Financial distress adalah tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi pada perusahaan sebelum terjadinya kebangkrutan atau likuidasi (Platt HD dan Platt MB 2002). Suatu perusahaan dapat dikategorikan sedang mengalami financial distress atau kesulitan keuangan apabila perusahaan tersebut menunjukkan angka negatif pada laba operasi, laba bersih dan nilai buku ekuitas serta perusahaan tersebut melakukan merger (Brahmana 2007).

 

Fenomena lain dari financial distress adalah perusahaan cenderung mengalami kesulitan likuiditas yang ditunjukkan dengan kemampuan perusahaan yang semakin menurun dalam memenuhi kewajibannya kepada kreditur (Hanifah 2013). Di bawah ini Jurnal akan membahas lebih jauh mengenai financial distress perusahaan yang harus Anda ketahui.

 

Financial Distress Perusahaan

Corporate financial distress ditunjukkan sebagai proses tiga dimensi yang terdiri time frame, financial distress, dan process stages. Financial distress cycle dalam perusahaan mencakup periode awal penurunan kinerja hingga ke titik terendah kemudian tahap pemulihan apabila perusahaan bisa memperbaiki kinerjanya. Ketika perusahaan mengalami kesulitan keuangan, maka perusahaan tersebut tidak berada di posisi yang sama melainkan terus bertransisi ke tahapan-tahapan selanjutnya. Apabila kinerja semakin buruk, maka kemungkinan besar perusahaan akan menghadapi kebangkrutan. Namun, jika kinerja perusahaan membaik maka perusahaan memiliki kesempatan untuk mengatasi kesulitan keuangan.

 

Faktor Penyebab Financial Distress

Menurut Damodaran (1997), faktor penyebab financial distress adalah:

a. Kesulitan arus kas

Terjadi ketika penerimaan pendapatan perusahaan dari hasil kegiatan operasi tidak cukup untuk menutupi beban-beban usaha yang timbul atas aktivitas operasi perusahaan. Selain itu kesulitan arus kas juga bisa disebabkan karena adanya kesalahan manajemen ketika mengelola aliran kas perusahaan dalam melakukan pembayaran aktivitas perusahaan yang dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan.

b. Besarnya jumlah utang

Kebijakan pengambilan utang perusahaan untuk menutupi biaya yang timbul akibat operasi perusahaan akan menimbulkan kewajiban bagi perusahaan untuk mengembalikan utang di masa mendatang. Ketika tagihan jatuh tempo, sedangkan perusahaan tidak mempunyai cukup dana untuk melunasi tagihan-tagihan tersebut, maka kemungkinan yang dilakukan kreditur adalah melakukan penyitaan harta perusahaan untuk menutupi kekurangan pembayaran tagihan tersebut.

c. Kerugian dalam kegiatan operasional perusahaan selama beberapa tahun

Dalam hal ini merupakan kerugian operasional perusahaan yang dapat menimbulkan arus kas negatif dalam perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena beban operasional lebih besar dari pendapatan yang diterima perusahaan.

Meskipun suatu perusahaan dapat mengatasi tiga masalah di atas, belum tentu perusahaan tersebut dapat terhindar dari financial distress, itu karena masih terdapat faktor eksternal perusahaan yang dapat menyebabkan financial distress. Menurut Damodaran (1997), faktor eksternal perusahaan lebih bersifat makro, di mana cakupannya lebih luas. Faktor eksternal dapat berupa kebijakan pemerintah yang dapat menambah beban usaha yang ditanggung perusahaan, misalnya tarif pajak yang meningkat dapat menambah beban perusahaan. Selain itu, masih ada kebijakan suku bunga pinjaman yang meningkat, d imana bisa menyebabkan peningkatan beban bunga yang ditanggung perusahaan.

 

Pengaruh Financial Distress Terhadap Kebangkrutan

Smith dan Graves (2005) menjelaskan bahwa perusahaan yang mengalami dua siklus menahan penurunan (decline stemming) dan siklus perbaikan kinerja (recovery). Kecenderungan tingkat kinerja keuangan, ukuran perusahaan, ketersediaan free assets merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memprediksi apakah perusahaan mampu bertahan dalam kondisi kesulitan keuangan (siklus decline stemming).

 

Sedangkan pengurangan aset, pergantian CEO, dan pengurangan karyawan merupakan strategi yang mencerminkan upaya manajemen (siklus recovery) dalam mengatasi kesulitan keuangan. Sehingga faktor tersebut dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam memprediksi recovery perusahaan.

 

Mencegah Financial Distress Menyebabkan Kebangkrutan

Platt dan Platt (2002) menyatakan kegunaan prediksi informasi kesulitan keuangan pada perusahaan adalah dapat mempercepat tindakan manajemen untuk mencegah masalah sebelum terjadinya kebangkrutan.

Pihak manajemen dapat mengambil tindakan merger atau takeover. Maksudnya agar perusahaan mampu untuk membayar utang dan mengelola perusahaan dengan lebih baik. Serta dapat memberikan tanda peringatan dini adanya kebangkrutan pada masa yang akan datang. Schuppe (2003) menambahkan bahwa pihak manajemen yang tanggap mendeteksi financial distress lebih awal. Kemudian bertindak aktif menganalisa penyebab financial distress dan menerapkan strategi perputaran  yang tepat, akan jauh lebih dapat mengendalikan kondisi tersebut.

Untuk melakukan pencegahan terhadap munculnya gejala financial distress, maka sebaiknya perusahaan memiliki software akuntansi online seperti sebagai platform penyedia jasa akuntansi dan pengelolaan keuangan yang membantu Anda mencatat semua transaksi keuangan, menggambarkannya dengan grafik secara efisien. Dengan begitu, perusahaan akan selalu mengetahui kondisi keuangan terkini dan dapat melakukan antisipasi jika terjadi masalah keuangan pada perusahaan lebih awal. Dapatkan semua informasi menarik tentang Jurnal, di sini.