Belakangan ini kita sering mendengar istilah social enterprise yang menjadi tren baru di dalam dunia bisnis. Sedikit demi sedikit kata entrepreneur akan mulai tergantikan dengan istilah tersebut. Dulu istilah entrepreneur dikenal sebagai pekerjaan yang sangat populer karena dapat menghidupi diri sendiri dari apa yang telah dikembangkan.

Pada umumnya bisnis tersebut akan menjadi brand terkenal yang dikenal banyak orang sehingga menguntungkan pemiliknya sendiri. Sekarang, kebanyakan anak muda termasuk para generasi milenial mengembangkan usahanya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat untuk kehidupan sosial sekitarnya.

Social enterprise atau perusahaan sosial adalah sebuah ide bisnis yang menggabungkan antara konsep dasar berdagang yaitu mencari keuntungan dengan kewajiban kita membantu lingkungan sosial, di mana sebuah perusahaan akan memaksimalkan pendapatannya sejalan dengan manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Jadi secara prinsip, hasil keuntungan akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mendanai program sosial yang sudah direncanakan. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Baca juga: Peluang Besar Bisnis Minimarket yang Perlu Dicoba

 

Berkembangnya Social Enterprise di Indonesia

Di Indonesia sendiri, kegiatan-kegiatan social entrepreneurship memiliki bentuk suatu usaha yang tidak mencari keuntungan, namun hanya membutuhkan dukungan operasional. Tujuan dari usaha tersebut dilakukan adalah semata-mata hanya untuk kepentingan masyarakat. Sehingga dengan kata lain, usaha tersebut tidak berorientasi pada mencari profit saja.

Seseorang yang ingin menjadi seorang entrepreneur maupun social entrepreneur, harus memiliki motivasi kuat, passion serta pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud meliputi segala hal yang berkaitan dengan bisnis dan pasar. Selain hal tersebut, social entrepreneur juga harus memiliki sifat yang teladan yang bertujuan untuk menggerus iklim ekonomi yang kurang berpihak pada permasalahan sosial masyarakat seperti liberalisme dan kapitalisme yang sering terjadi saat ini.

Indonesia saat ini membutuhkan banyak pelaku baru di dalam bidang social entrepreneurship agar masalah kemiskinan, pendidikan, kesehatan serta lapangan pekerjaan dapat diselesaikan dengan kewirausahaan. Dengan begitu maka akan tercipta negara yang lebih sejahtera, makmur dan adil merata.

 

Bidang Social Enterprise yang Dapat Dilakukan

Ada banyak permasalahan di Indonesia yang perlu dipecahkan. Anda dapat memilih masalah yang paling dekat dengan diri dan kehidupan Anda sehari-hari. Sesuatu yang memang seringkali mengganggu pikiran Anda atau menggerakkan Anda untuk lebih dari yang lain. Setidaknya ada 4 bidang yang paling menjanjikan untuk social enterprise saat ini, sesuai dengan Sustainability Development Goals (SDG) yaitu:

  1. Energi yang terjangkau. Berbagai upaya untuk mendukung sumber energi yang terjangkau dan terbarukan memang sedang marak. Pendanaan juga terus digelontorkan secara global untuk berbagai upaya dalam bidang ini.
  2. Pekerjaan yang layak. Menjadi wirausahawan dan menciptakan lapangan pekerjaan merupakan salah satu hal yang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
  3. Konsumsi dan proses produksi yang bertanggung jawab. Konsumerisme dan produksi yang berlebihan akan membuat banyak produk pertanian yang tidak terpakai atau membusuk. Oleh karena itu, banyak mata yang terarah kepada usaha-usaha untuk mendukung konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.
  4. Aksi terhadap perubahan iklim. Setiap usaha yang berkontribusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim akan mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak.

Baca juga: 5 Tokoh Social Entrepreneur Asia Yang Bisa Anda Jadikan Panutan

 

Tips Membentuk Social Enterprise

Ketertarikan terhadap social entrepreneurship di Indonesia semakin luas. Semakin banyak orang yang ingin menjadi bagian dari arus ini, dan banyak juga yang kebingungan bagaimana memulainya. Berikut ini ada tips mudah bagaimana membentuk social enterprise:

1. Menyeimbangkan profit dan impact

Di dalam social enterprise terdapat double bottom line, yaitu ada komunitas yang diuntungkan, namun secara otomatis juga bisa mendapatkan profit dari kegiatan dilakukan. Semakin banyak komunitas blue collar yang diuntungkan, maka akan semakin banyak pula mendapatkan profit dari perusahaan yang menjadi channel.

2. Menjaga kepercayaan dari para channel

Dengan cara menjalin interaksi pihak-pihak yang sebenarnya butuh untuk melakukan kebaikan dengan para beneficiaries dan konten apa yang dilakukannya.

3. Menentukan salary

Menentukan gaji dapat dilakukan dengan prinsip “Enough for you to focus on your business”. Ketahui di level mana social enterprise yang sedang berjalan. Misalnya, jika profit bisa didapatkan di awal, maka profit dapat langsung dibagikan ke deviden.

Namun jika tidak, perumusan gaji bisa didasarkan pada tingkat kecukupan. Setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  • Kenali di stage mana social enterprise berada
  • Harus mencukupi kebutuhan
  • Sejauh mana Anda mau berkorban.

4. Mengenalkan business model ke publik

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendatangi berbagai business event untuk menumbuhkan awareness mengenai apa visi yang ingin dibawa. Kemudian, untuk membentuk tim di awal, gaet orang-orang yang memang mau membantu. Ceritakan passion di bisnis yang sedang dijalankan, dan jangan lupa untuk selalu menetapkan standar orang seperti apa yang dicari.

Baca juga: Tips Mengelola Arus Kas Bisnis Menggunakan Software Akuntansi

 

Bagi Anda yang ingin melakukan social enterprise, Anda harus memiliki cara kreatif untuk mendapatkan perhatian. Anda harus percaya diri saat memperkenalkan aktivitas bisnis Anda. Selain itu, melakukan engagement juga penting bagi keberlangsungan social enterprise.

Agar pengelolaan keuangan bisnis Anda tepat dan akurat, gunakan aplikasi akuntansi online seperti JURNAL. Karena memiliki fitur yang lengkap dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, Anda akan lebih praktis dalam mengelola bisnis.