Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
6 min read

Account Receivable Aging: Pengertian, Cara Menghitung dan Contoh Perhitungan Umur Piutang

Tayang
Di tulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Account receivable aging membantu bisnis mengontrol arus kas dengan mengelompokkan piutang berdasarkan umur keterlambatan
  • Laporan umur piutang memberikan insight strategis seperti identifikasi pelanggan yang terlambat membayar, estimasi piutang tak tertagih, dan dasar evaluasi kebijakan kredit
  • Penggunaan sistem akuntansi terintegrasi seperti Mekari Jurnal dapat mengotomatisasi monitoring aging piutang, meningkatkan efisiensi operasional, dan menghasilkan proyeksi cash flow yang lebih akurat dibandingkan metode manual

Bayangkan ketika perusahaan Anda memiliki omzet penjualan yang tinggi setiap bulannya, namun nyatanya di lapangan terasa bahwa arus kas masuk terasa seret, tagihan pelanggan menumpuk, dan banyak faktur yang sudah berbulan-bulan belum dibayar tanpa ada kejelasan.

Jika terus dibiarkan, hal ini dapat berdampak buruk kelangsungan arus kas bisnis dan piutang yang menumpuk bisa berubah menjadi beban yang menghambat ekspansi bisnis.

Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tertahannya dana pada tagihan pelanggan yang belum terbayar adalah dengan mengadopsi account receivable aging atau analisis umur piutang.

Studi menarik dari klien kami menemukan bahwa mengadopsi software akuntansi terintegrasi memangkas waktu pembuatan laporan keuangan hingga 50%.

Bagaimana cara menerapkannya? Artikel dari Mekari Jurnal ini akan membahas secara mendalam apa itu account receivable aging, cara menghitungnya secara akurat, hingga contohnya yang bisa langsung Anda terapkan.

Apa Itu Account Receivable Aging?

Account receivable aging adalah metode analisis piutang yang dimulai dari proses pengelompokkan tagihan pelanggan berdasarkan lama waktu faktur diterbitkan atau jatuh tempo.

Pada praktiknya dalam akuntansi, proses ini menghasilkan laporan yang dikenal dengan laporan umur piutang atau aging schedule.

Laporan umur piutang disusun untuk memberikan gambaran kondisi piutang perusahaan secara terstruktur mulai dari yang paling baru hingga yang sudah lama tertunggak berdasarkan kategori waktu.

Laporan aging piutang membantu perusahaan mengetahui tiga hal utama secara sekaligus:

  • Berapa banyak total piutang yang belum dibayar
  • Pelanggan mana saja yang terlambat membayar
  • Seberapa besar risiko piutang tak tertagih yang mengancam kas perusahaan

Semakin lama sebuah faktur tak terbayar, semakin kecil kemungkinan piutang tersebut bisa ditagih secara penuh sehingga penting untuk melakukan analisis rutin sebagai deteksi dini.

Baca Juga: Sistem Akuntansi Piutang: Pengertian, Tujuan, Komponen dan Cara Mengelolanya untuk Optimalkan Arus Kas

Fungsi Account Receivable Aging

Terdapat empat fungsi strategis yang menjadi alasan mengapa analisis account receivable aging penting dalam mengelola keuangan perusahaan.

  1. Memperlihatkan konsistensi pelanggan ketika membayar, apakah tepat waktu atau mulai menunjukkan pola keterlambatan yang membantu mengevaluasi kebijakan kredit secara berkala
  2. Mengidentifikasi risiko piutang macet lebih dini dengan melihat langsung piutang yang sudah memasuki zona merah tanpa perlu menghitung ulang dari awal setiap saat
  3. Melalui laporan aging, tim dapat menyusun strategi penagihan yang lebih cepat dan tepat sasaran dengan fokus pada pelanggan dengan piutang >90 hari
  4. Membantu mengetahui kapan dan berapa banyak piutang yang diperkirakan masuk sehingga bisa menyusun proyeksi cash flow yang lebih akurat

Komponen dalam Laporan Account Receivable Aging

analisis umur piutang atau account receivable aging

Di dalam laporan aging terdapat beberapa komponen penting yang melengkapi informasi untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi piutang perusahaan.

Komponen Keterangan
Nama Pelanggan Identitas debitur yang memiliki tagihan
Nomor Faktur Referensi dokumen transaksi
Tanggal Faktur Tanggal penerbitan faktur
Tanggal Jatuh Tempo Batas akhir pembayaran
Jumlah Piutang Nilai tagihan yang belum terbayar
Kategori Umur Piutang Pengelompokan berdasarkan lama keterlambatan

Kategori umur piutang umumnya dibagi dalam interval 30 hari, karena interval ini memudahkan pemantauan dan selaras dengan siklus penagihan bulanan yang lazim digunakan perusahaan.

Kategori Umur Status
0 – 30 hari Belum jatuh tempo/ tepat waktu
31 – 60 hari Mulai terlambat
61 – 90 hari Risiko menunggak
>90 hari Berisiko tinggi/ prioritas penagihan

Semakin banyak piutang yang menumpuk di kategori >90 hari, semakin serius kondisi keuangan yang perlu ditangani sehingga perusahaan perlu segera mengevaluasi dengan porsi piutang besar di kategori ini mengenai kebijakan kredit dan proses penagihannya.

Cara Menghitung Account Receivable Aging

Pada bagian ini Anda akan memahami bagaimana cara menghitung account receivable aging yang jika didalami lebih lanjut, tidak serumit yang kita kira.

Dokumen pelengkap utama untuk menghitung hal ini dimulai dengan data faktur yang lengkap dan konsisten, kemudian Anda bisa mengikuti langkah-langkah sistematis berikut ini:

1. Kumpulkan Data Faktur Pelanggan

Siapkan seluruh data faktur yang belum lunas, mencakup: nama pelanggan, nomor faktur, tanggal penerbitan faktur, tanggal jatuh tempo, dan jumlah tagihan.

2. Hitung Umur Piutang

Dalam tahapan ini, perlu diketahui rumus untuk menghitung umur piutang dengan formula:

Umur Piutang = Tanggal Laporan – Tanggal Faktur

Formula ini digunakan untuk menentukan sudah berapa lama piutang belum dibayar sejak faktur pertama kali diterbitkan melalui tanggal jatuh tempo sebagai titik acuan yang relevan untuk menilai keterlambatan aktual.

Contohnya, jika tanggal laporan adalah 30 Juni 2025 dan faktur diterbitkan pada 1 Juni 2025, maka umur piutangnya adalah 29 hari.

Baca Juga: Panduan Lengkap Akuntansi Piutang untuk Bisnis Anda

3. Kelompokkan Berdasarkan Kategori Umur

Setelah Anda berhasil menghitung umur piutang berdasarkan tanggal jatuh tempo di dalam laporan, masukkan masing-masing ke dalam kategori yang sesuai:

  • 0 – 30 hari
  • 31 – 60 hari
  • 61 – 90 hari
  • >90 hari

4. Buat Tabel Aging Schedule

Selanjutnya, susun semua data ke dalam tabel lalu jumlahkan total piutang per kategori untuk mendapatkan gambaran distribusi pengelolaan umur piutang secara menyeluruh.

Contoh Perhitungan Account Receivable Aging

Sebagai contoh yang relevan dengan kasus yang sering ditemukan di dalam perusahaan, simak studi kasus dalam konteks bisnis berikut ini.

PT Maju Bersama adalah perusahaan distribusi produk konsumer di Surabaya. Per tanggal laporan 31 Juli 2025, mereka memiliki empat piutang aktif kepada pelanggan berikut:

Pelanggan Nilai Piutang (Rp) Tanggal Faktur Umur Piutang
PT Andalan Ritel 15.000.000 20 Juli 2025 11 hari
CV Sukses Mandiri 8.500.000 16 Juni 2025 45 hari
UD Bintang Mas 6.200.000 22 Mei 2025 70 hari
PT Nusa Perdana 4.800.000 2 April 2025 120 hari

Setelah menghitung umur masing-masing piutang, tim finance menyusun aging schedule sebagai berikut:

Kategori Umur Total Piutang (Rp) Keterangan
0–30 hari 15.000.000 Piutang sehat
31–60 hari 8.500.000 Perlu dipantau
61–90 hari 6.200.000 Kirim reminder segera
>90 hari 4.800.000 Prioritas penagihan
Total 34.500.000

Berdasarkan laporan aging di atas, terlihat bahwa PT Nusa Perdana dengan piutang senilai Rp4.800.000 sudah masuk kategori >90 hari yang berarti faktur tersebut sudah 120 hari belum terbayar dan memiliki risiko tidak tertagihnya sudah sangat tinggi.

Sementara itu, CV Sukses Mandiri dan UD Bintang Mas perlu mendapat reminder pembayaran sebelum situasinya memburuk lebih jauh. Penanganan proaktif ini efektif daripada menunggu piutang semakin menua.

Baca Juga: Buku Besar Piutang Dagang: Pengertian, Cara Membuat dan Contoh Format yang Tepat

Analisis Umur Piutang dan Estimasi Cadangan Kerugian

Terdapat manfaat lain setelah Anda mampu menganalisis umur piutang, yaitu dapat mengestimasi cadangan kerugian piutang sekaligus menetapkan persentase kemungkinan tidak tertagih berdasarkan kategori umur.

Estimasi cadangan kerugian piutang ini adalah sebagai berikut:

Kategori Umur Jumlah Piutang (Rp) % Kemungkinan Tak Tertagih Estimasi Kerugian (Rp)
0–30 hari 15.000.000 1% 150.000
31–60 hari 8.500.000 5% 425.000
61–90 hari 6.200.000 15% 930.000
>90 hari 4.800.000 40% 1.920.000
Total 34.500.000 3.425.000

Kesimpulan

Account receivable aging membantu perusahaan dalam menjaga likuiditas dan keberlangsungan bisnis dengan mengelola kendali penuh atas arus kas dan risiko kredit perusahaan.

Melalui laporan yang disusun untuk mengelompokkan piutang secara sistematis, memastikan strategi penagihan Anda tepat sasaran dan pengelolaan keuangan berjalan optimal.

Namun, mengelola piutang secara manual menggunakan spreadsheet sering kali memakan waktu lama dan rentan terhadap data tersebar di berbagai file, sulit diperbarui secara real-time, dan potensi kesalahan pencatatan.

Oleh karena itu, manajemen perlu menemukan solusi alternatif untuk mengatasi efisiensi operasional ini.

Mekari Jurnal adalah sistem akuntansi berbasis cloud yang merupakan bagian dari ekosistem software terintegrasi Mekari untuk membantu bisnis mengelola keuangan secara otomatis, akurat, dan efisien.

Melalui Mekari Jurnal, Anda dapat memantau aging piutang secara otomatis, melihat detail faktur dan riwayat transaksi, dan mengelola arus kas bisnis dengan proyeksi yang lebih akurat berdasarkan data piutang terkini.

Apabila Anda tertarik, coba Mekari Jurnal GRATIS sekarang dan rasakan perbedaan mengelola piutang dengan sistem yang terintegrasi, efisien, dan andal!

Konsultasi dengan Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

CFI, “Accounts Receivable Aging”.

Wallstreetmojo, “Aging Accounts Receivables”.

Small Business Trends, “What Is an Accounts Receivable Aging Report and Its Importance?”.

Kategori : Cost Accounting

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami