Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
5 min read

Buku Penerimaan Barang: Format dan Contoh

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Angela Amanda
Mekari Jurnal Insight

  • Buku penerimaan barang mencatat setiap barang masuk dari pemasok, mulai dari tanggal, jumlah, kondisi, hingga nomor referensi pembelian.
  • Dokumen ini menjadi dasar pencatatan persediaan sesuai PSAK 14 dan wajib disimpan minimal 10 tahun sesuai UU KUP.
  • Pencatatan otomatis lewat Mekari Jurnal memangkas selisih stok akibat input manual yang tercecer di banyak divisi.

Buku penerimaan barang adalah catatan yang mendokumentasikan setiap unit barang yang diterima perusahaan dari pemasok, lengkap dengan tanggal, jumlah, kondisi fisik, dan nomor referensi pembelian terkait. 

Tanpa catatan ini, tim gudang dan tim keuangan sering mencatat angka stok yang berbeda, sehingga laporan persediaan dan laporan keuangan tidak sinkron. Masalah ini makin terasa saat volume transaksi bertambah dan penerimaan barang datang dari banyak pemasok sekaligus. 

Artikel ini membahas format, contoh pengisian, alur pencatatan, hingga cara menjaga akurasinya.

Apa Itu Buku Penerimaan Barang?

Buku penerimaan barang adalah catatan yang mendokumentasikan setiap transaksi barang masuk ke gudang atau tempat penyimpanan perusahaan, baik dari pemasok eksternal maupun transfer antar cabang. Setiap entri mencatat tanggal penerimaan, sumber barang, jumlah, kondisi fisik, dan nomor referensi seperti purchase order (PO) atau surat jalan.

Dokumen ini perlu dibedakan dari kartu stok. Buku penerimaan barang khusus mencatat transaksi masuk pada momen barang tiba, sementara kartu stok merangkum seluruh mutasi satu jenis barang, baik yang masuk maupun keluar, sepanjang periode tertentu.

Dari sisi akuntansi, buku penerimaan barang menjadi bukti pendukung pengakuan persediaan. Menurut PSAK 14 tentang Persediaan, barang diakui sebagai aset perusahaan saat risiko dan manfaat kepemilikannya sudah berpindah, bukan sekadar saat invoice diterima atau dibayar. Artinya, tanggal yang tercatat di buku penerimaan barang menjadi salah satu acuan penting kapan persediaan seharusnya mulai diakui dalam pembukuan.

Baca juga: Pencatatan Jurnal Pembelian dan Penjualan Perusahaan Dagang

Format dan Komponen Buku Penerimaan Barang

Format buku penerimaan barang perlu mencakup kolom berikut agar bisa dicocokkan dengan dokumen pembelian:

  • Tanggal penerimaan: untuk menentukan periode pengakuan persediaan.
  • Nomor referensi: yaitu nomor PO atau surat jalan yang menjadi acuan pencocokan.
  • Nama pemasok: untuk melacak sumber barang jika terjadi masalah kualitas.
  • Deskripsi dan kode barang: agar setiap item mudah diidentifikasi di sistem persediaan.
  • Jumlah diterima: dibandingkan dengan jumlah yang tertera di PO.
  • Kondisi barang: apakah baik, rusak, atau kurang dari jumlah pesanan.
  • Satuan dan harga per unit: sebagai dasar perhitungan nilai persediaan.
  • Jumlah total nilai barang: hasil kali jumlah diterima dengan harga per unit.
  • Nama dan tanda tangan penerima: sebagai bukti akuntabilitas siapa yang memeriksa barang.

Kolom nomor referensi dan kondisi barang inilah yang membuat buku penerimaan barang berbeda dari sekadar buku catatan biasa, karena keduanya menjadi jembatan pencocokan dengan dokumen pembelian sebelum barang benar-benar diakui sebagai persediaan.

Contoh Pengisian Buku Penerimaan Barang

Berikut simulasi sederhana pengisian buku penerimaan barang pada toko bahan bangunan yang menerima tiga kali kiriman dalam satu minggu.

contoh buku penerimaan barang

Pada baris kedua, staf gudang mencatat selisih 10 batang besi beton yang belum diterima, sehingga tim pembelian bisa langsung menindaklanjuti ke pemasok tanpa menunggu invoice datang. Pada baris ketiga, kondisi kemasan yang penyok dicatat sebagai catatan mutu meski jumlah dan isi tetap sesuai pesanan, sehingga tidak memengaruhi nilai total yang dijurnal.

Dari tabel ini, tim akuntansi bisa langsung menjurnal persediaan sebesar nilai barang yang benar-benar diterima dalam kondisi baik, bukan sebesar nilai yang tertera di PO awal.

Proses Pencatatan Penerimaan Barang dari Gudang Sampai Akuntansi

Alur pencatatan penerimaan barang yang rapi umumnya berjalan sebagai berikut:

  1. Barang tiba di gudang: Staf penerima mencocokkan fisik barang dengan surat jalan yang dibawa kurir atau pemasok.
  2. Pencocokan dengan PO: Jumlah dan spesifikasi barang dibandingkan dengan purchase order yang sudah diterbitkan sebelumnya.
  3. Pencatatan di buku penerimaan barang: Setiap detail transaksi dicatat sesuai format, termasuk selisih jika ada.
  4. Penandatanganan: Penerima dan, bila perlu, pengawas gudang menandatangani sebagai bukti verifikasi.
  5. Serah terima dokumen ke akuntansi: Buku penerimaan barang beserta surat jalan dan PO diteruskan agar bisa dijurnal sebagai persediaan atau langsung sebagai beban, tergantung jenis barang.

Langkah 3 ways matching, yaitu antara PO, surat jalan, dan buku penerimaan barang, adalah pengendalian internal dasar yang mencegah perusahaan membayar tagihan atas barang yang jumlah atau kondisinya tidak sesuai pesanan.

Buku Penerimaan Barang Manual vs Digital

Aspek Manual Digital (Software Akuntansi)
Kecepatan pencatatan Bergantung kecepatan tulis tangan Input cepat, sebagian bisa otomatis dari PO
Risiko kesalahan input Tinggi, rawan salah tulis atau lupa catat Lebih rendah, ada validasi dan kolom wajib
Pencocokan dengan PO Manual, perlu bandingkan dokumen fisik satu per satu Otomatis tercocokkan dalam satu sistem
Visibilitas stok Baru terlihat setelah direkap ulang Real-time, langsung terhubung ke laporan persediaan
Kesiapan audit dan pajak Dokumen fisik rawan hilang atau rusak Tersimpan digital, mudah ditelusuri kapan saja

Perbedaan paling terasa ada pada kesiapan audit. Dokumen fisik yang wajib disimpan minimal 10 tahun untuk kepentingan pajak jauh lebih rentan hilang dibanding catatan digital yang tersimpan otomatis di sistem.

Cara Meningkatkan Akurasi Buku Penerimaan Barang

Beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:

  • Standarkan format kolom di seluruh gudang atau cabang agar data yang masuk ke akuntansi konsisten.
  • Wajibkan tanda tangan penerima dan pemeriksa untuk setiap transaksi, bukan hanya paraf sekilas.
  • Terapkan pencocokan tiga arah antara PO, surat jalan, dan buku penerimaan barang setiap kali barang masuk.
  • Lakukan rekonsiliasi berkala antara buku penerimaan barang dan kartu stok, idealnya tiap minggu, bukan menunggu stock opname tahunan.
  • Gunakan aplikasi akuntansi agar catatan penerimaan barang langsung terhubung ke jurnal pembelian dan laporan persediaan tanpa input ulang.

Bagi bisnis yang masih mencatat penerimaan barang secara manual di buku fisik, beralih ke aplikasi pembukuan Mekari Jurnal bisa memangkas risiko selisih stok sekaligus mempercepat proses rekonsiliasi setiap bulan.

Catat Penerimaan Barang Lebih Akurat dengan Mekari Jurnal

Buku penerimaan barang bukan sekadar formalitas gudang, melainkan titik awal yang menentukan akurasi persediaan dan laporan keuangan perusahaan. Format yang konsisten, pencocokan tiga arah, dan rekonsiliasi rutin adalah kunci menjaga catatan ini tetap bisa diandalkan.

Dengan mencatat penerimaan barang lewat aplikasi pembukuan Mekari Jurnal, transaksi tersusun otomatis sesuai kategori dan langsung terhubung ke buku besar serta laporan persediaan, sehingga tim gudang dan tim keuangan selalu melihat angka stok yang sama.

Referensi

  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan.
  • PSAK 14 tentang Persediaan, dikutip dalam au-partners.com.
  • Direktorat Jenderal Pajak. Pasal 28 ayat 11 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP).
Kategori : Akuntansi

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami