Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
7 min read

Sistem Akuntansi Penjualan: Alur dan Penerapan Penjualan Kredit

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Angela Amanda
Mekari Jurnal Insight

  • Sistem akuntansi penjualan adalah rangkaian prosedur, dokumen, dan catatan yang merekam transaksi penjualan tunai maupun kredit sesuai standar akuntansi.
  • Penjualan kredit membutuhkan lapisan kontrol tambahan, yaitu fungsi kredit yang terpisah dari fungsi penjualan, untuk mengelola risiko piutang tak tertagih.
  • Kesalahan paling umum adalah mencatat penjualan kredit tanpa mencatat piutangnya, atau mengabaikan pembentukan cadangan piutang tak tertagih.

    Penjualan adalah sumber pendapatan utama hampir semua bisnis, tetapi tanpa sistem pencatatan yang jelas, transaksi penjualan mudah salah catat, terutama saat sebagian dibayar tunai dan sebagian lagi secara kredit. Piutang yang tidak terpantau bisa menumpuk tanpa disadari, sampai akhirnya menjadi kerugian yang baru ketahuan saat sudah terlambat ditagih.

    Sistem akuntansi penjualan hadir untuk menjawab masalah ini. Bukan sekadar mencatat nota, sistem ini mencakup dokumen, otorisasi, dan jurnal yang memastikan setiap transaksi tercatat akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.

    Artikel ini akan membahas pengertian sistem akuntansi penjualan secara menyeluruh, termasuk alurnya, perbedaan dengan sistem akuntansi penjualan kredit, contoh jurnal dengan angka Rupiah, hingga cara membangun sistem yang lebih andal untuk bisnis Anda.

    Apa Itu Sistem Akuntansi Penjualan?

    Sistem akuntansi penjualan adalah rangkaian prosedur, dokumen, dan catatan akuntansi yang dirancang untuk merekam, mengotorisasi, dan melaporkan transaksi penjualan barang atau jasa, baik yang dibayar tunai maupun secara kredit.

    Sistem ini bukan hanya soal mencatat angka penjualan. Di dalamnya ada beberapa fungsi yang saling terkait, yaitu

    • Fungsi order penjualan (menerima dan mencatat pesanan)
    • Fungsi kredit (menyetujui batas kredit pelanggan)
    • Fungsi gudang (menyiapkan barang)
    • Fungsi pengiriman (mengantarkan barang ke pelanggan)
    • Fungsi penagihan (menerbitkan faktur)
    • Fungsi akuntansi (mencatat transaksi ke jurnal dan buku besar).

    Dari sisi standar akuntansi, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 72 tentang Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan menjadi dasar pengakuan pendapatan penjualan di Indonesia.

    Prinsipnya, pendapatan diakui saat kendali atas barang atau jasa berpindah ke pelanggan, bukan saat kas benar-benar diterima. Artinya, penjualan kredit tetap dicatat sebagai pendapatan pada tanggal transaksi terjadi, meski uangnya baru masuk beberapa waktu kemudian.

    Unsur dan Alur Sistem Akuntansi Penjualan

    Sistem akuntansi penjualan terdiri dari beberapa unsur inti yang saling melengkapi:

    • Dokumen sumber, seperti faktur penjualan, surat order pengiriman, surat jalan, bukti penerimaan kas, dan nota kredit untuk retur.
    • Catatan akuntansi, meliputi jurnal penjualan, jurnal penerimaan kas, kartu piutang per pelanggan, dan kartu persediaan.
    • Fungsi yang terlibat, yaitu fungsi order, fungsi kredit, fungsi gudang, fungsi pengiriman, fungsi penagihan, dan fungsi akuntansi.

    Alur transaksi penjualan tunai relatif sederhana. Pesanan dicatat, barang diserahkan bersamaan dengan penerimaan kas, lalu transaksi langsung dicatat di jurnal penerimaan kas.

    Alur penjualan kredit lebih panjang. Pesanan dicatat, fungsi kredit memberi otorisasi berdasarkan batas kredit pelanggan, barang dikirim, faktur diterbitkan, transaksi dicatat di jurnal penjualan sebagai piutang usaha, dan pelunasan baru dicatat terpisah saat kas diterima di kemudian hari.

    Satu hal yang sering disamaratakan oleh sumber lain, secara konvensi akuntansi, jurnal penjualan sebenarnya secara khusus digunakan untuk mencatat transaksi penjualan kredit. Penjualan tunai justru masuk ke jurnal penerimaan kas, bukan jurnal penjualan.

    Sistem Akuntansi Penjualan Tunai vs Sistem Akuntansi Penjualan Kredit

    Berikut perbandingan kedua sistem berdasarkan aspek yang paling menentukan pengelolaannya.

    AspekPenjualan TunaiPenjualan Kredit
    Saat pengakuan pendapatanBersamaan dengan penerimaan kasSaat barang/jasa diserahkan, sebelum kas diterima
    Dokumen utamaBukti penerimaan kas, faktur tunaiFaktur penjualan, surat order pengiriman, surat jalan
    Jurnal yang digunakanJurnal penerimaan kasJurnal penjualan, dilanjutkan jurnal penerimaan kas saat pelunasan
    Risiko utamaSelisih kas, kesalahan hitung di kasirPiutang tak tertagih, keterlambatan pembayaran
    Kebutuhan pengendalian internalRekonsiliasi kas harianOtorisasi batas kredit, pemantauan umur piutang (aging)

    Penjualan kredit membutuhkan lapisan kontrol tambahan dibanding penjualan tunai. Fungsi kredit idealnya independen dari fungsi penjualan, sehingga tim penjualan tidak bisa menyetujui transaksi besar kepada pelanggan berisiko tinggi hanya demi mengejar target.

    Contoh Jurnal dan Perhitungan Sistem Akuntansi Penjualan Kredit

    Agar lebih mudah dipahami, berikut simulasi sederhana pada UD Berkah Jaya, toko elektronik yang menjual barang secara tunai dan kredit dalam satu hari transaksi.

    Studi kasus: Pada 5 Maret, UD Berkah Jaya mencatat dua transaksi berikut.

    TransaksiNilai BarangPPN Keluaran (11%)Total Tagihan
    Penjualan tunai ke pelanggan retailRp8.000.000Rp880.000Rp8.880.000
    Penjualan kredit ke PT Sinar Abadi Makmur (jatuh tempo 30 hari)Rp20.000.000Rp2.200.000Rp22.200.000

    Jurnal untuk penjualan tunai:

    • Kas (D) Rp8.880.000
    • PPN Keluaran (K) Rp880.000
    • Penjualan (K) Rp8.000.000

    Jurnal untuk penjualan kredit:

    • Piutang Usaha (D) Rp22.200.000
    • PPN Keluaran (K) Rp2.200.000
    • Penjualan (K) Rp20.000.000

    Saat PT Sinar Abadi Makmur melunasi piutangnya 30 hari kemudian, jurnal yang dicatat adalah:

    • Kas (D) Rp22.200.000
    • Piutang Usaha (K) Rp22.200.000

    Tarif PPN 11% yang digunakan di atas adalah tarif efektif untuk barang dan jasa kena pajak non-mewah, berdasarkan dasar pengenaan pajak nilai lain sesuai PMK 131/2024. Tarif nominal 12% hanya berlaku penuh untuk barang mewah yang dikenai PPnBM.

    Selain mencatat piutang, bisnis dengan akuntabilitas publik juga perlu mempertimbangkan risiko piutang tak tertagih sesuai PSAK 71. Standar ini mengubah pendekatan pencadangan dari incurred loss (menunggu tanda gagal bayar) menjadi expected credit loss, yaitu mengestimasi potensi kerugian sejak piutang itu diakui. Sebagai gambaran sederhana, jika data historis menunjukkan rata-rata 2% dari piutang usaha akhirnya tidak tertagih, maka UD Berkah Jaya perlu mencatat cadangan kerugian penurunan nilai sebesar 2% dari saldo piutang, sebagai berikut:

    • Beban Kerugian Piutang (D) Rp444.000
    • Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Piutang (K) Rp444.000

    Perlu dicatat, UMKM yang menggunakan SAK EMKM umumnya belum wajib menerapkan expected credit loss penuh seperti PSAK 71. Mereka bisa memakai metode penyisihan yang lebih sederhana berdasarkan persentase piutang berdasarkan umur tunggakan, sementara entitas dengan akuntabilitas publik wajib mengikuti PSAK 71 secara utuh.

    Dokumen dan Pengendalian Internal dalam Sistem Akuntansi Penjualan Kredit

    Empat dokumen berikut menjadi jejak audit (audit trail) utama pada penjualan kredit:

    • Surat order pengiriman, mencatat detail pesanan dan persetujuan pengiriman barang.
    • Faktur penjualan bernomor urut tercetak, memastikan setiap transaksi bisa ditelusuri dan tidak ada faktur yang “hilang” dari pencatatan.
    • Surat jalan, sebagai bukti fisik barang telah dikirim dan diterima pelanggan.
    • Bukti penerimaan kas, dicatat terpisah saat piutang benar-benar dilunasi.

    Prinsip pemisahan fungsi (segregation of duties) sangat penting di sini. Fungsi penjualan sebaiknya tidak merangkap fungsi kredit, apalagi fungsi akuntansi. Jika satu orang mengendalikan ketiganya, risiko penyalahgunaan otorisasi kredit atau kesalahan pencatatan piutang menjadi jauh lebih tinggi, dan sulit terdeteksi sampai kerugian sudah besar.

    Baca juga: Siklus Akuntansi: Tahapan Lengkap untuk Bisnis

    Faktor yang Memengaruhi Keandalan Sistem Akuntansi Penjualan

    Beberapa faktor berikut menentukan seberapa andal sistem akuntansi penjualan yang dijalankan bisnis:

    • Kelengkapan dokumen sumber. Faktur atau surat jalan yang hilang membuat transaksi sulit ditelusuri saat rekonsiliasi.
    • Konsistensi penomoran faktur. Nomor urut yang tidak konsisten meningkatkan risiko transaksi tercecer atau dicatat ganda.
    • Kecepatan update kartu piutang. Piutang yang telat diperbarui membuat estimasi arus kas menjadi tidak akurat.
    • Kejelasan kebijakan batas kredit. Tanpa batas kredit tertulis per pelanggan, keputusan persetujuan kredit jadi subjektif dan berisiko.
    • Integrasi dengan pencatatan persediaan dan kas. Sistem yang terpisah-pisah membuat data penjualan, stok, dan kas sulit dicocokkan.

    Tanpa pemantauan umur piutang (aging) secara rutin, banyak bisnis baru sadar ada piutang macet setelah terlambat ditagih, saat peluang untuk menagihnya sudah jauh berkurang.

    Permudah Sistem Akuntansi Penjualan Bisnis Anda dengan Mekari Jurnal

    Bagi bisnis yang masih mengelola penjualan secara manual atau lewat spreadsheet terpisah, beralih ke sistem yang terintegrasi seperti aplikasi akuntansi Mekari Jurnal bisa memangkas banyak risiko kesalahan pencatatan sekaligus mempercepat pemantauan piutang. Beberapa kapabilitas yang relevan untuk mengelola sistem akuntansi penjualan, termasuk penjualan kredit, di antaranya:

    • Dokumentasi transaksi terlengkap, dari purchase request hingga invoice, dalam satu alur kerja terintegrasi.
    • Buat, kirim, dan kelola pembayaran tagihan pelanggan langsung dari Mekari Jurnal, lengkap dengan reminder otomatis untuk piutang yang mendekati jatuh tempo.
    • Integrasi dengan sistem POS dan marketplace, sehingga transaksi penjualan tercatat otomatis ke pembukuan tanpa input manual berulang.
    • Kelola PPN dan PPh langsung saat membuat invoice, terhubung ke Mekari Klikpajak sebagai mitra resmi DJP untuk pelaporan pajak.
    • Pantau status tagihan dan performa piutang dari dashboard yang terhubung ke lebih dari 40 laporan keuangan dan bisnis secara real-time.

    Dengan memahami alur, dokumen, dan risiko pada penjualan kredit, serta memanfaatkan aplikasi akuntansi Mekari Jurnal untuk mengotomatiskan pencatatan hingga pemantauan piutang, bisnis Anda bisa menjaga arus kas tetap sehat dan siap kapan pun dibutuhkan untuk pelaporan, audit, maupun pengajuan pembiayaan.

    Referensi

    • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 72 Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan.
    • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 71 Instrumen Keuangan.
    • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK EMKM.
    • Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Tarif PPN efektif 11% berdasarkan PMK 131/2024.
    • DDTCNews. Tarif PPN 12% hanya berlaku untuk barang mewah sesuai PMK 131/2024.
    • Direktorat Jenderal Pajak (DJP). PSAK 71 dan pendekatan expected credit loss.

    Mekari Jurnal

    Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus.

    Pelajari lebih lanjut

    Sebagai bagian dari ekosistem software terpadu Mekari, 
Mekari Jurnal juga terintegrasi dengan berbagai solusi Mekari lainnya seperti :

    • Semua
    • Platform
    • Akuntansi & keuangan
    • Customer
    • People
    • Services
    • Operasional & digitalisasi
    Kategori : Akuntansi

    Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

    Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

    Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

    WhatsApp Hubungi Kami