Penerapan ERP dengan Metodologi Agile: Cara Cepat dan Efektif Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sistem terintegrasi yang menyatukan seluruh proses inti bisnis ke dalam satu platform terpusat dan memungkinkan dukungan automasi serta visibilitas data real-time. Melalui implementasi software ERP, perusahaan dapat mengakomodir kebutuhan bisnis yang berubah cepat dan terus berkembang. Namun, sistem ERP yang masih tradisional terkadang mengalami kesulitan untuk mengatasi perubahan yang cepat karena beberapa proses yang masih rumit dan lambat. Oleh karena itu, muncul pendekatan ERP dengan metodologi agile yang menekankan iterasi singkat (sprint), kolaborasi lintas fungsi, umpan balik berkelanjutan, dan penyesuaian prioritas berdasarkan nilai bisnis. Lewat ERP agile, organisasi dapat menerima nilai lebih awal, mengurangi risiko besar pada akhir proyek, dan menyesuaikan konfigurasi dengan kebutuhan nyata pengguna. Simak penjelasan lebih lengkapnya dalam artikel Mekari Jurnal berikut ini. Mengapa Memilih Agile untuk Penerapan ERP Pendekatan agile bisa menjadi solusi tepat ketika menghadapi perubahan yang cepat dan bisnis ingin mentransformasikan sistem tanpa gangguan operasional berkepanjangan. Beberapa alasannya, antara lain: Pengiriman nilai yang lebih cepat karena modul inti tersampaikan per-sprint Risiko teknis dan fungsional lebih kecil karena masalah ditemukan lebih awal, biaya perubahan-pun juga menurun Responsif terhadap setiap perubahan bisnis yang terjadi tanpa harus merombak keseluruhan rencana Mendapatkan feedback rutin dari pengguna dan sponsor untuk memperbaiki kesesuaian sistem terhadap kebutuhan nyata Baca Juga: Cara Kerja Sistem ERP: Memahami Mekanisme dan Manfaatnya Langkah-langkah dalam Penerapan ERP Agile Untuk dapat menerapkan sistem ERP agile dengan tepat dan efektif, diperlukan tahapan proses yang terstruktur dan sistematis. Agar berjalan dengan baik, berikut kerangka langkah praktis untuk rollout ERP agile disertai tips dan strategi yang bisa mendukung proses berjalan lebih baik. 1. Inisiasi & Penentuan Value Stream Tentukan prioritas fungsi berdasarkan nilai bisnis (mis. faktur otomatis, manajemen persediaan kritis). Buat peta proses (value stream mapping) untuk mengidentifikasi hambatan dan titik integrasi. Hindari memulai dari daftar fitur teknis; fokus pada outcome bisnis yang terukur (lead time, cash-to-cash cycle, error rate). Tips: Tetapkan 3–5 epic awal yang mewakili area bisnis kritis. Gunakan workshop bersama pengguna untuk memvalidasi prioritas. 2. Arsitektur Modular & Data Foundation Siapkan model data yang modular dan aturan integrasi (API, event bus). Pastikan strategi master data management (MDM) dijalankan iteratif: migrasi sampel data, validasi kualitas, lalu scale-up. Tips: Pilih pendekatan “migrate small, validate, then scale” untuk mengurangi risiko kegagalan migrasi massal. Gunakan sandbox data anonim untuk pengujian. 3. Sprint Perencanaan & Delivery (Iterasi) Jalankan sprint 2–4 minggu untuk deliverable yang dapat diuji oleh pengguna. Setiap sprint harus menghasilkan increment yang bisa dipakai (minimum viable functionality). Tips: Batasi ruang lingkup sprint pada proses end-to-end pendek (mis. pembuatan PO sampai penerimaan barang). Gunakan definition-of-done yang jelas—termasuk data test, dokumentasi singkat, dan pelatihan pengguna. 4. Pengujian Terintegrasi & Automasi QA Bangun pipeline pengujian yang mendukung regression testing setiap sprint. Automasi pengujian proses bisnis kritis untuk mendeteksi gangguan integrasi lebih cepat. Tips: Prioritaskan automasi untuk proses berisiko tinggi (keuangan, kepatuhan pajak). Jalankan smoke test otomatis sebelum setiap release. 5. Deployment Bertahap & Adoption Rilis bertahap per unit bisnis atau per fungsi. Kombinasikan model big-bang feature (untuk fitur non-kritis) dengan phased rollout (untuk fitur core). Tips: Siapkan war room pasca-go-live untuk dua minggu pertama setiap rilis, setelah itu tim implementasi, support, dan key users harus siaga untuk perbaikan cepat. 6. Pengukuran Nilai & Continuous Improvement Definisikan KPI per epic: mis. cycle time pembelian, akurasi stok, waktu closing laporan keuangan. Tinjau hasil sprint menggunakan KPI untuk memprioritaskan backlog berikutnya. Tips: Dashboard nilai sprint membantu sponsor melihat ROI lebih cepat dan mendukung funding iterasi selanjutnya. Baca Juga: Kesimpulan Penerapan ERP agile memberikan kerangka kerja yang lebih adaptif dan berorientasi pada nilai daripada metode tradisional biasa. Melalui pendekatan ini, sistem dapat menjalankan kolaborasi lintas fungsi dan umpan balik secara berkelanjutan, mendoron perusahaan untuk memperoleh manfaat lebih awal. Bagi perusahaan yang sedang merencanakan atau menjalankan transformasi ERP, memahami praktik terbaik dan studi penerapan yang relevan menjadi faktor krusial. Untuk itu, Mekari Jurnal ERP dapat dijadikan referensi strategis karena menyajikan insight praktis, perspektif bisnis yang kontekstual dengan kondisi perusahaan di Indonesia, serta panduan implementasi ERP dan agile yang aplikatif. Dengan memanfaatkan konten Mekari Jurnal, pengambil keputusan dapat menyusun strategi ERP yang lebih terarah, minim risiko, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi organisasi. Coba sekarang dengan klik tombol di bawah ini, dapatkan uji coba gratis selama 7 hari secara langsung! Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang! Referensi: BCG Platinion, “A Guide to Hybrid-Agile ERP Implementations”. Core.ac.uk, “Agile Methods for ERP Implementation: A Systematic Literature Review “. ResearchGate, “Agile Project Management Methods for ERP: How to Apply Agile Processes to Complex COTS Projects and Live to Tell about It”. Kategori : Technology Artikel Sebelumnya Artikel Selanjutnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
Penerapan ERP dengan Metodologi Agile: Cara Cepat dan Efektif Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sistem terintegrasi yang menyatukan seluruh proses inti bisnis ke dalam satu platform terpusat dan memungkinkan dukungan automasi serta visibilitas data real-time. Melalui implementasi software ERP, perusahaan dapat mengakomodir kebutuhan bisnis yang berubah cepat dan terus berkembang. Namun, sistem ERP yang masih tradisional terkadang mengalami kesulitan untuk mengatasi perubahan yang cepat karena beberapa proses yang masih rumit dan lambat. Oleh karena itu, muncul pendekatan ERP dengan metodologi agile yang menekankan iterasi singkat (sprint), kolaborasi lintas fungsi, umpan balik berkelanjutan, dan penyesuaian prioritas berdasarkan nilai bisnis. Lewat ERP agile, organisasi dapat menerima nilai lebih awal, mengurangi risiko besar pada akhir proyek, dan menyesuaikan konfigurasi dengan kebutuhan nyata pengguna. Simak penjelasan lebih lengkapnya dalam artikel Mekari Jurnal berikut ini. Mengapa Memilih Agile untuk Penerapan ERP Pendekatan agile bisa menjadi solusi tepat ketika menghadapi perubahan yang cepat dan bisnis ingin mentransformasikan sistem tanpa gangguan operasional berkepanjangan. Beberapa alasannya, antara lain: Pengiriman nilai yang lebih cepat karena modul inti tersampaikan per-sprint Risiko teknis dan fungsional lebih kecil karena masalah ditemukan lebih awal, biaya perubahan-pun juga menurun Responsif terhadap setiap perubahan bisnis yang terjadi tanpa harus merombak keseluruhan rencana Mendapatkan feedback rutin dari pengguna dan sponsor untuk memperbaiki kesesuaian sistem terhadap kebutuhan nyata Baca Juga: Cara Kerja Sistem ERP: Memahami Mekanisme dan Manfaatnya Langkah-langkah dalam Penerapan ERP Agile Untuk dapat menerapkan sistem ERP agile dengan tepat dan efektif, diperlukan tahapan proses yang terstruktur dan sistematis. Agar berjalan dengan baik, berikut kerangka langkah praktis untuk rollout ERP agile disertai tips dan strategi yang bisa mendukung proses berjalan lebih baik. 1. Inisiasi & Penentuan Value Stream Tentukan prioritas fungsi berdasarkan nilai bisnis (mis. faktur otomatis, manajemen persediaan kritis). Buat peta proses (value stream mapping) untuk mengidentifikasi hambatan dan titik integrasi. Hindari memulai dari daftar fitur teknis; fokus pada outcome bisnis yang terukur (lead time, cash-to-cash cycle, error rate). Tips: Tetapkan 3–5 epic awal yang mewakili area bisnis kritis. Gunakan workshop bersama pengguna untuk memvalidasi prioritas. 2. Arsitektur Modular & Data Foundation Siapkan model data yang modular dan aturan integrasi (API, event bus). Pastikan strategi master data management (MDM) dijalankan iteratif: migrasi sampel data, validasi kualitas, lalu scale-up. Tips: Pilih pendekatan “migrate small, validate, then scale” untuk mengurangi risiko kegagalan migrasi massal. Gunakan sandbox data anonim untuk pengujian. 3. Sprint Perencanaan & Delivery (Iterasi) Jalankan sprint 2–4 minggu untuk deliverable yang dapat diuji oleh pengguna. Setiap sprint harus menghasilkan increment yang bisa dipakai (minimum viable functionality). Tips: Batasi ruang lingkup sprint pada proses end-to-end pendek (mis. pembuatan PO sampai penerimaan barang). Gunakan definition-of-done yang jelas—termasuk data test, dokumentasi singkat, dan pelatihan pengguna. 4. Pengujian Terintegrasi & Automasi QA Bangun pipeline pengujian yang mendukung regression testing setiap sprint. Automasi pengujian proses bisnis kritis untuk mendeteksi gangguan integrasi lebih cepat. Tips: Prioritaskan automasi untuk proses berisiko tinggi (keuangan, kepatuhan pajak). Jalankan smoke test otomatis sebelum setiap release. 5. Deployment Bertahap & Adoption Rilis bertahap per unit bisnis atau per fungsi. Kombinasikan model big-bang feature (untuk fitur non-kritis) dengan phased rollout (untuk fitur core). Tips: Siapkan war room pasca-go-live untuk dua minggu pertama setiap rilis, setelah itu tim implementasi, support, dan key users harus siaga untuk perbaikan cepat. 6. Pengukuran Nilai & Continuous Improvement Definisikan KPI per epic: mis. cycle time pembelian, akurasi stok, waktu closing laporan keuangan. Tinjau hasil sprint menggunakan KPI untuk memprioritaskan backlog berikutnya. Tips: Dashboard nilai sprint membantu sponsor melihat ROI lebih cepat dan mendukung funding iterasi selanjutnya. Baca Juga: Kesimpulan Penerapan ERP agile memberikan kerangka kerja yang lebih adaptif dan berorientasi pada nilai daripada metode tradisional biasa. Melalui pendekatan ini, sistem dapat menjalankan kolaborasi lintas fungsi dan umpan balik secara berkelanjutan, mendoron perusahaan untuk memperoleh manfaat lebih awal. Bagi perusahaan yang sedang merencanakan atau menjalankan transformasi ERP, memahami praktik terbaik dan studi penerapan yang relevan menjadi faktor krusial. Untuk itu, Mekari Jurnal ERP dapat dijadikan referensi strategis karena menyajikan insight praktis, perspektif bisnis yang kontekstual dengan kondisi perusahaan di Indonesia, serta panduan implementasi ERP dan agile yang aplikatif. Dengan memanfaatkan konten Mekari Jurnal, pengambil keputusan dapat menyusun strategi ERP yang lebih terarah, minim risiko, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi organisasi. Coba sekarang dengan klik tombol di bawah ini, dapatkan uji coba gratis selama 7 hari secara langsung! Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang! Referensi: BCG Platinion, “A Guide to Hybrid-Agile ERP Implementations”. Core.ac.uk, “Agile Methods for ERP Implementation: A Systematic Literature Review “. ResearchGate, “Agile Project Management Methods for ERP: How to Apply Agile Processes to Complex COTS Projects and Live to Tell about It”.