konteks utang, amortisasi mengarah ke jadwal pembayaran yang menurunkan saldo pokok hingga lunas.“Amortisasi juga mendukung mendukung keputusan fiskal seperti penentuan harga, proyeksi arus kas, serta perencanaan pajak.“Amortisasi vs DepresiasiSebagian orang mungkin masih sulit dalam membedakan amortisasi dan depresiasi. Namun, terdapat perbedaan utama dari keduanya.Perbedaan yang paling utama adalah amortisasi ditujukkan pada aset tak berwujud, sedangkan depresiasi untuk aset berwujud.Namun, keduanya memiliki peran yang sama, yakni menyebarkan biaya perolehan aset ke periode-periode yang menikmati manfaatnya.Jenis-Jenis AmortisasiDalam praktik bisnis dan akuntansi, amortisasi terbagi menjadi dua kategori utama berdasarkan objek yang diamortisasi.Objek ini berkaitan dengan amortisasi utang dan amortisasi aset tak berwujud yang keduanya memiliki tujuan dan karakteristik yang berbeda meskipun sama-sama berfungsi mendistribusikan beban sepanjang periode tertentu.1. Amortisasi Aset Tak BerwujudMerupakan pengalokasikan dan pengakuan biaya ke aset tak berwujud milik perusahaan, yang biasanya berkaitan dengan hak cipta, paten, lisensi, merek dagang, lisensi perangkat lunak, dan aset atau hak lain yang tidak memiliki bentuk fisik tetapi memberikan manfaat ekonomi.Berbeda dengan amortisasi utang, amortisasi jenis ini tidak melibatkan arus kas keluar secara langsung, melainkan hanya pencatatan akuntansi.Beberapa komponen utama dalam amortisasi tak berwujud, mencakup beban non-kas, metode amortisasi yang konsisten, estimasi masa manfaat aset, dan penyesuaian nilai buku aset.Melalui amortisasi aset tak berwujud, laporan keuangan dapat menyajikan nilai aset yang lebih realistis serta mencerminkan prinsip pencocokan antara biaya dan pendapatan.2. Amortisasi Pinjaman atau UtangJenis amortisasi ini merujuk pada struktur pembayaran berkala yang mengurangi saldo pokok sampai lunas, di mana terdapat dua unsur utama yakni bunga dan pokok pinjaman.Contohnya adalah kredit kendaraan, hipotek, dan kredit modal kerja yang disusun dengan jadwal amortisasi tetap atau variabel.Pengelolaan amortisasi utang penting bagi sebuah perusahaan untuk merencanakan likuiditas dan pengukuran beban bunga.Amortisasi utang memiliki beberapa komponen penting di dalamnya, seperti pembayaran berkala, komposisi bunga dan pokok, jangka waktu pinjaman, dan jadwal amortisasi.Metode dan Rumus AmortisasiMengutip dari artikel yang dipublikasikan oleh PPM School of Management, terdapat dua metode utama dalam menghitung amortisasi, yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun.1. Metode Garis LurusMetode garis lurus menghitung biaya pengakuan amortisasi yang stabil dengan dibagi sepanjang masa manfaat aset secara konsisten dalam laporan keuangan.Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:Amortisasi Tahunan = (Biaya Awal Aset – Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat2. Metode Saldo MenurunMetode saldo menurun mengalokasikan biaya amortisasi yang lebih besar pada tahun-tahun awal dan kemudian akan semakin kecil di tahun-tahun berikutnya.Rumus yang digunakan untuk metode ini, yaitu:Amortisasi = Saldo Awal x Persentase Tetap3. Amortisasi UtangSelain metode garis lurus dan saldo menurun, terdapat juga metode amortisasi utang dengan cicilan tetap yang menggunakan rumus:M = P × [ i(1 + i)ⁿ ] ÷ [ (1 + i)ⁿ − 1 ]Keterangan: M = pembayaran per periode P = pokok pinjaman i = suku bunga per periode n = jumlah periode pembayaran Rumus ini menghasilkan nilai cicilan yang konsisten, sementara komposisi bunga dan pokok berubah setiap periode.Baca Juga: 5 Metode Penyusutan Aktiva Tetap dan Pencatatan JurnalContoh Perhitungan Beserta Jadwal AmortisasiUntuk memahami cara menghitung amortisasi dengan baik dan benar di setiap langkahnya, simak studi kasus berikut.Sebuah perusahaan memiliki aset tak berwujud berupa lisensi software dengan informasi sebagai berikut: Biaya perolehan aset: Rp100.000.000 Nilai residu: Rp0 Masa manfaat: 5 tahun Untuk menghitung aset tersebut akan dilakukan menggunakan dua metode amortisasi yang berbeda.1. Contoh Amortisasi dengan Metode Garis LurusMetode garis lurus membebankan biaya amortisasi dalam jumlah yang sama setiap periode selama masa manfaat aset.Langkah 1: Menentukan nilai yang diamortisasiNilai yang diamortisasi adalah selisih antara biaya perolehan dan nilai residu.Biaya perolehan – Nilai residu Rp100.000.000 – Rp0 = Rp100.000.000Langkah 2: Menentukan masa manfaatMasa manfaat aset ditetapkan selama 5 tahun.Langkah 3: Menghitung amortisasi tahunanGunakan rumus metode garis lurus:Amortisasi Tahunan = (Biaya Awal Aset – Nilai Residu) ÷ Masa ManfaatRp100.000.000 ÷ 5 = Rp20.000.000 per tahunLangkah 4: Menyusun beban amortisasi per tahun Tahun Beban Amortisasi Akumulasi Amortisasi Nilai Buku Akhir 1 Rp20.000.000 Rp20.000.000 Rp80.000.000 2 Rp20.000.000 Rp40.000.000 Rp60.000.000 3 Rp20.000.000 Rp60.000.000 Rp40.000.000 4 Rp20.000.000 Rp80.000.000 Rp20.000.000 5 Rp20.000.000 Rp100.000.000 0 Melalui metode garis lurus, beban amortisasi akan lebih konsisten setiap tahunnya hingga nilai buku aset menjadi nol di akhir masa manfaat.Baca Juga: Panduan Lengkap tentang Amortisasi: Definisi, Formula, dan Jadwal2. Contoh Amortisasi dengan Metode Saldo MenurunJika ingin menggunakan metode saldo turun, beban amortisasi cenderung lebih besar pada awal masa manfaat dan semakin kecil pada periode berikutnya.Dengan asumsi tambahan, misalnya tarif amortisasi tetap di 40% per tahun dan dasar perhitungannya adalah nilai buku awal setiap tahun, maka langkah menghitungnya adalah sebagai berikut:Langkah 1: Menentukan saldo awalSaldo awal tahun pertama adalah biaya perolehan aset, yaitu Rp100.000.000.Langkah 2: Menghitung amortisasi tahun pertamaGunakan rumus metode saldo menurun:Amortisasi = Saldo Awal × Persentase TetapRp100.000.000 × 40% = Rp40.000.000Nilai buku akhir tahun pertama: Rp100.000.000 – Rp40.000.000 = Rp60.000.000Langkah 3: Menghitung amortisasi tahun berikutnyaPerhitungan dilakukan dengan dasar nilai buku terakhir. Tahun Saldo Awal Amortisasi (40%) Nilai Buku Akhir 1 Rp100.000.000 Rp40.000.000 Rp60.000.000 2 Rp60.000.000 Rp24.000.000 Rp36.000.000 3 Rp36.000.000 Rp14.400.000 Rp21.600.000 4 Rp21.600.000 Rp8.640.000 Rp12.960.000 5 Rp12.960.000 Rp5.184.000 Rp7.776.000 Dalam praktik akuntansi, pada tahun terakhir biasanya dilakukan penyesuaian agar nilai buku aset tidak melebihi nilai residu atau agar aset dapat diamortisasi secara wajar hingga akhir masa manfaat.Peran Amortisasi dalam Laporan KeuanganAmortisasi memegang peranan penting dalam memastikan laporan keuangan tetap mencerminkan kondisi keuangan dan kinerja perusahaan yang wajar dan andal.Biaya yang timbul dari perolehan aset tak berwujud maupun kewajiban jangka panjang tidak diakui sekaligus, namun akan dialokasikan secara sistematis sesuai periode pemanfaatan atau jangka waktu yang relevan.Penerapan amortisasi yang tepat membantu menjaga prinsip pencocokan (matching principle), yaitu mencatat beban pada periode yang sama dengan pendapatan yang dihasilkan.Di sisi lain, amortisasi juga mempengaruhi dua laporan utama, di mana:1. Pada NeracaAset tak berwujud dicatat pada harga perolehan dikurangi akumulasi amortisasi yang menurun seiring berjalannya waktu sesuai amortisasi yang diakui.Hal ini mencerminkan penggunaan manfaat ekonomis aset tersebut.2. Pada Laporan Laba-RugiBeban amortisasi (periodik) diakui sebagai pengeluaran yang mengurangi laba sebelum pajak.Pembebanan ini memengaruhi profitabilitas periodik tetapi tidak langsung berdampak pada arus kas, kecuali amortisasi terkait biaya yang sebenarnya dibayarkan di muka.Baca Juga: Laporan Laba Rugi: Pengertian, Cara Membuat, ContohKesimpulanAmortisasi menjadi alat manajerial yang penting untuk aset tak berwujud dalam memastikan biaya dapat dibebankan secara wajar dan menggunakan kerangka pembayaran yang jelas dan terukur.Oleh karena itu, memahami metode ini penting sebagai kemampuan dasar akuntan dan profesional dalam menjaga akurasi laporan, mengoptimalkan perencanaan kas, dan memenuhi kepatuhan fiskal.Implementasi sistem pencatatan yang tepat meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko salah pengakuan.Untuk mempermudah pencatatan amortisasi, pembuatan jadwal, dan otomatisasi jurnal, pertimbangkan menggunakan solusi akuntansi yang terintegrasi seperti Mekari Jurnal.Platform terintegrasi membantu memastikan amortisasi aset dan amortisasi utang tercatat konsisten, akurat, dan siap audit.Hal ini dapat mempercepat proses penutupan buku bulanan dan penyusunan laporan keuangan yang dapat diandalkan.Coba Mekari Jurnal untuk mempermudah pencatatan amortisasi dan laporan keuangan Anda dengan klik tombol di bawah ini, dapatkan uji coba gratis selama 7 hari dan penawaran menarik lainnya!Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang! Referensi:Accounti, “Understanding Amortization: Meaning, Calculation, and Schedules”.The Balance, “What Is Amortization?”.Accountingforeveryone, “What is Amortization: A Clear Explanation”.