Webinar Recap: Bisnis Laris tapi Uang Selalu Habis? Kenali 5 Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan Pengusaha Penjualan terus meningkat, pesanan berdatangan, dan omzet terlihat semakin besar. Dari luar, bisnis tampak sedang berada dalam kondisi yang baik.Namun, ada situasi yang cukup familiar bagi sebagian pengusaha: mengapa semakin ramai bisnisnya, uang di rekening justru terasa cepat habis?Persoalannya tidak selalu berada pada kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan. Ketika bisnis mulai bertumbuh, tantangan berikutnya justru muncul pada bagaimana setiap transaksi dicatat, bagaimana laba dibaca, bagaimana kas dijaga, hingga bagaimana angka keuangan digunakan dalam mengambil keputusan.Topik inilah yang menjadi pembahasan webinar kolaborasi Accounting Hack dan Mekari Jurnal bertajuk “Bisnis Laris tapi Uang Selalu Habis: 5 Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan Pengusaha.”Webinar menghadirkan Amrina Yulfajar, Founder Accounting Hack, yang membagikan perspektif dari pengalamannya sebagai akuntan dan konsultan.Sesi kemudian dilengkapi oleh Nia Ardela dari Mekari Jurnal yang membahas bagaimana sistem akuntansi dapat membantu bisnis membangun visibilitas keuangan yang lebih baik.Lalu, kesalahan apa yang membuat bisnis terlihat ramai tetapi kondisi keuangannya belum tentu sehat?Laris Belum Tentu Sehat: Memahami Omzet, Laba, dan KasSebelum membahas lima kesalahan utama, Amrina menekankan satu prinsip yang cukup sederhana tetapi sering terlewat ketika bisnis sedang mengejar pertumbuhan.“Omzet itu vanity. Laba itu sanity. Sedangkan kas itu reality.” ujar Amrina.Ketiganya memang saling berkaitan, tetapi menjelaskan kondisi yang berbeda.Omzet menunjukkan besarnya penjualan. Setelah dikurangi HPP dan berbagai biaya operasional, barulah perusahaan dapat melihat laba yang sebenarnya dihasilkan. Kas berbeda lagi.Penjualan dapat dicatat sebagai pendapatan meskipun pelanggan belum melakukan pembayaran.Persediaan memiliki nilai dalam laporan keuangan, tetapi belum menjadi uang yang dapat digunakan untuk membayar gaji. Laba juga dapat terlihat positif sementara sebagian besar kas masih tertahan pada piutang.Inilah sebabnya bisnis tidak cukup hanya memantau seberapa besar penjualannya.Menurut Amrina, persoalan yang sering ditemuinya justru berada pada cara bisnis mencatat uang, membaca angka keuangan, serta menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan.Dari sini, terdapat lima kesalahan yang perlu diperhatikan.1. Uang Masuk Banyak, Tetapi Tidak Jelas Ke Mana Keluarnya“Perasaan kemarin uangnya masih ada. Mengapa sekarang tinggal segini?”Pertanyaan tersebut sering kali bukan disebabkan oleh satu pengeluaran besar, melainkan berbagai transaksi kecil yang tidak tercatat atau sulit ditelusuri.Salah satu contoh yang dibahas dalam webinar adalah ketika rekening bisnis masih digunakan untuk membayar kebutuhan pribadi. Uang perusahaan dan pemilik pada akhirnya bercampur sehingga saldo rekening tidak lagi memberikan gambaran yang jelas mengenai posisi kas usaha.Masalah yang sama dapat muncul ketika nota tidak tersimpan, transaksi dilakukan tanpa keterangan, atau biaya seperti parkir, ongkos kirim, bahan bakar, dan konsumsi dianggap terlalu kecil untuk dicatat.Secara individual nilainya mungkin terlihat tidak material. Namun, ketika terjadi berulang kali, jumlahnya bisa menjadi signifikan.Amrina memberikan ilustrasi bahwa kebocoran Rp50.000 per hari saja dapat terakumulasi menjadi sekitar Rp18 juta dalam satu tahun.Yang menjadi persoalan sebenarnya bukan semata besarnya biaya tersebut, melainkan hilangnya kemampuan bisnis untuk menjelaskan setiap pergerakan uangnya.Ketika transaksi tidak memiliki dokumentasi dan klasifikasi yang jelas, owner maupun tim accounting akan kesulitan menjawab pertanyaan sederhana: uang masuk berasal dari mana dan uang keluar digunakan untuk apa?Karena itu, fondasinya dimulai dari pemisahan rekening pribadi dan bisnis, pencatatan transaksi secara konsisten, dokumentasi bukti transaksi, serta rekonsiliasi yang memungkinkan setiap angka ditelusuri kembali.2. Omzet Terlihat Besar, Tetapi Berapa Laba Yang Sebenarnya Tersisa?Kesalahan berikutnya adalah memperlakukan omzet seolah-olah seluruhnya merupakan keuntungan perusahaan.Misalnya, sebuah bisnis berhasil mencatat penjualan Rp100 juta dalam satu bulan.Angka tersebut terlihat menarik, tetapi Rp100 juta belum menjadi laba bersih.Masih terdapat biaya langsung untuk membuat atau memperoleh produk yang dijual atau HPP. Setelah itu, perusahaan perlu membayar gaji, sewa, listrik, marketing, iklan, logistik, dan berbagai biaya operasional lainnya.Barulah setelah seluruh komponen tersebut diperhitungkan perusahaan dapat mengetahui berapa laba yang benar-benar dihasilkan.Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya “berapa omzet bulan ini?”, tetapi “berapa bagian dari omzet tersebut yang akhirnya menjadi laba?”Masalah menjadi lebih serius ketika data laba rugi tidak tersedia tepat waktu.Dalam webinar, Amrina menceritakan pengalaman menghadapi bisnis dengan omzet besar yang masih mengandalkan spreadsheet dan memperbarui data accounting secara berkala. Akibatnya, ketika owner ingin mengetahui profit aktual atau menelusuri suatu biaya, jawabannya tidak selalu tersedia saat dibutuhkan.Pada kondisi seperti ini, laporan keuangan kehilangan sebagian fungsi strategisnya.Laporan laba rugi seharusnya bukan sekadar dokumen yang selesai dibuat setelah periode berakhir. Namun perlu dipantau secara berkala agar informasi tersebut membantu owner memahami apakah pertumbuhan penjualan benar-benar diikuti pertumbuhan laba dan biaya apa yang sedang menekan profitabilitas.3. Jangan Menentukan Harga Sebelum Memahami HPP dan MarginKompetitor menjual produk Rp15.000. Agar lebih menarik, bisnis memutuskan menjualnya Rp14.000.Secara komersial strategi tersebut mungkin terlihat agresif. Namun, ada pertanyaan yang perlu dijawab lebih dulu: apakah harga tersebut masih menghasilkan margin yang sehat?Dalam webinar, Amrina menggunakan contoh sederhana sebuah produk dengan harga jual Rp12.000 dan HPP Rp7.500.Dengan struktur tersebut, margin sebelum diskon berada di angka Rp4.500.Ketika perusahaan memberikan diskon 20%, margin tersisa sekitar Rp2.100. Artinya, potongan harga sebesar 20% dapat menghabiskan lebih dari separuh keuntungan per produk.Belum lagi apabila bisnis perlu menanggung biaya platform marketplace, pembayaran, promosi, atau logistik.Contoh tersebut menunjukkan mengapa pricing tidak dapat dilepaskan dari HPP.Bagi bisnis F&B, komponen bahan baku perlu diperhitungkan secara detail. Pada perusahaan manufaktur, kompleksitasnya bahkan lebih tinggi karena biaya perlu ditelusuri sepanjang proses transformasi bahan baku menjadi barang jadi.Karena itu, diskon dan harga seharusnya tidak ditetapkan hanya karena ingin berada di bawah kompetitor.Bisnis perlu memahami hubungan antara HPP, harga jual, dan margin terlebih dahulu.Perspektif ini juga mengubah cara perusahaan melihat produk terlaris. Produk dengan volume penjualan tertinggi belum tentu menjadi produk yang memberikan kontribusi laba terbesar.4. Untung di Laporan Belum Tentu Berarti Kas TersediaSalah satu kesalahpahaman yang paling berisiko adalah menganggap laba otomatis berarti perusahaan memiliki kas yang cukup.Padahal, keduanya dapat bergerak secara berbeda.Dalam webinar, Amrina memberikan gambaran perusahaan yang membeli bahan secara tunai, kemudian menjual produknya kepada pelanggan dengan termin pembayaran 60 hari.Secara accounting, penjualan dapat tercatat sebagai pendapatan. Akan tetapi, uang dari pelanggan belum berada di rekening.Pada saat yang sama, perusahaan tetap harus membayar gaji, sewa, vendor, dan berbagai biaya operasional lainnya.Akibatnya, perusahaan dapat terlihat untung di laporan tetapi mengalami tekanan kas pada rekening.Menurut pengalaman Amrina, dua penyebab yang sering muncul dalam kondisi tersebut adalah piutang yang terlambat tertagih dan persediaan yang menumpuk.Persediaan yang terlalu banyak berarti sebagian kas perusahaan berubah menjadi barang yang belum terjual. Piutang yang tidak segera tertagih berarti penjualan sudah terjadi, tetapi uangnya belum tersedia untuk membiayai operasional.Di sinilah pentingnya memonitor umur piutang.Invoice yang belum dibayar selama 30 hari tentu membutuhkan perhatian yang berbeda dengan piutang berumur 60 atau 90 hari. Semakin lama collection tertunda, semakin besar pula tekanan terhadap kas operasional.Dengan kata lain, laba menjawab pertanyaan “apakah bisnis menghasilkan keuntungan?”Kas menjawab pertanyaan yang berbeda: “apakah perusahaan memiliki uang yang tersedia untuk menjalankan bisnis hari ini?”Keduanya sama-sama penting.5. Mengambil Keputusan Bisnis Hanya Berdasarkan FeelingPengusaha biasanya memiliki intuisi yang berkembang dari pengalaman, pemahaman pelanggan, dan pengetahuan terhadap industrinya.Persoalannya muncul ketika intuisi menjadi satu-satunya dasar keputusan.Amrina memberikan contoh produk yang terlihat sangat laris sehingga perusahaan terus menambah stok. Setelah datanya diperiksa, ternyata produk tersebut memiliki margin yang relatif tipis.Di saat bersamaan, terdapat produk lain yang penjualannya lebih lambat tetapi memberikan margin jauh lebih tinggi.Tanpa informasi tersebut, produk yang paling banyak terjual dapat dengan mudah dianggap sebagai produk terbaik.Hal yang sama dapat terjadi ketika bisnis ingin melakukan ekspansi.Cabang pertama terlihat ramai, sehingga perusahaan memutuskan segera membuka cabang berikutnya. Padahal, sebelum keputusan tersebut diambil perlu diperiksa apakah investasi cabang sebelumnya sudah mencapai break-even point, apakah tersedia kas untuk ekspansi, dan dari mana modal tambahan akan berasal.Karena itu, menurut Amrina:“Feeling itu boleh jadi pemicu. Tapi keputusan akhir wajib dicek pakai angka.”Data tidak menggantikan intuisi bisnis. Data berfungsi menguji apakah intuisi tersebut didukung oleh kondisi ekonomi bisnis yang sebenarnya.Lima Angka Yang Perlu Diperiksa Setiap MingguJika lima kesalahan tadi ditarik ke satu benang merah, masalah yang muncul bukan semata-mata bisnis tidak mampu menghasilkan penjualan.Yang sering kali belum berjalan adalah kemampuan perusahaan mencatat, membaca, dan mengubah angka menjadi dasar keputusan.Untuk membangun kebiasaan tersebut, Amrina menyarankan lima indikator yang sebaiknya dipantau secara berkala. Indikator Pertanyaan yang perlu dijawab Omzet Apakah penjualan naik atau turun dan apa yang mendorong perubahannya? Margin kotor Seberapa besar bagian penjualan yang tersisa setelah HPP? Saldo kas Berapa uang yang benar-benar tersedia untuk menjalankan operasional? Piutang jatuh tempo Penjualan mana yang belum berubah menjadi kas dan perlu segera ditagih? Beban terbesar Pos biaya mana yang paling banyak menggerus pendapatan perusahaan? Kelima angka tersebut menjadi lebih bernilai ketika dibaca secara bersamaan.Omzet dapat meningkat tetapi saldo kas menurun apabila piutang bertambah. Produk dapat mencetak volume penjualan tinggi tetapi memberikan margin kecil. Pengeluaran yang terlihat sepele per transaksi juga dapat berubah menjadi salah satu beban terbesar ketika dihitung sepanjang bulan.Inilah yang disebut Amrina sebagai kebutuhan untuk melihat bisnis secara “helicopter view”.Owner tidak harus mengawasi setiap transaksi secara individual. Namun, ia perlu memiliki gambaran yang cukup utuh untuk mendeteksi bagian bisnis yang memerlukan perhatian dan kemudian menelusurinya lebih dalam.Amrina menyebut omzet, margin kotor, saldo kas, piutang jatuh tempo, dan beban terbesar sebagai lima angka yang perlu diperiksa setiap minggu.Saat Accounting Tidak Lagi Sekadar Membuat LaporanAda insight lain yang cukup penting dari webinar ini: peran accounting dan owner perlu saling terhubung.Owner tidak cukup hanya bertanya, “Berapa omzet bulan ini?”Di sisi lain, tim accounting juga tidak seharusnya berhenti ketika laporan keuangan selesai dibuat.Nilai berikutnya muncul ketika accounting dapat menjelaskan apa arti angka tersebut bagi bisnis.Mengapa suatu beban meningkat? Mengapa penjualan naik tetapi saldo kas turun? Mengapa satu produk sangat laris tetapi marginnya kecil? Apakah posisi kas cukup aman untuk melakukan ekspansi?Pada titik tersebut, laporan keuangan berubah dari kewajiban administratif menjadi perangkat pengambilan keputusan.Tim accounting bukan lagi hanya mencatat apa yang sudah terjadi, tetapi membantu owner memahami apa yang sedang terjadi dan keputusan apa yang perlu mendapatkan perhatian.Dari Lima Kesalahan Menuju Lima Kebiasaan Keuangan Yang Lebih SehatTidak semua perubahan harus dimulai dengan proyek transformasi yang kompleks.Dari materi webinar, lima kesalahan tadi dapat diterjemahkan menjadi perubahan sederhana tetapi fundamental. Kesalahan yang terjadi Kebiasaan yang dibangun Tidak mengetahui ke mana uang bergerak Pisahkan rekening dan catat seluruh transaksi Menganggap omzet sebagai laba Evaluasi laba bersih secara rutin Menentukan harga berdasarkan perkiraan Hitung HPP dan margin sebelum menetapkan harga Menganggap laba sama dengan kas Pantau kas, persediaan, dan umur piutang Mengambil keputusan berdasarkan feeling Gunakan indikator keuangan sebagai validasi keputusan Amrina menyarankan langkah praktis dimulai dari hal kecil: memisahkan rekening usaha, menghitung kembali HPP dan margin produk utama, menandai produk dengan margin tipis, serta mulai menggunakan data keuangan sebagai bagian dari monitoring bisnis sehari-hari.Bagaimana Mekari Jurnal Membantu Membangun Visibilitas Keuangan Bisnis?Semakin banyak transaksi, pelanggan, vendor, produk, maupun cabang yang dimiliki perusahaan, semakin sulit mempertahankan visibilitas ketika informasi masih tersebar di berbagai pencatatan manual.Dalam sesi berikutnya, Nia Ardela dari Mekari Jurnal menunjukkan bagaimana pencatatan transaksi dapat dihubungkan dengan laporan keuangan sehingga owner dan tim accounting memiliki sumber informasi yang sama.Pendekatan ini relevan dengan kelima masalah yang sebelumnya dibahas.Ketika penjualan dan pembelian tercatat dalam sistem, data tersebut dapat mengalir ke laporan laba rugi untuk membantu perusahaan membaca pendapatan, HPP, beban, hingga laba.Melalui fitur rekonsiliasi bank, transaksi masuk dan keluar dapat dicocokkan sehingga pergerakan uang lebih mudah ditelusuri.Pengelolaan inventory membantu perusahaan memantau persediaan yang tersedia, sementara informasi piutang memberikan visibilitas terhadap invoice yang belum dibayar.Selain itu, dashboard dan laporan memberikan pandangan yang lebih ringkas bagi owner untuk mengidentifikasi area yang membutuhkan perhatian sebelum masuk ke detail transaksi.Dalam webinar, Mekari Jurnal juga diperkenalkan sebagai sistem yang mencakup pencatatan transaksi, laporan keuangan, purchasing dan invoicing, inventory dan warehouse, custom dashboard, serta analisis laporan berbasis AI.Pada akhirnya, digitalisasi bukan sekadar mengganti spreadsheet dengan software.Nilai utamanya muncul ketika transaksi yang sebelumnya tersebar dapat membentuk satu sumber data yang membantu accounting bekerja lebih efisien dan owner memahami kondisi bisnis lebih cepat.Konsultasi dengan Mekari Jurnal Sekarang!Bisnis yang Laris Perlu Diikuti Keuangan yang SehatBisnis yang laris merupakan sinyal yang positif, tetapi belum cukup untuk menunjukkan bahwa kondisi keuangannya sehat.Di balik angka penjualan, perusahaan tetap perlu mengetahui berapa margin yang dihasilkan, berapa kas yang tersedia, seberapa cepat piutang tertagih, berapa banyak modal yang tertahan dalam stok, dan biaya apa yang paling banyak menyerap pendapatan.Lima kesalahan yang dibahas dalam webinar menunjukkan bahwa masalah keuangan sering kali bukan berasal dari kurangnya penjualan.Masalahnya dapat bermula ketika uang tidak tercatat dengan baik, omzet disalahartikan sebagai laba, harga tidak memiliki dasar biaya yang jelas, profit dianggap sama dengan cash, serta keputusan dibuat tanpa validasi data.Karena itu, pertumbuhan bisnis perlu diikuti dengan kedewasaan dalam mengelola informasi keuangan.Saat pencatatan menjadi lebih rapi dan angka dapat dibaca secara tepat waktu, owner tidak lagi hanya mengetahui bahwa bisnisnya sedang ramai.Ia dapat memahami dari mana keuntungan berasal, ke mana kas bergerak, bagian mana yang perlu diperbaiki, dan apakah kondisi keuangan benar-benar mendukung keputusan bisnis berikutnya.Terima kasih, dan semoga rekapan dari webinar recap kolaborasi dari Mekari Jurnal x Accounting Hack dapat membantu perkembangan bisnis Anda! Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Mekari Jurnal menjadi bagian dari ekosistem software terpadu Mekari dengan berbagai produk lainnya, seperti: Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini. Kategori : InspirasiWebinar Recap Artikel Sebelumnya Artikel Selanjutnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
Webinar Recap: Bisnis Laris tapi Uang Selalu Habis? Kenali 5 Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan Pengusaha Penjualan terus meningkat, pesanan berdatangan, dan omzet terlihat semakin besar. Dari luar, bisnis tampak sedang berada dalam kondisi yang baik.Namun, ada situasi yang cukup familiar bagi sebagian pengusaha: mengapa semakin ramai bisnisnya, uang di rekening justru terasa cepat habis?Persoalannya tidak selalu berada pada kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan. Ketika bisnis mulai bertumbuh, tantangan berikutnya justru muncul pada bagaimana setiap transaksi dicatat, bagaimana laba dibaca, bagaimana kas dijaga, hingga bagaimana angka keuangan digunakan dalam mengambil keputusan.Topik inilah yang menjadi pembahasan webinar kolaborasi Accounting Hack dan Mekari Jurnal bertajuk “Bisnis Laris tapi Uang Selalu Habis: 5 Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan Pengusaha.”Webinar menghadirkan Amrina Yulfajar, Founder Accounting Hack, yang membagikan perspektif dari pengalamannya sebagai akuntan dan konsultan.Sesi kemudian dilengkapi oleh Nia Ardela dari Mekari Jurnal yang membahas bagaimana sistem akuntansi dapat membantu bisnis membangun visibilitas keuangan yang lebih baik.Lalu, kesalahan apa yang membuat bisnis terlihat ramai tetapi kondisi keuangannya belum tentu sehat?Laris Belum Tentu Sehat: Memahami Omzet, Laba, dan KasSebelum membahas lima kesalahan utama, Amrina menekankan satu prinsip yang cukup sederhana tetapi sering terlewat ketika bisnis sedang mengejar pertumbuhan.“Omzet itu vanity. Laba itu sanity. Sedangkan kas itu reality.” ujar Amrina.Ketiganya memang saling berkaitan, tetapi menjelaskan kondisi yang berbeda.Omzet menunjukkan besarnya penjualan. Setelah dikurangi HPP dan berbagai biaya operasional, barulah perusahaan dapat melihat laba yang sebenarnya dihasilkan. Kas berbeda lagi.Penjualan dapat dicatat sebagai pendapatan meskipun pelanggan belum melakukan pembayaran.Persediaan memiliki nilai dalam laporan keuangan, tetapi belum menjadi uang yang dapat digunakan untuk membayar gaji. Laba juga dapat terlihat positif sementara sebagian besar kas masih tertahan pada piutang.Inilah sebabnya bisnis tidak cukup hanya memantau seberapa besar penjualannya.Menurut Amrina, persoalan yang sering ditemuinya justru berada pada cara bisnis mencatat uang, membaca angka keuangan, serta menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan.Dari sini, terdapat lima kesalahan yang perlu diperhatikan.1. Uang Masuk Banyak, Tetapi Tidak Jelas Ke Mana Keluarnya“Perasaan kemarin uangnya masih ada. Mengapa sekarang tinggal segini?”Pertanyaan tersebut sering kali bukan disebabkan oleh satu pengeluaran besar, melainkan berbagai transaksi kecil yang tidak tercatat atau sulit ditelusuri.Salah satu contoh yang dibahas dalam webinar adalah ketika rekening bisnis masih digunakan untuk membayar kebutuhan pribadi. Uang perusahaan dan pemilik pada akhirnya bercampur sehingga saldo rekening tidak lagi memberikan gambaran yang jelas mengenai posisi kas usaha.Masalah yang sama dapat muncul ketika nota tidak tersimpan, transaksi dilakukan tanpa keterangan, atau biaya seperti parkir, ongkos kirim, bahan bakar, dan konsumsi dianggap terlalu kecil untuk dicatat.Secara individual nilainya mungkin terlihat tidak material. Namun, ketika terjadi berulang kali, jumlahnya bisa menjadi signifikan.Amrina memberikan ilustrasi bahwa kebocoran Rp50.000 per hari saja dapat terakumulasi menjadi sekitar Rp18 juta dalam satu tahun.Yang menjadi persoalan sebenarnya bukan semata besarnya biaya tersebut, melainkan hilangnya kemampuan bisnis untuk menjelaskan setiap pergerakan uangnya.Ketika transaksi tidak memiliki dokumentasi dan klasifikasi yang jelas, owner maupun tim accounting akan kesulitan menjawab pertanyaan sederhana: uang masuk berasal dari mana dan uang keluar digunakan untuk apa?Karena itu, fondasinya dimulai dari pemisahan rekening pribadi dan bisnis, pencatatan transaksi secara konsisten, dokumentasi bukti transaksi, serta rekonsiliasi yang memungkinkan setiap angka ditelusuri kembali.2. Omzet Terlihat Besar, Tetapi Berapa Laba Yang Sebenarnya Tersisa?Kesalahan berikutnya adalah memperlakukan omzet seolah-olah seluruhnya merupakan keuntungan perusahaan.Misalnya, sebuah bisnis berhasil mencatat penjualan Rp100 juta dalam satu bulan.Angka tersebut terlihat menarik, tetapi Rp100 juta belum menjadi laba bersih.Masih terdapat biaya langsung untuk membuat atau memperoleh produk yang dijual atau HPP. Setelah itu, perusahaan perlu membayar gaji, sewa, listrik, marketing, iklan, logistik, dan berbagai biaya operasional lainnya.Barulah setelah seluruh komponen tersebut diperhitungkan perusahaan dapat mengetahui berapa laba yang benar-benar dihasilkan.Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya “berapa omzet bulan ini?”, tetapi “berapa bagian dari omzet tersebut yang akhirnya menjadi laba?”Masalah menjadi lebih serius ketika data laba rugi tidak tersedia tepat waktu.Dalam webinar, Amrina menceritakan pengalaman menghadapi bisnis dengan omzet besar yang masih mengandalkan spreadsheet dan memperbarui data accounting secara berkala. Akibatnya, ketika owner ingin mengetahui profit aktual atau menelusuri suatu biaya, jawabannya tidak selalu tersedia saat dibutuhkan.Pada kondisi seperti ini, laporan keuangan kehilangan sebagian fungsi strategisnya.Laporan laba rugi seharusnya bukan sekadar dokumen yang selesai dibuat setelah periode berakhir. Namun perlu dipantau secara berkala agar informasi tersebut membantu owner memahami apakah pertumbuhan penjualan benar-benar diikuti pertumbuhan laba dan biaya apa yang sedang menekan profitabilitas.3. Jangan Menentukan Harga Sebelum Memahami HPP dan MarginKompetitor menjual produk Rp15.000. Agar lebih menarik, bisnis memutuskan menjualnya Rp14.000.Secara komersial strategi tersebut mungkin terlihat agresif. Namun, ada pertanyaan yang perlu dijawab lebih dulu: apakah harga tersebut masih menghasilkan margin yang sehat?Dalam webinar, Amrina menggunakan contoh sederhana sebuah produk dengan harga jual Rp12.000 dan HPP Rp7.500.Dengan struktur tersebut, margin sebelum diskon berada di angka Rp4.500.Ketika perusahaan memberikan diskon 20%, margin tersisa sekitar Rp2.100. Artinya, potongan harga sebesar 20% dapat menghabiskan lebih dari separuh keuntungan per produk.Belum lagi apabila bisnis perlu menanggung biaya platform marketplace, pembayaran, promosi, atau logistik.Contoh tersebut menunjukkan mengapa pricing tidak dapat dilepaskan dari HPP.Bagi bisnis F&B, komponen bahan baku perlu diperhitungkan secara detail. Pada perusahaan manufaktur, kompleksitasnya bahkan lebih tinggi karena biaya perlu ditelusuri sepanjang proses transformasi bahan baku menjadi barang jadi.Karena itu, diskon dan harga seharusnya tidak ditetapkan hanya karena ingin berada di bawah kompetitor.Bisnis perlu memahami hubungan antara HPP, harga jual, dan margin terlebih dahulu.Perspektif ini juga mengubah cara perusahaan melihat produk terlaris. Produk dengan volume penjualan tertinggi belum tentu menjadi produk yang memberikan kontribusi laba terbesar.4. Untung di Laporan Belum Tentu Berarti Kas TersediaSalah satu kesalahpahaman yang paling berisiko adalah menganggap laba otomatis berarti perusahaan memiliki kas yang cukup.Padahal, keduanya dapat bergerak secara berbeda.Dalam webinar, Amrina memberikan gambaran perusahaan yang membeli bahan secara tunai, kemudian menjual produknya kepada pelanggan dengan termin pembayaran 60 hari.Secara accounting, penjualan dapat tercatat sebagai pendapatan. Akan tetapi, uang dari pelanggan belum berada di rekening.Pada saat yang sama, perusahaan tetap harus membayar gaji, sewa, vendor, dan berbagai biaya operasional lainnya.Akibatnya, perusahaan dapat terlihat untung di laporan tetapi mengalami tekanan kas pada rekening.Menurut pengalaman Amrina, dua penyebab yang sering muncul dalam kondisi tersebut adalah piutang yang terlambat tertagih dan persediaan yang menumpuk.Persediaan yang terlalu banyak berarti sebagian kas perusahaan berubah menjadi barang yang belum terjual. Piutang yang tidak segera tertagih berarti penjualan sudah terjadi, tetapi uangnya belum tersedia untuk membiayai operasional.Di sinilah pentingnya memonitor umur piutang.Invoice yang belum dibayar selama 30 hari tentu membutuhkan perhatian yang berbeda dengan piutang berumur 60 atau 90 hari. Semakin lama collection tertunda, semakin besar pula tekanan terhadap kas operasional.Dengan kata lain, laba menjawab pertanyaan “apakah bisnis menghasilkan keuntungan?”Kas menjawab pertanyaan yang berbeda: “apakah perusahaan memiliki uang yang tersedia untuk menjalankan bisnis hari ini?”Keduanya sama-sama penting.5. Mengambil Keputusan Bisnis Hanya Berdasarkan FeelingPengusaha biasanya memiliki intuisi yang berkembang dari pengalaman, pemahaman pelanggan, dan pengetahuan terhadap industrinya.Persoalannya muncul ketika intuisi menjadi satu-satunya dasar keputusan.Amrina memberikan contoh produk yang terlihat sangat laris sehingga perusahaan terus menambah stok. Setelah datanya diperiksa, ternyata produk tersebut memiliki margin yang relatif tipis.Di saat bersamaan, terdapat produk lain yang penjualannya lebih lambat tetapi memberikan margin jauh lebih tinggi.Tanpa informasi tersebut, produk yang paling banyak terjual dapat dengan mudah dianggap sebagai produk terbaik.Hal yang sama dapat terjadi ketika bisnis ingin melakukan ekspansi.Cabang pertama terlihat ramai, sehingga perusahaan memutuskan segera membuka cabang berikutnya. Padahal, sebelum keputusan tersebut diambil perlu diperiksa apakah investasi cabang sebelumnya sudah mencapai break-even point, apakah tersedia kas untuk ekspansi, dan dari mana modal tambahan akan berasal.Karena itu, menurut Amrina:“Feeling itu boleh jadi pemicu. Tapi keputusan akhir wajib dicek pakai angka.”Data tidak menggantikan intuisi bisnis. Data berfungsi menguji apakah intuisi tersebut didukung oleh kondisi ekonomi bisnis yang sebenarnya.Lima Angka Yang Perlu Diperiksa Setiap MingguJika lima kesalahan tadi ditarik ke satu benang merah, masalah yang muncul bukan semata-mata bisnis tidak mampu menghasilkan penjualan.Yang sering kali belum berjalan adalah kemampuan perusahaan mencatat, membaca, dan mengubah angka menjadi dasar keputusan.Untuk membangun kebiasaan tersebut, Amrina menyarankan lima indikator yang sebaiknya dipantau secara berkala. Indikator Pertanyaan yang perlu dijawab Omzet Apakah penjualan naik atau turun dan apa yang mendorong perubahannya? Margin kotor Seberapa besar bagian penjualan yang tersisa setelah HPP? Saldo kas Berapa uang yang benar-benar tersedia untuk menjalankan operasional? Piutang jatuh tempo Penjualan mana yang belum berubah menjadi kas dan perlu segera ditagih? Beban terbesar Pos biaya mana yang paling banyak menggerus pendapatan perusahaan? Kelima angka tersebut menjadi lebih bernilai ketika dibaca secara bersamaan.Omzet dapat meningkat tetapi saldo kas menurun apabila piutang bertambah. Produk dapat mencetak volume penjualan tinggi tetapi memberikan margin kecil. Pengeluaran yang terlihat sepele per transaksi juga dapat berubah menjadi salah satu beban terbesar ketika dihitung sepanjang bulan.Inilah yang disebut Amrina sebagai kebutuhan untuk melihat bisnis secara “helicopter view”.Owner tidak harus mengawasi setiap transaksi secara individual. Namun, ia perlu memiliki gambaran yang cukup utuh untuk mendeteksi bagian bisnis yang memerlukan perhatian dan kemudian menelusurinya lebih dalam.Amrina menyebut omzet, margin kotor, saldo kas, piutang jatuh tempo, dan beban terbesar sebagai lima angka yang perlu diperiksa setiap minggu.Saat Accounting Tidak Lagi Sekadar Membuat LaporanAda insight lain yang cukup penting dari webinar ini: peran accounting dan owner perlu saling terhubung.Owner tidak cukup hanya bertanya, “Berapa omzet bulan ini?”Di sisi lain, tim accounting juga tidak seharusnya berhenti ketika laporan keuangan selesai dibuat.Nilai berikutnya muncul ketika accounting dapat menjelaskan apa arti angka tersebut bagi bisnis.Mengapa suatu beban meningkat? Mengapa penjualan naik tetapi saldo kas turun? Mengapa satu produk sangat laris tetapi marginnya kecil? Apakah posisi kas cukup aman untuk melakukan ekspansi?Pada titik tersebut, laporan keuangan berubah dari kewajiban administratif menjadi perangkat pengambilan keputusan.Tim accounting bukan lagi hanya mencatat apa yang sudah terjadi, tetapi membantu owner memahami apa yang sedang terjadi dan keputusan apa yang perlu mendapatkan perhatian.Dari Lima Kesalahan Menuju Lima Kebiasaan Keuangan Yang Lebih SehatTidak semua perubahan harus dimulai dengan proyek transformasi yang kompleks.Dari materi webinar, lima kesalahan tadi dapat diterjemahkan menjadi perubahan sederhana tetapi fundamental. Kesalahan yang terjadi Kebiasaan yang dibangun Tidak mengetahui ke mana uang bergerak Pisahkan rekening dan catat seluruh transaksi Menganggap omzet sebagai laba Evaluasi laba bersih secara rutin Menentukan harga berdasarkan perkiraan Hitung HPP dan margin sebelum menetapkan harga Menganggap laba sama dengan kas Pantau kas, persediaan, dan umur piutang Mengambil keputusan berdasarkan feeling Gunakan indikator keuangan sebagai validasi keputusan Amrina menyarankan langkah praktis dimulai dari hal kecil: memisahkan rekening usaha, menghitung kembali HPP dan margin produk utama, menandai produk dengan margin tipis, serta mulai menggunakan data keuangan sebagai bagian dari monitoring bisnis sehari-hari.Bagaimana Mekari Jurnal Membantu Membangun Visibilitas Keuangan Bisnis?Semakin banyak transaksi, pelanggan, vendor, produk, maupun cabang yang dimiliki perusahaan, semakin sulit mempertahankan visibilitas ketika informasi masih tersebar di berbagai pencatatan manual.Dalam sesi berikutnya, Nia Ardela dari Mekari Jurnal menunjukkan bagaimana pencatatan transaksi dapat dihubungkan dengan laporan keuangan sehingga owner dan tim accounting memiliki sumber informasi yang sama.Pendekatan ini relevan dengan kelima masalah yang sebelumnya dibahas.Ketika penjualan dan pembelian tercatat dalam sistem, data tersebut dapat mengalir ke laporan laba rugi untuk membantu perusahaan membaca pendapatan, HPP, beban, hingga laba.Melalui fitur rekonsiliasi bank, transaksi masuk dan keluar dapat dicocokkan sehingga pergerakan uang lebih mudah ditelusuri.Pengelolaan inventory membantu perusahaan memantau persediaan yang tersedia, sementara informasi piutang memberikan visibilitas terhadap invoice yang belum dibayar.Selain itu, dashboard dan laporan memberikan pandangan yang lebih ringkas bagi owner untuk mengidentifikasi area yang membutuhkan perhatian sebelum masuk ke detail transaksi.Dalam webinar, Mekari Jurnal juga diperkenalkan sebagai sistem yang mencakup pencatatan transaksi, laporan keuangan, purchasing dan invoicing, inventory dan warehouse, custom dashboard, serta analisis laporan berbasis AI.Pada akhirnya, digitalisasi bukan sekadar mengganti spreadsheet dengan software.Nilai utamanya muncul ketika transaksi yang sebelumnya tersebar dapat membentuk satu sumber data yang membantu accounting bekerja lebih efisien dan owner memahami kondisi bisnis lebih cepat.Konsultasi dengan Mekari Jurnal Sekarang!Bisnis yang Laris Perlu Diikuti Keuangan yang SehatBisnis yang laris merupakan sinyal yang positif, tetapi belum cukup untuk menunjukkan bahwa kondisi keuangannya sehat.Di balik angka penjualan, perusahaan tetap perlu mengetahui berapa margin yang dihasilkan, berapa kas yang tersedia, seberapa cepat piutang tertagih, berapa banyak modal yang tertahan dalam stok, dan biaya apa yang paling banyak menyerap pendapatan.Lima kesalahan yang dibahas dalam webinar menunjukkan bahwa masalah keuangan sering kali bukan berasal dari kurangnya penjualan.Masalahnya dapat bermula ketika uang tidak tercatat dengan baik, omzet disalahartikan sebagai laba, harga tidak memiliki dasar biaya yang jelas, profit dianggap sama dengan cash, serta keputusan dibuat tanpa validasi data.Karena itu, pertumbuhan bisnis perlu diikuti dengan kedewasaan dalam mengelola informasi keuangan.Saat pencatatan menjadi lebih rapi dan angka dapat dibaca secara tepat waktu, owner tidak lagi hanya mengetahui bahwa bisnisnya sedang ramai.Ia dapat memahami dari mana keuntungan berasal, ke mana kas bergerak, bagian mana yang perlu diperbaiki, dan apakah kondisi keuangan benar-benar mendukung keputusan bisnis berikutnya.Terima kasih, dan semoga rekapan dari webinar recap kolaborasi dari Mekari Jurnal x Accounting Hack dapat membantu perkembangan bisnis Anda! Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Mekari Jurnal menjadi bagian dari ekosistem software terpadu Mekari dengan berbagai produk lainnya, seperti: Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini.