Dalam dunia hukum, akuntansi, dan manajemen, potensi Conflict of Interest dapat terjadi di suatu ekosistem bisnis. Sebagian besar perusahaan memiliki kebijakan dan prosedur yang mengatur bagaimana konflik bisa diidentifikasi dan dikelola. Hal ini dilakukan untuk memastikan kepentingan manajemen, klien, dan publik tidak saling merugikan. Namun, ada beberapa kondisi di mana Conflict of Interest terjadi dari suatu tindakan, kebijakan, atau prosedur yang berlaku dalam suatu perusahaan.

Apa Itu Conflict of Interest ?

Conflict of Interest terjadi antara dua pelaku yang disebut principal dan agen. Principal adalah orang yang memberikan suatu pertanggungjawaban atau mandat kepada agen.  Hubungan principal dan agen bisa terjadi antara manajer dengan bawahan, dewan komisaris dengan jajaran direksi, dan lainnya. Intinya, Confict of Interest akan muncul ketika agen memiliki kepentingan atau tujuan yang berbeda atau bertentangan dengan principal. Secara umum, Conflict of Interest dapat menyebabkan karyawan bertindak di luar kepentingan dan tujuan suatu perusahaan. Munculnya Conflict of Interest adalah berita buruk bagi reputasi, integritas, dan kepercayaan publik terhadap suatu perusahaan.

Di Mana Kondisi Conflict of Interest Berpotensi Terjadi?

Menjelaskan bagaimana Conflict of Interest bisa muncul sangatlah kompleks. Karena faktor dan jenis dari Conflict of Interest itu sendiri sangatlah beragam. Berikut contoh-contoh kondisi di mana Conflict of Interest berpotensi muncul.

  1. Seorang karyawan menghubungi suatu supervisor secara personal untuk mengatur ulang kontrak kerja, gaji, dan promosi bagi mereka.
  2. Adanya hubungan perasaan atau asmara antara manajer dengan bawahannya.
  3. Seorang agen purchasing menjalin hubungan kerja sama dengan suatu vendor yang di mana vendor tersebut adalah saudaranya sendiri.
  4. Seorang manajer memberikan layanan konsultasi berbayar pada akhir pekan kepada pelanggan atau pemasok perusahaan. Yang di mana itu tidak sesuai dengan SOP perusahaan.
  5. Seorang anggota dewan komisaris perusahaan menerima biaya dan membocorkan informasi mengenai kompetitor kepada perusahaan. Ini menjadi masalah ketika kompetitor tersebut ditangani oleh anggota dewan komisaris dalam satu Board of Director yang sama.
  6. Agen purchasing menerima gratifikasi dan kompensasi lebih dari suatu vendor agar dimenangkan dalam pelelangan tender.
  7. Seorang CFO menegosiasikan dan merekomendasikan sebuah kesepakatan dalam rencana opsi saham kepada dewan komisaris. Di mana dari kegiatan tersebut CFO akan mendapatkan manfaat lebih.
  8. Keputusan manajemen keuangan atau struktur modal yang berat sebelah. Di mana keputusan tersebut tidak memuaskan antara investor atau kreditur atau bahkan keduanya.

Insider Trading: Salah Satu Conflict of Interest

Insider Trading terjadi ketika seseorang yang memiliki kewajiban sebagai seorang agen mendapatkan bocoran informasi rahasia dari orang lain. Selain rahasia, informasi tersebut mungkin bisa menguntungkan pihak agen dan merugikan pihak lain. Hal ini serupa dengan poin lima yang disebutkan di atas. Dan tentunya Insider Trading merupakan salah satu yang menyebabkan Conflict of Interest terjadi.

Banyak sekali jenis dari Insider Trading. Namun secara umum Insider Trading lebih sering terjadi pada ekosistem jual-beli saham. Banyak kasus dari Insider Trading yang terjadi pada ekosistem tersebut. Sebagai contoh, seorang direktur PT Culas mendapatkan bocoran informasi bahwa PT Potensi akan melakukan ekspansi besar-besaran di kemudian hari. Dan ekspansi tersebut sudah dinilai positif dan kabar ini belum tersebar kepada publik sebelumnya. Direktur PT Culas sebagai investor menilai itu sebagai kabar baik dan langsung membeli banyak saham PT Potensi. Mungkin awalnya hal ini tidak menjadi masalah. Namun kecenderungan tersebut terasa tidak adil bagi investor lain dan bisa menyebabkan dominasi yang tidak etis.

Conflict of Interest jelas menyebabkan kerugian bagi reputasi dan keadaan internal bisnis atau perusahaan. Kondisi tersebut bisa diminamilisasi dengan suatu sistem yang kuat dan manajemen konflik yang memadai. Menyoal sistem, tentu sistem akuntansi yang tertata akan berpengaruh terhadap eksistensi Conflict of Interest. Karena bagaimanapun Laporan Keuangan akan menjadi jembatan bagi perusahaan dengan investor atau kreditur. Jurnal menyediakan infrastruktur sistem akuntansi yang mungkin perusahaan Anda butuhkan.

Jurnal adalah Software Akuntansi Online yang memberikan fitur-fitur akuntansi secara lengkap dan komprehensif. Dengan Jurnal, Anda bisa membantu memudahkan proses audit baik dari auditor internal maupun eksternal. Jurnal memberikan kemudahan bagi Anda dalam membuat Laporan Keuangan secara realtime. Jurnal juga menggunakan sistem berbasis Cloud yang membantu Anda menyimpan seluruh informasi dengan aman. Bukan hanya itu, ISO/IEC 27001 yang menggunakan konsep CIA juga telah dimiliki oleh Jurnal sebagai software akuntansi #1 di Indonesia. Segera daftarkan bisnis Anda sekarang dengan Jurnal dan baca informasi lebih lengkapnya di sini.