Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
8 min read

Akuntansi Karbon: Panduan, Regulasi, dan Cara Hitungnya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Angela Amanda
Mekari Jurnal Insight

  • Akuntansi karbon adalah proses mengukur, mencatat, dan melaporkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan aktivitas bisnis dalam satuan CO2e.
  • Pajak karbon dalam UU HPP dipatok minimum Rp30 per kilogram CO2e dan mulai diterapkan bertahap ke sektor PLTU batu bara.
  • Kesalahan paling umum adalah mencampur data antar scope dan tidak mengalokasikan biaya terkait karbon ke akun terpisah dalam pembukuan.

Regulasi karbon di Indonesia bergerak cepat. Perpres No. 110 Tahun 2025 resmi menggantikan Perpres 98/2021, sementara Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) sudah mencatat 153 pengguna jasa dengan nilai transaksi Rp91,87 miliar hingga awal 2026. 

Mengelola emisi kini bukan sekadar urusan tim lingkungan, ada sisi finansial seperti potensi pajak karbon dan nilai unit karbon yang perlu dicatat rapi. Di sinilah peran akuntansi karbon.

Artikel ini membahas pengertian akuntansi karbon, jenis emisi yang perlu diukur, contoh perhitungan, perbandingannya dengan akuntansi keuangan konvensional, serta cara menerapkannya di bisnis Anda.

Apa Itu Akuntansi Karbon?

Akuntansi karbon (carbon accounting) adalah proses mengukur, mencatat, dan melaporkan jumlah emisi gas rumah kaca setara karbon dioksida (CO2e) yang dihasilkan oleh aktivitas suatu perusahaan atau organisasi. 

Proses ini merupakan bagian dari akuntansi lingkungan yang bertujuan memberi gambaran jelas tentang seberapa besar kontribusi sebuah entitas terhadap perubahan iklim, baik dari proses produksi, penggunaan energi, maupun aktivitas operasional lainnya.

Berbeda dari sekadar laporan keberlanjutan yang bersifat naratif, akuntansi karbon menghasilkan data kuantitatif yang bisa diaudit dan diverifikasi. Data ini kemudian dipakai untuk berbagai tujuan, mulai dari kepatuhan regulasi, penilaian risiko iklim oleh investor, hingga perhitungan potensi kewajiban pajak karbon.

Yang membuat akuntansi karbon relevan bagi tim keuangan bukan hanya angka emisinya, melainkan konsekuensi finansial yang menyertainya. Setiap ton CO2e yang dihasilkan berpotensi punya harga, baik lewat pajak karbon, pembelian unit karbon di bursa, maupun biaya kepatuhan pelaporan.

Pentingnya Akuntansi Karbon bagi Bisnis di Indonesia

Ada tiga pendorong utama yang membuat akuntansi karbon makin relevan bagi bisnis di Indonesia.

1. Regulasi Nilai Ekonomi Karbon terus diperkuat

Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025 resmi menggantikan Perpres 98/2021 dan mengatur penyelenggaraan instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK) secara lebih komprehensif, mulai dari alokasi karbon, penyusunan target NDC, hingga tatalaksana perdagangan karbon.

2. Kewajiban fiskal yang mengintai

Pasal 13 UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) menetapkan tarif pajak karbon paling rendah Rp30 per kilogram CO2e, mengacu pada harga karbon di pasar karbon domestik. 

Skema ini sudah mulai diterapkan bertahap pada badan usaha di sektor pembangkit listrik tenaga uap batu bara sebagai piloting, dan berpotensi meluas ke sektor lain mengikuti roadmap pemerintah.

3. Kewajiban pelaporan keberlanjutan sudah berjalan

POJK Nomor 51/POJK.03/2017 mewajibkan Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik menyusun Laporan Keberlanjutan yang mencakup kinerja lingkungan, termasuk data emisi. Tanpa akuntansi karbon yang tersusun rapi, laporan ini sulit disusun secara akurat dan sulit diverifikasi pihak independen.

Ditambah lagi, aktivitas di IDXCarbon terus bertumbuh, dari volume perdagangan yang mencapai lebih dari 900 ribu ton CO2e sepanjang 2025 hingga partisipasi pengguna jasa yang terus bertambah. Bisnis yang belum punya sistem pencatatan emisi yang rapi akan kesulitan memanfaatkan peluang ini maupun memproyeksikan eksposur biaya di masa depan.

Jenis Emisi dalam Akuntansi Karbon (Scope 1, 2, dan 3)

Standar internasional GHG Protocol dan ISO 14064, yang juga jadi rujukan berbagai pedoman perhitungan emisi di Indonesia, membagi emisi ke dalam tiga cakupan atau scope:

  • Scope 1 (emisi langsung): emisi dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan langsung oleh perusahaan, misalnya pembakaran bahan bakar pada genset, kendaraan operasional, atau mesin produksi.
  • Scope 2 (emisi tidak langsung dari energi): emisi yang berasal dari pembangkitan energi yang dibeli perusahaan, paling umum adalah konsumsi listrik dari PLN.
  • Scope 3 (emisi tidak langsung lainnya): emisi yang terjadi di sepanjang rantai nilai perusahaan, baik hulu (bahan baku dari pemasok) maupun hilir (distribusi, penggunaan produk oleh konsumen).

Mayoritas bisnis di Indonesia, terutama skala kecil dan menengah, biasanya memulai akuntansi karbon dari Scope 1 dan Scope 2 karena datanya lebih mudah dikumpulkan dari tagihan bahan bakar dan listrik. Scope 3 lebih kompleks karena membutuhkan data dari pemasok dan mitra bisnis yang berada di luar kendali langsung perusahaan.

Contoh Perhitungan dan Studi Kasus Akuntansi Karbon

Agar lebih mudah dipahami, berikut simulasi sederhana penerapan akuntansi karbon pada bisnis manufaktur skala menengah.

Studi kasus: PT Karya Selaras mengoperasikan satu pabrik dengan konsumsi energi berikut dalam sebulan:

Sumber EmisiAktivitasFaktor EmisiEmisi (CO2e)
Scope 1 (genset solar)200 liter solar2,4 kg CO2e/liter480 kg CO2e
Scope 2 (listrik PLN)15.000 kWh0,85 kg CO2e/kWh12.750 kg CO2e
Total emisi bulanan13.230 kg CO2e

Dengan mengalikan total emisi bulanan sebesar 13.230 kg CO2e dengan 12 bulan, PT Karya Selaras menghasilkan sekitar 158.760 kg CO2e per tahun. Jika diilustrasikan menggunakan tarif minimum pajak karbon Rp30 per kilogram CO2e sesuai UU HPP, potensi eksposur biayanya sekitar Rp4.762.800 per tahun.

Penting dicatat, ilustrasi ini bersifat estimasi untuk kebutuhan perencanaan keuangan internal. Penerapan pajak karbon di Indonesia saat ini masih bertahap dan baru menyasar sektor tertentu seperti PLTU batu bara, belum berlaku merata ke seluruh sektor usaha. Meski begitu, menghitung eksposur sejak dini membantu perusahaan menyiapkan anggaran sebelum kewajiban serupa meluas ke sektornya.

Akuntansi Karbon vs Akuntansi Keuangan Konvensional

Banyak orang menyamakan akuntansi karbon dengan akuntansi keuangan biasa. Berikut perbandingannya.

AspekAkuntansi KarbonAkuntansi Keuangan Konvensional
Objek yang diukurEmisi gas rumah kaca dari aktivitas bisnisTransaksi keuangan perusahaan
Satuan pengukuranKilogram atau ton CO2 setara (CO2e)Nilai mata uang (rupiah)
Standar acuanGHG Protocol, ISO 14064, faktor emisi resmi otoritas terkaitSAK, IFRS
Tujuan pelaporanMenilai dampak lingkungan dan eksposur regulasi karbonMenilai kinerja dan posisi keuangan perusahaan
Pengguna laporanRegulator lingkungan, investor ESG, auditor keberlanjutanInvestor, kreditur, otoritas pajak

Meski objek dan satuannya berbeda, kedua jenis akuntansi ini saling melengkapi. Data emisi dari akuntansi karbon pada akhirnya bermuara ke angka finansial, seperti biaya pajak karbon atau nilai unit karbon, yang perlu tercatat dalam pembukuan perusahaan agar laporan keuangan tetap akurat dan menyeluruh.

Faktor yang Mempengaruhi Akurasi Akuntansi Karbon

Beberapa faktor berikut menentukan seberapa akurat hasil akuntansi karbon suatu perusahaan.

  • Kelengkapan data aktivitas: Data konsumsi bahan bakar, listrik, dan perjalanan dinas yang tidak lengkap akan membuat perhitungan emisi bias dari kondisi sebenarnya.
  • Ketepatan faktor emisi: Menggunakan faktor emisi generik alih-alih faktor spesifik Indonesia yang diperbarui otoritas terkait setiap tahun bisa menghasilkan angka yang jauh dari kondisi riil.
  • Kejelasan batasan organisasi dan operasional: Perusahaan perlu menetapkan dengan jelas unit bisnis dan aktivitas mana saja yang masuk dalam cakupan pelaporan.
  • Konsistensi metode antar periode: Perubahan metode perhitungan tanpa dokumentasi yang jelas membuat tren emisi antar tahun sulit dibandingkan.
  • Kualitas sistem pencatatan biaya terkait karbon: Tanpa akun yang terpisah untuk biaya pajak karbon atau pembelian unit karbon, tim keuangan kesulitan memantau eksposur biaya secara real-time.

Kesalahan Umum dalam Akuntansi Karbon

Berikut kesalahan yang paling sering terjadi, terutama pada bisnis yang baru mulai menerapkan akuntansi karbon.

  • Mencampur data Scope 1, 2, dan 3 tanpa batasan yang jelas, sehingga sulit menelusuri sumber emisi mana yang paling dominan.
  • Memakai faktor emisi generik yang tidak spesifik untuk kondisi Indonesia, padahal faktor emisi listrik dan bahan bakar bisa berbeda signifikan antar negara.
  • Tidak mendokumentasikan sumber data mentah, sehingga laporan sulit diverifikasi saat dibutuhkan pihak independen atau auditor.
  • Menganggap akuntansi karbon murni tanggung jawab tim lingkungan, padahal implikasinya menyentuh perencanaan anggaran dan proyeksi biaya yang jadi ranah tim keuangan.
  • Tidak mengalokasikan biaya terkait karbon ke akun terpisah dalam pembukuan, sehingga biaya pajak karbon atau pembelian unit karbon bercampur dengan biaya operasional lain dan sulit dipantau.

Cara Menerapkan Akuntansi Karbon di Bisnis Anda

Beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:

  • Tentukan batasan organisasi dan operasional untuk memastikan cakupan pelaporan emisi jelas sejak awal.
  • Kumpulkan data aktivitas dari seluruh unit bisnis, mulai dari konsumsi bahan bakar, listrik, hingga perjalanan dinas.
  • Konversikan data aktivitas ke CO2e menggunakan faktor emisi resmi dari otoritas terkait seperti KLHK atau PLN.
  • Catat dan alokasikan biaya terkait karbon seperti pajak karbon, pembelian unit karbon, atau biaya efisiensi energi ke akun terpisah dalam pembukuan agar mudah dipantau.
  • Susun anggaran dan proyeksi biaya karbon tahunan agar perusahaan tidak kaget saat kewajiban serupa meluas ke sektornya.
  • Integrasikan datanya ke laporan keuangan dan laporan keberlanjutan supaya angka yang disajikan ke investor maupun regulator konsisten.

Kelola Akuntansi Karbon Lebih Akurat dengan Mekari Jurnal

Sisi finansial akuntansi karbon, seperti biaya pajak karbon, unit karbon, dan anggaran keberlanjutan, bisa dikelola lebih rapi dengan aplikasi akuntansi Mekari Jurnal:

  • Pencatatan otomatis ke akun terpisah, sehingga biaya pajak karbon dan pengeluaran keberlanjutan tidak bercampur dengan biaya operasional lain.
  • Manajemen anggaran real-time, lengkap dengan notifikasi saat realisasi mendekati atau melebihi anggaran sustainability yang ditetapkan.
  • Laporan keuangan terintegrasi, setiap biaya otomatis mengalir ke laporan laba rugi dan neraca tanpa rekap manual.
  • Insight berbasis AI dari Airene, membantu menganalisis tren biaya karbon dari waktu ke waktu untuk perencanaan yang lebih tepat.

Setiap biaya bisa dicatat ke akun terpisah, anggaran keberlanjutan bisa dipantau secara real-time, dan seluruh datanya otomatis terhubung ke laporan laba rugi maupun neraca perusahaan.

Dengan memahami jenis emisi, menghindari kesalahan umum, dan memanfaatkan aplikasi akuntansi Mekari Jurnal untuk mencatat biaya terkait karbon secara terpisah dan terintegrasi, bisnis Anda bisa lebih siap menghadapi kewajiban fiskal dan pelaporan yang terus berkembang.

Referensi

  • Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 110 Tahun 2025 tentang Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, Pasal 13 tentang Pajak Karbon.
  • Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik.
  • Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Pajak Pigouvian pada UU HPP.
  • IDXCarbon. Monthly report 2025-2026.

FAQ

1. Apa itu akuntansi karbon?

1. Apa itu akuntansi karbon?

Akuntansi karbon adalah proses mengukur, mencatat, dan melaporkan jumlah emisi gas rumah kaca setara CO2 (CO2e) yang dihasilkan oleh aktivitas suatu perusahaan atau organisasi.

2. Apakah semua perusahaan di Indonesia wajib menerapkan akuntansi karbon?

2. Apakah semua perusahaan di Indonesia wajib menerapkan akuntansi karbon?

Kewajiban formal saat ini terutama berlaku untuk Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik sesuai POJK 51/2017, serta sektor yang sudah masuk skema pajak karbon seperti PLTU batu bara. Bisnis di sektor lain tetap disarankan mulai menerapkannya karena cakupan regulasi terus diperluas.

3. Apa beda Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 dalam akuntansi karbon?

3. Apa beda Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 dalam akuntansi karbon?

Scope 1 adalah emisi langsung dari sumber milik perusahaan, Scope 2 adalah emisi tidak langsung dari energi yang dibeli seperti listrik, dan Scope 3 adalah emisi tidak langsung lainnya dari rantai nilai seperti pemasok dan logistik pihak ketiga.

4. Berapa tarif pajak karbon di Indonesia saat ini?

4. Berapa tarif pajak karbon di Indonesia saat ini?

Berdasarkan Pasal 13 UU HPP, tarif pajak karbon ditetapkan paling rendah Rp30 per kilogram CO2e, dan bisa lebih tinggi mengikuti harga karbon di pasar karbon domestik.

5. Apa beda akuntansi karbon dengan carbon offset?

5. Apa beda akuntansi karbon dengan carbon offset?

Akuntansi karbon adalah proses pengukuran dan pelaporan emisi, sementara carbon offset adalah tindakan mengimbangi emisi yang sudah dihasilkan lewat pembelian unit karbon atau proyek pengurangan emisi. Data akuntansi karbon yang akurat jadi dasar agar klaim offset bisa dipertanggungjawabkan.

6. Bagaimana cara menghitung emisi karbon perusahaan secara sederhana?

6. Bagaimana cara menghitung emisi karbon perusahaan secara sederhana?

Kalikan data aktivitas, seperti liter bahan bakar atau kWh listrik yang dipakai, dengan faktor emisi resmi dari otoritas seperti KLHK atau PLN, sehingga hasilnya berupa jumlah emisi dalam satuan CO2e.

7. Apakah aplikasi akuntansi seperti Mekari Jurnal bisa membantu akuntansi karbon?

7. Apakah aplikasi akuntansi seperti Mekari Jurnal bisa membantu akuntansi karbon?

Mekari Jurnal bukan alat penghitung emisi gas rumah kaca secara teknis, tetapi membantu sisi finansial akuntansi karbon, seperti mencatat biaya pajak karbon, mengelompokkan pengeluaran keberlanjutan ke akun terpisah, dan mengintegrasikannya ke laporan keuangan.

Mekari Jurnal

Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus.

Pelajari lebih lanjut

Sebagai bagian dari ekosistem software terpadu Mekari, 
Mekari Jurnal juga terintegrasi dengan berbagai solusi Mekari lainnya seperti :

  • Semua
  • Platform
  • Akuntansi & keuangan
  • Customer
  • People
  • Services
  • Operasional & digitalisasi
Kategori : Akuntansi

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami