Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Metode Depresiasi Garis Lurus: Pengertian, Rumus, Cara Menghitung, dan Contohnya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Metode depresiasi merupakan proses mengalokasikan biaya aset tetap selama masa manfaatnya yang digunakan ketika sebuah perusahaan melakukan pembelian aset operasional, seperti gedung kantor, armada kendaraan logistik, atau perangkat komputer.

Proses alokasi beban biaya ini penting agar laporan dapat mencerminkan kontribusi aset dalam menghasilkan pendapatan bagi bisnis yang seimbang tanpa membebankan satu periode ketika pembelian dilakukan.

Salah satu cara yang paling sering digunakan oleh para pebisnis di Indonesia adalah metode depresiasi garis lurus karena terkenal stabil, konsisten, dan sederhana.

Dengan menerapkan sistem pembebanan yang merata, manajemen dapat menyusun proyeksi keuangan jangka panjang secara lebih terukur tanpa terganggu oleh lonjakan beban operasional yang drastis.

Apa Itu Metode Depresiasi Garis Lurus?

Dalam literatur keuangan internasional, metode depresiasi garis lurus dikenal dengan straight line depreciation, di mana dalam IAS 16 Property, Plant, and Equipment menyatakan bahwa metode ini menghasilkan beban yang konstan sepanjang umur manfaat aset selama nilai residunya tidak berubah.

Hal ini menjadikan laporan laba rugi perusahaan tampak lebih rapi dan mudah dianalisis oleh pihak eksternal, dengan catatan nilai sisa akhir dari aset tersebut tidak mengalami perubahan atau penyesuaian di tengah jalan.

Komponen yang Dibutuhkan untuk Menghitung Metode Garis Lurus

Sebelum Anda menghitung dengan metode depresiasi garis lurus di dalam lembar kerja pembukuan, terdapat tiga variabel operasional penting yang wajib dikumpulkan dan diestimasikan:

1. Biaya Perolehan

Biaya perolehan adalah seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh aset hingga siap digunakan dalam operasional bisnis.

Komponen ini mencakup harga beli, biaya pengiriman, asuransi, pajak terkait, instalasi, serta biaya uji coba awal yang dapat diatribusikan langsung pada aset.

2. Nilai Residu

Nilai residu merupakan estimasi nilai sisa aset pada akhir masa manfaat setelah dikurangi biaya pelepasan atau penjualan.

Nilai ini bisa bernilai nol jika aset tidak memiliki nilai jual, atau bernilai positif apabila aset masih dapat dijual kembali sebagai barang bekas, komponen, atau material sisa.

3. Masa Manfaat

Masa manfaat adalah estimasi periode penggunaan aset secara produktif dalam kegiatan bisnis.

Penentuannya dapat didasarkan pada umur ekonomis aset, kapasitas produksi, kebijakan pergantian aset perusahaan, hingga potensi keusangan teknis dan komersial di masa mendatang.

Rumus Metode Depresiasi Garis Lurus

Salah satu kelebihan dari metode depresiasi garis lurus adalah kemudahan dalam mengaplikasikannya di lapangan. Adapun rumus yang bisa digunakan sebagai berikut:

Penyusutan Tahunan = (Biaya Perolehan – Nilai Residu) / Masa Manfaat

Lalu, apabila membutuhkan angka beban penyusutan  per bulan bisa melalui rumus:

Penyusutan Bulanan = Penyusutan Tahunan / 12

Selain itu, metode garis lurus juga bisa dinyatakan dalam bentuk tarif penyusutan tahunan dengan formulasi:

Tarif Penyusutan = 100% / Masa Manfaat (dalam tahun)

Misalnya, aset dengan masa manfaat 5 tahun memiliki tarif penyusutan 20% per tahun yang kemudian tarif ini dikalikan dengan jumlah yang dapat disusutkan untuk mendapatkan beban tahunan.

Cara Menghitung Depresiasi Garis Lurus

Pemilik bisnis maupun tim akuntansi dapat mengikuti panduan praktis berikut ini agar meminimalisir risiko kesalahan penginputan data keuangan.

Proses perhitungan secara terstruktur dimulai dari:

1. Mencatat Seluruh Biaya Perolehan Aset

Mulailah dengan mencatat seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh aset hingga benar-benar siap digunakan dalam operasional bisnis.

Perhitungan ini tidak hanya mencakup harga beli, tetapi juga biaya pengiriman, instalasi, hingga pengeluaran lain yang diperlukan agar aset dapat langsung digunakan.

2. Menentukan Estimasi Nilai Residu Aset

Selanjutnya, tentukan estimasi nilai residu aset pada akhir masa manfaatnya berdasarkan perkiraan nilai jual kembali atau kebijakan internal perusahaan.

Nilai sisa ini biasanya dihitung setelah dikurangi estimasi biaya pelepasan atau penjualan aset di masa mendatang.

3. Menetapkan Masa Manfaat Aset

Setelah itu, tetapkan masa manfaat aset secara realistis dengan mempertimbangkan berbagai faktor operasional dan teknis yang relevan.

Pertimbangannya bisa berasal dari kondisi fisik aset, intensitas pemakaian, perkembangan teknologi, hingga kebijakan pergantian aset perusahaan.

4. Menghitung Nilai yang Dapat Disusutkan

Langkah berikutnya adalah menghitung total nilai aset yang nantinya akan menjadi dasar perhitungan penyusutan.

Proses ini dilakukan dengan mengurangi biaya perolehan aset menggunakan estimasi nilai residu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Hasil pengurangan tersebut menunjukkan nilai ekonomi aset yang akan dialokasikan sebagai beban penyusutan selama masa manfaatnya.

5. Menghitung Beban Penyusutan Tahunan

Setelah nilai yang dapat disusutkan diperoleh, perusahaan dapat mulai menghitung beban penyusutan tahunan aset tersebut.

Caranya adalah dengan membagi nilai yang dapat disusutkan menggunakan estimasi masa manfaat aset yang telah ditentukan sebelumnya.

Perhitungan ini membantu perusahaan mencatat alokasi biaya aset secara konsisten dan lebih akurat pada setiap periode akuntansi.6. Menyesuaikan Penyusutan untuk Laporan Bulanan

Terakhir, sesuaikan hasil perhitungan penyusutan dengan kebutuhan periode laporan keuangan yang digunakan perusahaan.

Jika pencatatan dilakukan secara bulanan, beban penyusutan tahunan dapat dibagi 12 agar monitoring biaya menjadi lebih rapi dan mudah dianalisis.

Contoh Perhitungan Metode Garis Lurus

Agar Anda memperoleh gambaran teknis mengenai cara menerapkan perhitungan penyusutan garis lurus pada sebuah perusahaan, simak contoh studi kasusnya berikut ini.

Sebuah perusahaan manufaktur pangan, PT Selera Nusantara pada bulan Januari membeli satu unit mesin pengemas otomatis baru untuk meningkatkan produktivitas harian.

Rincian transaksi pembelian aset ini telah tercatat sebagai berikut:

  • Biaya perolehan mesin: Rp60.000.000
  • Estimasi nilai residu akhir: Rp6.000.000
  • Masa manfaat ekonomis: 4 tahun

Selanjutnya, mari kita lanjut menghitung dengan rumus yang sudah disebutkan sebelumnya:

Penyusutan Tahunan = (Rp60.000.000 – Rp6.000.000) / 4

Penyusutan Tahunan = Rp13.500.000 per tahun

Apabila tim keuangan PT Selera Nusantara wajib menyajikan laporan laba rugi komprehensif pada setiap akhir bulan, maka beban tahunan tersebut diturunkan kembali menjadi skala bulanan melalui perhitungan:

Penyusutan Tahunan = Rp13.500.000 / 12 = Rp1.125.000 per bulan

Melalui simulasi hitungan ini, perusahaan akan membebankan biaya penyusutan mesin sebesar Rp1.125.000 secara konsisten pada setiap laporan bulanan selama 48 bulan berturut-turut.

Tabel penyusutan selama masa manfaat akan terlihat sebagai berikut:

Tahun Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku Akhir
Awal Rp 60.000.000
1 Rp 13.500.000 Rp 13.500.000 Rp 46.500.000
2 Rp 13.500.000 Rp 27.000.000 Rp 33.000.000
3 Rp 13.500.000 Rp 40.500.000 Rp 19.500.000
4 Rp 13.500.000 Rp 54.000.000 Rp 6.000.000

Aset yang Cocok Menggunakan Metode Garis Lurus

Karakteristik pembebanan yang rata menjadikan metode ini paling ideal dan cocok disematkan pada aset-aset yang kontribusi atau manfaat ekonominya cenderung stabil dari waktu ke waktu, serta penurunan fungsinya lebih dipengaruhi oleh faktor berjalannya waktu dan usia, bukan intensitas penggunaan fisik.

Beberapa contoh aset operasional yang sangat direkomendasikan untuk menggunakan metode ini seperti gedung, bangunan pabrik, transportasi operasional, serta furniter dan peralatan kantor (termasuk komputer, meja, dan peralatan administrasi lainnya).

Jurnal Penyusutan Metode Garis Lurus

Menghitung beban depresiasi tidak setelah perhitungan selesai dilakukan, terdapat langkah selanjutnya yang cukup krusial, yaitu mendokumentasikannya ke dalam pembukuan melalui jurnal penyusutan garis lurus yang sah.

Pencatatan ini penting agar nilai buku aset tetap di laporan posisi keuangan selalu terbarui.

Berdasarkan perhitungan beban depresiasi milik PT Selera Nusantara, bentuk entri jurnal penyesuaian yang dibuat pada setiap akhir bulan adalah sebagai berikut:

Akun Nilai Buku
(Debit) Beban Penyusutan Mesin Rp1.125.000
(Kredit) Akumulasi Penyusutan Mesin Rp1.125.000

Akun beban penyusutan mesin akan langsung dialokasikan ke dalam laporan laba rugi sebagai komponen pengurang pendapatan operasional periode berjalan.

Sementara itu, akun akumulasi penyusutan mesin bertindak sebagai akun kontra aset lancar di neraca, yang nilainya akan terus bertambah dari bulan ke bulan guna memperlihatkan penurunan nilai buku neto dari mesin tersebut secara transparan bagi pembaca laporan.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Garis Lurus

Metode garis lurus menjadi salah satu metode penyusutan paling populer karena perhitungannya sederhana, stabil, dan mudah diterapkan di berbagai jenis bisnis.

Meski demikian, metode ini tetap memiliki keterbatasan karena tidak selalu mampu mencerminkan pola penggunaan aset yang sebenarnya, terutama pada aset dengan tingkat produktivitas yang berubah-ubah sepanjang masa manfaatnya.

Kelebihan Kekurangan
Perhitungan sederhana dan mudah diterapkan Kurang mencerminkan pola manfaat aset yang sebenarnya
Beban penyusutan stabil setiap periode Tidak memperhitungkan kenaikan biaya perawatan aset
Mudah dipahami dan diaudit Kurang cocok untuk aset berbasis output produksi
Mudah diotomatisasi dalam software akuntansi Kurang fleksibel untuk aset dengan penggunaan musiman atau fluktuatif

Perbedaan Garis Lurus dengan Metode Lain

Setelah Anda telah memahami lebih dalam mengenai metode depresiasi garis lurus, Anda juga sebaiknya juga memahami beberapa variasi metode penyusutan lain yang diterima oleh standar pelaporan keuangan global.

Untuk lebih ringkasnya, simak tabel perbandingan berikut ini:

Aspek Karakteristik Metode Garis Lurus Metode Saldo Menurun Metode Unit Produksi
Pola Pembebanan Biaya Konstan dan sama besar di setiap periode Sangat tinggi di awal, lalu menurun bertahap Berfluktuasi naik turun sesuai volume aktivitas
Faktor Utama Penggerak Berjalannya waktu dan faktor usia kalender Faktor efisiensi aset yang optimal di awal Jumlah output produksi atau jam kerja riil
Kompleksitas Hitungan Sangat rendah dan konstan Sedang karena membutuhkan pengali tarif baru Tinggi karena harus melacak data harian gudang
Kategori Aset Terkait Gedung, furnitur, komputer, alat kantor Kendaraan operasional, mesin teknologi tinggi Mesin pabrik tekstil, alat berat pertambangan

Kesimpulan

Metode depresiasi garis lurus adalah metode penyusutan yang paling sederhana dan paling umum digunakan dalam akuntansi aset tetap.

Metode ini paling cocok untuk aset yang memberikan manfaat ekonomi secara merata, seperti bangunan dan peralatan kantor, serta untuk bisnis yang menginginkan proses penyusutan yang sederhana, mudah diprediksi, dan mudah diotomasi.

Selama ketiga komponen perhitungannya ditentukan dengan tepat dan jurnal penyusutan dicatat secara konsisten, metode garis lurus akan menghasilkan laporan keuangan yang akurat dan mudah diverifikasi.

Proses pengelolaan aset juga akan menjadi lebih efektif ketika didukung software akuntansi terintegrasi seperti Mekari Jurnal yang mampu mengotomatisasi perhitungan penyusutan, pencatatan jurnal, hingga pemantauan aset secara real time dalam satu sistem.

Coba GRATIS sekarang juga dan rasakan manfaatnya!

Konsultasi dengan Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

IASPLUS, “IAS 16 — Property, Plant and Equipment”.

ACCA, “Property, plant and equipment”.

IFRS, “Property, Plant and Equipment”.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami