Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
6 min read

Perbedaan Bruto dan Netto dalam Penghasilan, Gaji, Laba Usaha, Invoice

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Angela Amanda
Mekari Jurnal Insight

  • Bruto adalah jumlah kotor sebelum potongan apa pun, netto adalah jumlah bersih setelah semua potongan diperhitungkan.
  • Konsep ini berlaku di gaji, laba usaha, dan harga jual, dengan pengurang yang berbeda-beda tiap konteks.
  • Aplikasi laporan keuangan Mekari Jurnal memisahkan angka bruto dan netto secara otomatis di setiap laporan.

Bruto adalah jumlah kotor atau total sebelum dikurangi potongan, biaya, atau pengurang apa pun. Netto adalah jumlah bersih yang tersisa setelah semua potongan tersebut diperhitungkan. 

Istilah ini muncul di banyak konteks bisnis, mulai dari gaji karyawan, laba usaha, hingga harga jual, dan tiap konteks punya cara hitung yang sedikit berbeda. Artikel ini membahas pengertian bruto dan netto, tabel perbandingan lintas konteks, contoh perhitungan, dan kesalahan yang sebaiknya dihindari.

Apa Itu Bruto dan Netto?

Bruto adalah jumlah kotor atau total keseluruhan sebelum dikurangi potongan, biaya, atau pengurang apa pun. Netto adalah jumlah bersih yang tersisa setelah semua potongan atau pengurang tersebut diperhitungkan.

Secara prinsip, relasi keduanya selalu sama:

Netto = Bruto − Pengurang

Yang membedakan tiap konteks adalah jenis “pengurang” yang dipakai:

  • Untuk penghasilan, pengurangnya adalah biaya untuk memperoleh dan mempertahankan penghasilan serta pajak yang melekat
  • Untuk gaji karyawan, pengurangnya adalah PPh 21 dan iuran BPJS. 
  • Untuk laba usaha, pengurangnya adalah harga pokok penjualan dan beban operasional. 
  • Untuk harga jual, pengurangnya adalah diskon dan pajak pertambahan nilai.

Karena pengurangnya berbeda-beda, penting untuk selalu tahu konteks apa yang sedang dibicarakan sebelum menyimpulkan angka bruto atau netto mana yang relevan untuk sebuah keputusan.

Perbedaan Bruto dan Netto dalam Berbagai Konteks Bisnis

Berikut perbandingan bruto dan netto pada empat konteks yang paling sering ditemui dalam bisnis sehari-hari.

Konteks Bruto Netto Pengurang Utama
Penghasilan usaha (dasar pajak) Peredaran bruto atau total penghasilan sebelum biaya Penghasilan kena pajak (untuk tarif umum) Biaya memperoleh, menagih, dan memelihara penghasilan yang diperkenankan secara fiskal
Gaji karyawan Total gaji dan tunjangan sebelum potongan Take-home pay yang diterima karyawan PPh 21, iuran BPJS Kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan
Laba usaha Laba kotor (penjualan dikurangi HPP) Laba bersih setelah seluruh beban Beban operasional, beban bunga, dan pajak penghasilan
Harga jual atau invoice Harga sebelum diskon dan pajak Harga yang benar-benar dibayar pembeli Diskon, potongan penjualan, dan PPN

Cara Menghitung Netto dari Bruto dengan Contoh Gaji Karyawan dan Penghasilan Usaha

Contoh 1: Gaji Karyawan

Rina bekerja di sebuah perusahaan trading di Jakarta dengan gaji bruto Rp10.000.000 per bulan. Berikut simulasi potongannya:

Komponen Nominal
Gaji bruto Rp10.000.000
Potongan PPh 21 Rp250.000
Iuran BPJS Kesehatan (1%) Rp100.000
Iuran BPJS Ketenagakerjaan (2%) Rp200.000
Total potongan Rp550.000

Gaji netto yang diterima Rina: Rp10.000.000 − Rp550.000 = Rp9.450.000.

Angka potongan di atas hanya ilustrasi. Besaran PPh 21 aktual mengikuti tarif efektif rata-rata (TER) sesuai PMK yang berlaku dan status PTKP masing-masing karyawan, sehingga nominalnya bisa berbeda antarkaryawan meski gaji bruto sama.

Contoh 2: Penghasilan Usaha Kena Pajak

CV Rejeki Abadi, usaha trading di Bandung, mencatat omzet Rp3.000.000.000 dalam satu tahun pajak dengan penghasilan kena pajak Rp600.000.000. Karena omzetnya di bawah Rp4,8 miliar, CV ini masih bisa memakai skema PPh Final 0,5% dari peredaran bruto selama masih dalam masa berlaku fasilitas UMKM.

PPh terutang dengan skema final: 0,5% x Rp3.000.000.000 = Rp15.000.000.

Jika CV ini sudah tidak lagi berhak memakai PPh Final (misalnya karena masa fasilitas sudah habis), perhitungannya beralih ke tarif umum dengan fasilitas Pasal 31E, karena omzetnya masih di bawah Rp50 miliar. Tarif efektif untuk bagian penghasilan kena pajak yang proporsional dengan omzet sampai Rp4,8 miliar adalah 50% x 22% = 11%.

PPh terutang dengan fasilitas Pasal 31E: 11% x Rp600.000.000 = Rp66.000.000.

Perbedaan skema ini menegaskan kenapa memahami bruto (dasar PPh Final) dan netto fiskal atau penghasilan kena pajak (dasar tarif umum) sangat penting sebelum menghitung kewajiban pajak, karena keduanya memakai dasar pengenaan yang berbeda.

Bruto dan Netto dalam Laba Usaha dan Laporan Keuangan

Dalam laporan laba rugi, konsep bruto-netto juga berlaku pada laba usaha. Laba kotor (bruto) adalah selisih penjualan dengan harga pokok penjualan, sedangkan laba bersih (netto) adalah laba kotor yang sudah dikurangi seluruh beban operasional, beban bunga, dan pajak penghasilan.

Baca juga: Perbedaan Laba Kotor dan Bersih dalam Laporan Keuangan

Faktor yang Memengaruhi Selisih Bruto dan Netto

Beberapa faktor berikut menentukan seberapa besar selisih antara bruto dan netto:

  • Jenis dan tarif pajak yang berlaku: Skema PPh Final 0,5%, tarif umum 22%, atau tarif efektif 11% lewat fasilitas Pasal 31E menghasilkan selisih bruto-netto yang berbeda.
  • Kelengkapan komponen potongan: Slip gaji dengan iuran BPJS, dana pensiun, dan biaya jabatan yang lengkap akan punya selisih bruto-netto lebih besar dibanding slip gaji dengan potongan minim.
  • Metode penetapan harga pokok penjualan: Metode penilaian persediaan yang berbeda memengaruhi besar HPP, yang pada akhirnya memengaruhi selisih laba kotor dan laba bersih.
  • Kebijakan diskon dan retur penjualan: Semakin besar diskon yang diberikan, semakin jauh jarak antara harga bruto dan harga netto yang dibayar pembeli.
  • Status wajib pajak: Wajib pajak yang memakai NPPN, PPh Final, atau tarif umum punya cara hitung netto fiskal yang berbeda dari bruto yang sama.

Cara Mencatat Bruto dan Netto Lebih Akurat di Bisnis Anda

Beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:

  • Pisahkan kolom bruto dan netto secara eksplisit di setiap laporan gaji, invoice, dan laporan keuangan agar tidak ada ambiguitas.
  • Tetapkan komponen pengurang secara konsisten untuk tiap jenis laporan, misalnya daftar potongan gaji yang sama untuk seluruh karyawan pada level yang sama.
  • Verifikasi tarif pajak terbaru setiap awal tahun pajak, karena skema fasilitas seperti Pasal 31E dan PPh Final UMKM punya syarat omzet dan masa berlaku yang bisa berubah.
  • Lakukan rekonsiliasi rutin antara laporan bruto internal dengan laporan pajak yang dilaporkan ke DJP.
  • Gunakan aplikasi laporan keuangan yang otomatis memisahkan dan menghitung angka bruto-netto di setiap laporan, alih-alih menghitung manual di spreadsheet.

Bagi bisnis yang masih menyusun laporan bruto-netto secara manual di spreadsheet, beralih ke aplikasi laporan keuangan Mekari Jurnal bisa memangkas risiko salah catat sekaligus mempercepat proses tutup buku setiap bulan. Dengan lebih dari 80 laporan keuangan real-time, konsolidasi otomatis untuk multicabang, dan insight berbasis AI, bisnis bisa langsung melihat angka bruto dan netto yang relevan tanpa perlu menyusun ulang secara manual.

Permudah Pencatatan Bruto dan Netto Bisnis Anda dengan Mekari Jurnal

Memahami perbedaan bruto dan netto bukan sekadar soal istilah, tapi soal ketepatan dalam menghitung kewajiban pajak, menilai keuntungan sebenarnya, dan menyusun slip gaji yang akurat. Kesalahan kecil dalam membedakan keduanya bisa berdampak pada laporan keuangan maupun kepercayaan karyawan dan mitra bisnis.

Dengan memahami konsep dasar ini dan memanfaatkan aplikasi laporan keuangan Mekari Jurnal untuk mengotomatiskan pemisahan angka bruto dan netto, bisnis Anda bisa menyusun laporan yang lebih akurat, siap audit, dan siap dipakai kapan pun dibutuhkan.

Referensi

  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan, PSAK 72 Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan.
  • Direktorat Jenderal Pajak (DJP), 2026. Klarifikasi tarif PPh Badan pasca PP 20/2026.
  • Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-17/PJ/2015 tentang Norma Penghitungan Penghasilan Neto.
Kategori : Akuntansi

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami