Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Akuntansi Positif: Pengertian, Teori, Fungsi dan Penerapan dalam Praktik Akuntansi Perusahaan

Tayang
Di tulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Teori akuntansi positif berfokus pada penjelasan dan prediksi mengapa manajemen memilih metode akuntansi tertentu berdasarkan insentif ekonomi, kontrak, dan kondisi bisnis
  • PAT menempatkan laporan keuangan sebagai hasil keputusan rasional manajemen yang dipengaruhi struktur bonus, utang, serta tekanan politik
  • Melalui tiga hipotesis utama PAT membantu memahami bagaimana motif pemilihan kebijakan akuntansi memengaruhi metode pelaporan keuangan

Akuntasi positif mengacu pada apa yang sebenarnya terjadi dalam praktik pelaporan ketika manajemen mengambil dan memilih sebuah metode atau kebijakan akuntansi.

Kondisi ini menimbulkan satu pertanyaan  mendasar, yaitu “mengapa perusahaan memilih metode akuntansi tertentu?”. Pertanyaan ini yang kemudian menjadi aspek vital dalam teori akuntansi positif.

Konsep ini berbeda dengan pendekatan “apa yang seharusnya dilakukan”, di mana akuntansi positif lebih mengambil pendekatan “apa yang benar-benar terjadi dalam praktik akuntansi di lapangan“.

Studi dari klien kami menunjukkan bahwa memanfaatkan software akuntansi membuat pengolahan data finansial 60% lebih cepat dan lebih kredibel

Artikel dari Mekari Jurnal akan mengulas secara lengkap mengenai teori akuntansi positif serta penerapannya dalam konteks perusahaan.

Apa Itu Akuntansi Positif?

Teori akuntansi positif memberikan penjelasan logis mengenai alasan mengapa manajer memilih metode atau regulasi akuntansi tertentu di lapangan secara prediktif dan deskriptif.

Teori ini menjadi alat yang efektif untuk mendeskripsikan apa yang terjadi, lalu berupaya menerangkan mengapa dan kapan hal itu terjadi.

Kerangka konsep akuntansi positif bertumpu pada keyajikan bahwa pelaku dalam dunia bisnis merupakan individu  rasional yang bertindak demi kepentingan diri sendiri.

Pendekatan ini cukup berbeda dengan akuntansi normatif, yang perbedaannya dapat Anda simak dalam tabel perbandingan berikut:

Aspek Akuntansi Positif Akuntansi Normatif
Fokus utama Menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi Merekomendasikan praktik akuntansi terbaik
Pertanyaan dasar “Mengapa ini dilakukan?” “Apa yang seharusnya dilakukan?”
Pendekatan Empiris, berbasis data dan observasi Preskriptif, berbasis nilai & logika
Dasar teori Perilaku individu dan insentif ekonomi Konsep keadilan, kewajaran, dan standar ideal
Contoh penerapan Menjelaskan mengapa manajemen memilih FIFO Merekomendasikan metode pencatatan yang “benar”

Perbedaan utama akan terlihat jelas dari bagaimana teori diterapkan dalam kehidupan nyata.

Teori normatif sering kali dianggap sebagai opini subjektif karena didasarkan pada asumsi ideal yang sulit diuji secara ilmiah. Sebaliknya, akuntansi positif menggunakan pengamatan pasar untuk memvalidasi teori.

Jika kita mengambil kasus yang berkaitan dengan perilaku manajemen dan audit kualitas laporan keuangan, akuntansi positif mampu memberikan kerangka berpikir yang jauh lebih tajam.

Fondasi Teoritis Positive Accounting Theory (PAT)

Teori akuntansi positif atau dikenal dengan istilah Positive Accounting Theory pertama kali diperkenalkan oleh Ross L. Watts dan Jerold L. Zimmerman melalui serangkaian makalah akademis yang dipublikasikan pada akhir 1970-an.

Lewat beberapa karyanya, seperti Towards a Positive Theory of the Determination of Accounting Standards (1978), Watts dan Zimmerman berargumen bahwa teori akuntansi konvesional terlalu “normatif” tetapi minim penjelasan tentang apa yang benar-benar terjadi di lapangan..

Melalui ini, teori PAT tidak berfokus dari angka saja, namun sangat relevan dengan psikologi ekonomi yang ada dibalik angka tersebut.

Terdapat juga dua konsep besar dalam ekonomi yang melandasi teori akuntansi positif, yaitu:

1. Agency Theory atau Teori Keagenan

Teori ini menjelaskan hubungan antara principal dan manajemen sebagai agent yang menciptakan konflik kepentingan alami.

Biasanya, manajemen bertindak demi keuntungan pribadi, sedangkan pemegang saham tidak selalu selaras dengan tindakan tersebut sehingga konflik bermain dalam arena ini.

2. Efficient Market Hypothesis

Teori ini berasumsi bahwa pasar modal bereaksi terhadap informasi akuntansi sehingga keputusan manajemen memiliki konsekuensi nyata terhadap harga saham, biaya utang, dan persepsi regulator.

Hipotesis Utama dalam Teori Akuntansi Positif

Lebih lanjut, Watts dan Zimmerman merumuskan tiga hipotesis inti dalam teori akuntansi positif yang menjelaskan setiap motivasi yang mendorong manajemen memilih kebijakan akuntansi tertentu.

Ketiga hipotesis ini menjadi kunci bagi para profesional ketika ingin membaca perilaku akuntansi di perusahaan mana pun.

1. Bonus Plan Hypothesis (Hipotesis Rencana Bonus)

Hipotesis rencana bonus menyatakan bahwa manajer cenderung mengambil keputusan demi menaikkan laba yang bertujuan agar memaksimalkan bonus yang mereka terima.

Contoh keputusan yang diambil, seperti menunda biaya pemeliharaan atau mempercepat pengakuan penjualan di akhir periode. Keputusan ini menciptakan laporan keuangan yang terlihat bersi, meskipun kurang konservatif.

Implikasi praktisnya adalah pengguna perlu memperhatikan struktur kompensasi manajemen saat memilih kebijakan akuntansi.

2. Debt Covenant Hypothesis (Hipotesis Perjanjian Utang)

Hipotesis ini umumnya berkaitan dalam hubungan dengan pihak bank yang sering kali memiliki batasan rasio keuangan dalam kontrak utang mereka.

JIka perusahaan mendekati batas ini, manajemen memiliki insentif kuat untuk memanipulasi angka akuntansi agar terhindar dari pelanggaran perjanjian.

Implikasi praktisnya, perusahaan dengan beban utang tinggi cenderung rentan memilih kebijakan akuntansi yang bersifat opurtunistik.

3. Political Cost Hypothesis (Hipotesis Biaya Politik)

Hipotesis yang terakhir lebih relevan terjadi pada perusahaan besar dengan visibilitas tinggi. Perusahaan ini cenderung mengambil kebijakan akuntansi yang menurunkan laba yang dilaporkan, agar mengurangi tekanan politik dan regulasi.

Ketika sebuah perusahaan melaporkan laba yang besar, ini akan menarik perhatian publik, media, serta regulator yang berujung pada pembayaran pajak lebih tinggi.

Demi menghindari kondisi ini, manajemen memilih metode depresiasi yang lebih cepat atau meningkatkan pengeluaran untuk tanggung jawab sosial (CSR).

Penerapan Akuntansi Positif di Perusahaan

Dalam konteks bisnis di Indonesia, banyak perusahaan yang menyesuaikan kebijakan yang diambil berdasarkan kondisi makro.

Beberapa penerapan akuntansi positif yang ditemukan pada aktivitas sehari-hari umumnya berkaitan dengan:

1. Pemilihan Metode Depresiasi

Metode depresiasi aset tetap menjadi contoh klasik penerapan akuntansi positif, di mana manajer  menggunakannya untuk menghasilkan beban depresiasi yang lebih merata dan lebih rendah, sehingga menjaga angka laba tetap stabil

2. Pengakuan Pendapatan

Ini sering terlihat pada sektor properti di Indonesia, khususnya dari cara mengakui penjualan unit sangat memengaruhi performa keuangan.

Manajer seringkali didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi ekspektasi pasar, yang sejalan dengan prediksi PAT tentang manajemen laba.

3. Pengelolaan Persediaan

Pilihan antara metode FIFO (First In, First Out) dan rata-rata bergerak dalam pencatatan persediaan juga mencerminkan insentif yang diprediksi PAT.

Dalam kondisi inflasi, FIFO menghasilkan nilai persediaan akhir lebih tinggi dan harga pokok penjualan lebih rendah.

Manfaat dan Keterbatasan Akuntansi Positif

Manfaat menerapkan teori dan pendekatan akuntansi positif sebenarnya sangat besar bagi ekosistem bisnis.

Melalui pendekatannya, kita dapat memahami mengapa perusahaan mengambil keputusan yang mereka pilih.

DI mata investor, teori ini bisa menjadi alat untuk deteksi dini pada praktik manajemen laba yang berlebihan. Sedangkan bagi regulator, menjadi dasar untuk merancang standar yang lebih kokoh terhadap tindakan manipulasi.

Walaupun begitu masih terdapat keterbatasan yang ditemukan, seperti tidak memberikan jawaban tentang praktik mana yang “terbaik” atau paling etis atau “apa yang seharusnya dilakukan?”.

Oleh karena itu, pendekatan normatif masih tetap diperlukan karena PAT terlalu mengedepankan rasionalitas sempurna.

Kesimpulan

Itulah penjelasan seputar teori dan pendekatan akuntansi positif dalam praktik manajemen nyata di dalam perusahaan.

Melalui teori ini mengajarkan kita bahwa analisis tidak hanya melihat apa yang tertulis di neraca, tetapi juga memahami motivasi manusia di baliknya.

Meskipun memiliki keterbatasan dalam hal etika normatif, kekuatan data empirisnya tetap tak tergantikan.

Ingin memudahkan penerapan praktik akuntansi sehari-hari yang konsisten dengan teori yang berlaku? Memahami teori akuntansi positif adalah langkah cerdas untuk setiap profesional, namun eksekusinya membutuhkan sistem yang handal.

Mekari Jurnal sebagai software akuntansi berbasis cloud bagian dari ekosistem software terintegrasi Mekari yang membantu merekam transaksi, merekonsiliasi dengan bank, dan menyusun laporan secara otomatis, sehingga Anda dapat menerapkan kebijakan akuntansi terkini tanpa perlu repot lagi.

Untuk analisis data keuangan yang lebih handal, Mekari Jurnal turut menghadirkan fitur analisa  berbasis AI yang memberikan insight instan untuk mendukung keputusan strategis berbasis data.

Coba GRATIS sekarang!

Saya Mau Bertanya Ke Sales Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

Binus University, “Positive Accounting Theory (Part 1)”.

Unesa, “The Positive Accounting Theory Model and CEO Narcissism to Detect Earnings Management Practices of Public Companies in Indonesia”.

EBSCO, “Positive accounting”.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami