Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Penurunan Nilai Persediaan: Pengertian, Penyebab, Cara Menghitung, dan Pencatatannya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Penurunan nilai persediaan terjadi ketika nilai realisasi bersih (NRV) lebih rendah dibanding biaya perolehan sehingga perusahaan wajib melakukan write-down.
  • PSAK 202 dan IAS 2 mengatur bahwa persediaan harus dicatat berdasarkan nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan NRV.
  • Write-down persediaan memengaruhi laporan laba rugi, HPP, laba kotor, serta nilai aset lancar pada neraca perusahaan.
  • Dengan software akuntansi seperti Mekari Jurnal, perusahaan dapat memantau stok, dead stock, dan penyesuaian nilai persediaan secara real time.

Banyak bisnis terkejut ketika menemukan bahwa stok yang sudah lama tersimpan ternyata tidak bisa dijual dengan harga yang diharapkan, bahkan mungkin sama sekali tidak laku.

Kondisi ini memunculkan kebutuhan untuk mengevaluasi apakah nilai persediaan masih layak dicatat sebesar biaya perolehan, atau sudah perlu diturunkan.

Salah satu metode akuntansi yang membantu mengatasi kondisi ini adalah penurunan nilai persediaan sebagai metode penyesuaian agar seluruh nilai persediaan akhir disajikan secara wajar dan mencerminkan potensi kas masuk yang realistis.

Apa Itu Penurunan Nilai Persediaan?

Penurunan nilai persediaan adalah suatu kondisi akuntansi ketika nilai tercatat atau biaya perolehan awal dari stok barang yang dimiliki perusahaan harus dipotong atau disesuaikan ke bawah karena nilai realisasi bersihnya terbukti telah jatuh di bawah biaya perolehannya.

Konsep ini pada dasarnya merupakan penerapan langsung dari prinsip lower of cost and net realizable value yang mengharuskan persediaan dicatat pada nilai yang lebih rendah di antara keduanya di masa mendatang.

Ketika daya pulih ekonomis dari stok tersebut menyusut, perusahaan wajib melakukan tindakan yang disebut write-down persediaan demi menyelaraskan saldo pembukuan dengan kondisi riil di pasar.

Dasar Akuntansi Penurunan Nilai Persediaan

Dalam konteks bisnis di Indonesia, tata cara penilaian dan penyesuaian nilai stok barang ini sesungguhnya telah diatur dalam standar baku yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Kebijakan ini secara terstruktur diatur dalam PSAK 202 Persediaan yang merupakan hasil pemuktahiran nomor dari regulasi PSAK 14 serta bertujuan untuk menyelaraskan praktik akuntansi lokal dengan standar global, yaitu IAS 2 Inventories.

Dalam standar ini, perusahaan diwajibkan untuk mengukur persediaannya berdasarkan mana yang lebih rendah antara biaya perolehan historis dan nilai realisasi bersihnya.

Apa Itu Nilai Realisasi Bersih (NRV)?

Untuk menjalankan proses pengujian yang presisi, akuntan harus memahami variabel utama yang menjadi pembanding dari biaya perolehan awal, atau biasanya dikenal dengan realisasi bersih persediaan atau Net Realizable Value (NRV).

Singkatnya, NRV adalah estimasi harga jual persediaan dalam kegiatan usaha normal, lalu dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk melakukan penjualan.

Rumus sederhana yang bisa digunakan adalah:

NRV = Estimasi Harga Jual – Estimasi Biaya Penyelesaian – Estimasi Biaya Penjualan

Konsep ini menekankan pada jumlah kas bersih yang benar-benar masuk ke dalam kas perusahaan sebagai dasar fundamental yang kuat apakah stok barang mengalami penurunan nilai ekonomis atau masih berada dalam batas aman pelaporan.

Penyebab Umum Penurunan Nilai Persediaan

Ada berbagai faktor operasional internal maupun dinamika industri luar yang menjadi pemicu utama, antara lain:

  • Barang Rusak atau Cacat: Kerusakan pada produk akibat kesalahan penyimpanan, distribusi, atau penanganan di gudang
  • Barang Usang atau Ketinggalan Zaman: Produk kehilangan nilai jual karena tren berubah atau muncul versi terbaru di pasar
  • Terjadinya Dead Stock: Barang terlalu lama tersimpan di gudang tanpa adanya penjualan atau pergerakan stok
  • Penurunan Harga Pasar: Harga jual produk turun akibat persaingan bisnis atau strategi diskon pasar
  • Membengkaknya Biaya Operasional: Kenaikan biaya produksi, pemasaran, atau distribusi yang mengurangi margin keuntungan
  • Selisih Stok Pasca-Pemeriksaan Fisik: Perbedaan antara catatan stok dan jumlah fisik akibat kehilangan, kerusakan, atau kesalahan pencatatan

Kapan Penurunan Nilai Persediaan Harus Diakui?

Umumnya, proses penilaian nilai stok barang dilakukan secara berkala pada setiap akhir periode pelaporan keuangan, apakah masih dapat dipulihkan melalui penjualan dalam kondisi normal atau tidak.

Dalam konteks bisnis di Indonesia, mekanisme ini dikenal dengan stock opname dengan menyediakan data fisik sebagai dasar evaluasi persediaan dan bertepatan dengan proses tutup buku akhir bulan atau akhir tahun.

Jika terdapat indikasi persediaan tidak lagi bisa dijual pada harga yang menutupi biaya perolehannya, write-down bisa diakui tanpa perlu menunggu akhir tahun.

Cara Menghitung Penurunan Nilai Persediaan

Cara mencari tahu besaran nilai pemotongan pembukuan yang wajib diakui dapat dilakukan dengan mencari angka nilai realisasi bersih dari barang, bisa dilakukan dengan formulasi berikut:

Penurunan Nilai Persediaan = Biaya Perolehan Persediaan – Nilai Realisasi Bersih (NRV)

Untuk mendapatkan nilai NRV, bisa dengan rumus berikut:

NRV = Estimasi Harga Jual – Estimasi Biaya Penyelesaian – Estimasi Biaya Penjualan

Jika hasil penurunan nilai persediaan menunjukkan angka positif, mengindikasikan nilai pasarneto di bawah harga beli, sehingga selisih angka ini wajib diakui sebagai beban pemotongan nilai persediaan. Lalu, write-down dihitung jika NRV lebih rendah dari biaya perolehan.

Contoh Perhitungan Penurunan Nilai Persediaan

Untuk memahami lebih dalam mengenai langkah cara menghitung penurunan nilai persediaan, berikut gambaran kasus nyata yang terjadi di lapangan.

Pada akhir Desember 2026, PT Perkakas Megah memiliki sisa stok berupa 100 unit mesin generator model lama dengan detail data keuangan sebagai berikut:

  • Biaya perolehan awal total: Rp120.000.000
  • Estimasi harga jual total di pasar saat ini: Rp110.000.000
  • Estimasi biaya penyelesaian (perbaikan modul elektronik): Rp5.000.000
  • Estimasi biaya penjualan (komisi sales dan ongkos pengiriman truk): Rp3.000.000

Berdasarkan data keuangan tersebut, langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah menghitung nilai NRV, di mana:

NRV = Estimasi Harga Jual – Estimasi Biaya Penyelesaian – Estimasi Biaya Penjualan

= Rp110.000.000 – Rp5.000.000 – Rp3.000.000

NRV = Rp102.000.000

Setelah menemukan angka NRV, langkah selanjutnya adalah membandingkan nilai perolehan awal dengan nilai pasar neto untuk menentukan porsi penurunan nilainya:

Penurunan Nilai Persediaan = Biaya Perolehan Persediaan – Nilai Realisasi Bersih (NRV)

= Rp120.000.000 – Rp102.000.000

Nilai Penurunan Nilai = Rp18.000.000

Karena nilai NRV terbukti lebih rendah dari biaya perolehan buku awal yang tercatat, PT Perkakas Megah wajib mengeksekusi pemotongan nilai stok generator sebesar Rp18.000.000 pada laporan keuangan akhir tahun berjalan.

Jurnal Penurunan Nilai Persediaan

Langkah berikutnya setelah menghitung nilai NRV dan nilai penurunan nilai persediaan adalah membuat jurnal penurunan nilai aset persediaan.

Untuk penyajiannya sendiri, terdapat dua pendekatan pencatatan yang diaplikasikan, yaitu metode langsung dan metode cadangan.

1. Metode Langsung (Direct Write-off Method)

Metode ini langsung memotong saldo akun persediaan utama di buku besar dan membebankannya langsung pada komponen Harga Pokok Penjualan (HPP):

Akun Nominal
(Debit) Harga Pokok Penjualan Rp18.000.000
(Kredit) Persediaan Barang Dagang Rp18.000.000

2. Metode Cadangan (Allowance Method)

Metode ini dinilai jauh lebih rapi karena mempertahankan riwayat nilai perolehan asli barang di buku besar dengan bantuan akun kontra aset.

Akun Nominal
(Debit) Beban Penurunan Nilai Persediaan Rp18.000.000
(Kredit) Cadangan Penurunan Nilai Persediaan Rp18.000.000

Dari kedua metode tersebut, metode pencatatan cadangan yang paling sering digunakan oleh perusahaan karena mengutamakan transparansi data historis saat menghadapi proses audit operasional gudang.

Dampak Penurunan Nilai Persediaan pada Laporan Keuangan

Write-down persediaan memberi dampak langsung kepada dua laporan keuangan utama.

Pada laporan posisi keuangan, write-down persediaan akan menurunkan nilai persediaan pada aset lancar sehingga total aset perusahaan ikut berkurang dan rasio keuangan seperti current ratio dapat ikut terpengaruh.

Sedangkan dalam laporan laba rugi, write-down persediaan diakui sebagai beban yang menurunkan laba periode berjalan dan apabila dicatat sebagai bagian dari HPP maka laba kotor perusahaan juga akan ikut menurun.

Hubungan Penurunan Nilai Persediaan dengan HPP

Nilai stok barang yang tersisa di akhir bulan bertindak sebagai komponen pengurang dalam formula pencarian total HPP usaha.

Ketika persediaan akhir diturunkan nilainya karena write-down, nilainya menjadi lebih kecil sehingga memengaruhi nilai HPP yang menjadi lebih besar dan laba kotor berkurang.

Itulah mengapa jika terjadi kesalahan dalam menentukan nilai pasar neto ini akan berujung pada kekeliruan penetapan harga jual produk di masa depan.

Hubungan dengan Dead Stock, Stock Opname, dan Inventory Turnover

Penerapan pengujian nilai akuntansi ini membutuhkan data fisik operasional sebagai dasar perhitungan yang valid melalui aktivitas pemeriksaan secara berkala di gudang.

Stock opname menjadi alat deteksi yang paling efektif agar tim gudang bisa mengidentifikasi barang rusak, barang yang sudah tidak relevan di pasar, hingga yang paling parah, yaitu barang yang tidak bergerak dalam waktu lama dan kehilangan nilai jualnya atau dikenal dengan dead stock.

Identifikasi ini penting karena semakin lama barang tidak terjual, semakin besar kemungkinan NRV-nya turun di bawah biaya perolehan.

Inventory turnover ratio juga bisa menjadi sinyal peringatan yang perlu diperhatikan karena rasio yang sangat rendah, yang mengindikasikan stok bergerak lambat dan perlahan mulai kehilangan nilai jualnya.

Kesimpulan

Itulah penjelasan lengkap mengenai penurunan nilai persediaan dan bagaimana cara mengelolanya berdasarkan standar akuntansi PSAK 202 dan IAS 2.

Proses ini membutuhkan evaluasi NRV yang akurat, perhitungan selisih yang tepat, serta jurnal penyesuaian yang mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya.

Ketika didukung oleh stock opname rutin, pemantauan dead stock, dan sistem pencatatan yang terintegrasi, perusahaan dapat mendeteksi penurunan nilai persediaan lebih cepat sebelum berdampak besar pada laporan keuangan.

Untuk mendukung proses tersebut, penggunaan software akuntansi terintegrasi seperti Mekari Jurnal membantu perusahaan memantau persediaan secara real time, menyusun laporan keuangan otomatis, serta mempermudah pencatatan penyesuaian nilai persediaan dengan lebih akurat dan efisien.

Mulai kelola aktivitas bisnis secara lebih efektif bersama Mekari Jurnal, coba GRATIS sekarang juga!

Konsultasi dengan Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

IFRS, “IAS 2 Inventories”.

IAI, “Perubahan penomoran dari PSAK 14 menjadi PSAK 202”.

LinkedIn, “Selection of Inventory Write-down (Impairment) Method”.

365 Financial Analyst, “Inventory Impairment: Impact on Financial Reporting and Ratios”.

KSAP, “Teori Penurunan Aset”.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami