Ketika menganalisa kesehatan keuangan dan potensi pertumbuhan suatu perusahaan, pemilik bisnis dan investor salah satunya bergantung pada nilai Rasio Keuangan. Dan tentu yang dicari adalah Rasio Keuangan yang menunjukkan bagaimana aktivitas perusahaan didanai dan seberapa efektif pendanaan itu digunakan. Dengan kata lain, investor ingin melihat bagaimana perusahaan secara optimal dan efektif menggunakan Struktur Modalnya.

Definisi Singkat Mengenai Struktur Modal

Struktur modal adalah alokasi utang dan ekuitas yang digunakan perusahaan untuk mendanai kegiatan operasional dan ekspansi perusahaan.

Modal ekuitas adalah dana yang ditanamkan oleh pemilik perusahaan kepada perusahaan dan laba ditahan yang mewakili laba dari tahun-tahun sebelumnya. Yang di mana dana tersebut tidak untuk didistribusikan kepada pemegang saham sebagai dividen. Akan tetapi dana tersebut lebih digunakan untuk pembiayaan utang atau ekspansi bisnis.

Sedangkan modal utang merupakan dana pinjaman perusahaan yang biasanya berupa obligasi jangka panjang dan instrumen utang lainnya. Dan instrumen utang tersebut digunakan untuk mendanai kegiatan operasional perusahaan.

Perusahaan cenderung berusaha untuk mengoptimalkan Struktur Modal mereka untuk mencapai fleksibilitas dan kondisi keuangan yang lebih sehat dan kuat. Mengoptimalkan Struktur Modal berarti perusahaan harus mencapai nilai Rasio Keuangan tertentu yang merefleksikan penggunaan utang dan ekuitas secara efektif bagi kelangsungan hidup perusahaan.

Rasio Keuangan yang paling merefleksikan optimalisasi Struktur Modal adalah Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt-to-Equity Ratio) dan WACC (Weighted Average Cost of Capital). Kedua jenis Rasio Keuangan tersebut terbukti sangat berpengaruh dalam merefleksikan optimalisasi Struktur Modal Perusahaan berdasarkan hasil dari beberapa penelitian terkait Struktur Modal.

Rasio Utang Terhadap Ekuitas (Debt-to-Equity Ratio)

Sesuai namanya, Rasio Utang terhadap Ekuitas membandingkan total liabilitas atau utang perusahaan dengan total pembiayaan dari ekuitasnya. Rasio Utang terhadap Ekuitas yang tinggi menunjukkan bahwa bisnis menerima proporsi pendanaan utang yang lebih besar daripada pendanaan ekuitasnya.

Rasio Utang terhadap Ekuitas yang lebih rendah biasanya menunjukkan kondisi bisnis yang lebih stabil secara finansial. Tidak seperti pembiayaan ekuitas, utang wajib dibayar kembali kepada pemberi pinjaman atau kreditur. Karena pembiayaan utang juga membutuhkan pembayaran pokok pinjaman dan bunga, utang bisa menjadi bentuk pembiayaan yang jauh lebih mahal daripada pembiayaan ekuitas. Perusahaan yang memanfaatkan utang dalam jumlah besar bisa jadi berisiko tidak dapat melunasi utang dan bunga yang dipinjam.

Rasio Utang terhadap Modal di Mata Investor dan Kreditur

Kreditur memandang perusahaan yang memiliki Rasio Utang terhadap Ekuitas tinggi akan lebih berisiko. Hal ini bisa jadi dikarenakan para investor tidak ingin mendanai perusahaan terkait sebanyak pendanaan dari kreditur. Dengan kata lain, dana dari investor tidak memiliki porsi sebanyak dari para kreditor. Implikasinya, investor tidak ingin mendanai operasi bisnis karena perusahaan tidak memiliki kinerja yang baik. Kurangnya kinerja mungkin juga menjadi alasan mengapa perusahaan mencari pembiayaan atau pendanaan lebih dari instrumen utang.

Sejumlah besar penggunaan utang umumnya juga dianggap sebagai tanda praktik bisnis yang berisiko. Aturannya, sumber dana untuk pembayaran atau pelunasan utang diharuskan terlepas dari pendapatan utama bisnis. Perusahaan dengan Rasio Utang terhadap Ekuitas yang tinggi dan mengalami penurunan performa keuangan harus terus melakukan pembayaran utangnya. Bahkan jika bisnis gagal menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupinya juga tetap wajib untuk melunasi utangnya. Tentu hal tersebut dengan cepat dapat menyebabkan pinjaman macet dan berakhir kebangkrutan.

Secara umum, Rasio Utang terhadap Modal yang lebih rendah disukai oleh investor dan kreditur.

Formulasi Rasio Utang terhadap Ekuitas adalah:

Total Liabilitas/Total Ekuitas

Sebagai contoh sederhana, PT Santuy memiliki informasi keuangan berupa total liabilitas jangka pendek dan panjang sejumlah Rp120.000.000 dan ekuitas pemegang saham sejumlah Rp230.000.000. Maka, nilai Rasio Utang terhadap Ekuitasnya adalah 0.52.

Weighted Average Cost of Capital (WACC)

WACC atau Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang adalah Rasio Keuangan yang menghitung biaya pendanaan perusahaan untuk memperoleh aset dengan membandingkan struktur utang dan ekuitas bisnis. Dengan kata lain, Rasio ini mengukur bobot dan biaya sebenarnya dari utang dan pengumpulan dana ekuitas untuk mendanai pembelian aset dan ekspansi modal baru berdasarkan tingkat Struktur Modal perusahaan saat ini.

Manajemen biasanya menggunakan Rasio ini untuk memutuskan apakah perusahaan harus menggunakan utang atau ekuitas untuk membiayai pembelian aset baru. Rasio ini terbilang sangat komprehensif karena Rasio ini merata-ratakan semua sumber modal. Sumber modal tersebut termasuk utang jangka panjang, saham biasa, saham preferen, dan obligasi. Dan tentunya Rasio ini juga sangat kompleks. Mencari tahu biaya utang mungkin terbilang cukup sederhana.

Obligasi dan utang jangka panjang diterbitkan dengan nominal pokok dan suku bunga yang dapat digunakan untuk menghitung biaya keseluruhannya. Namun untuk ekuitas, seperti halnya saham biasa dan saham preferen, tidak memiliki harga pasti. Dan untuk mengetahui nilai WACC, Anda harus menghitung harga ekuitas tersebut sebelum menerapkannya pada persamaan.

Itu sebabnya banyak investor dan kreditor cenderung tidak terlalu berfokus pada Rasio ini. Memperkirakan biaya ekuitas didasarkan pada beberapa asumsi berbeda yang dapat bervariasi dari para investor.

1. Fungsi WACC

Sederhananya, formulasi WACC membantu manajemen mengevaluasi apakah perusahaan harus membiayai pembelian aset baru dengan utang atau ekuitas dengan membandingkan kedua opsi biaya. Membiayai pembelian aset baru dengan utang atau ekuitas dapat membuat dampak besar pada profitabilitas perusahaan dan harga saham secara keseluruhan. Manajemen harus menggunakan persamaan WACC untuk menyeimbangkan harga saham, ekspektasi pengembalian investor, dan total biaya pembelian aset. Eksekutif dan dewan direksi menggunakan WACC untuk menilai apakah keputusan merger berpotensi baik atau buruk.

Di sisi lain, investor dan kreditor menggunakan WACC untuk mengevaluasi apakah suatu perusahaan layak diinvestasikan atau diberikan pinjaman. Persentase WACC yang tinggi mengindikasikan biaya keseluruhan pendanaan perusahaan lebih besar dan perusahaan akan memiliki lebih sedikit uang kas untuk didistribusikan kepada pemegang saham atau untuk pelunasan utang. Dengan meningkatnya biaya rata-rata modal, perusahaan cenderung tidak menciptakan nilai lebih bagi investor dan kreditur. Sehingga investor dan kreditur cenderung mencari peluang investasi dari perusahaan lain.

Formulasi untuk menghitung WACC adalah:

WACC = [Wd x Kd (1-tax)] + [Wp x Kp] + [Wr x Kr] + [We x Ke]

Keterangan:

WACC = biaya modal rata-rata tertimbang

Wd = proporsi utang dari modal

Wp = proporsi saham preferen dari modal

Wr = proporsi saham laba ditahan dari modal

We = proporsi saham biasa baru

Kd = biaya utang

Kp = biaya saham preferen

Kr = biaya laba ditahan

Ke = biaya saham biasa baru

2. Kompleksitas Penerapan WACC dari Sudut Pandang Analis Keuangan

Asumsikan perusahaan menghasilkan pengembalian (return) rata-rata sejumlah 15% dan memiliki biaya modal keseluruhan rata-rata 5% setiap tahun. Perusahaan pada dasarnya menghasilkan pengembalian 10% untuk setiap Rp1 yang diinvestasikan atau dipinjamkan. Seorang investor dan kreditur melihat perusahaan hanya akan menghasilkan Rp0,1 untuk setiap Rp1 yang diinvestasikan. Dan nilai Rp0,1 ini dapat didistribusikan kepada pemegang saham atau digunakan untuk melunasi utang.

Ketika dibalik, asumsikan bahwa perusahaan hanya menghasilkan pengembalian 10% pada akhir tahun dan memiliki biaya modal keseluruhan rata-rata 15%. Ini berarti perusahaan kehilangan Rp0,05 dari setiap 1 rupiah yang diinvestasikan karena biaya modalnya lebih tinggi daripada pengembaliannya. Tidak ada investor ataupun kreditur yang tertarik pada perusahaan seperti ini. Manajemen harus bekerja untuk merestrukturisasi pendanaan dan mengurangi biaya modal keseluruhan perusahaan.

Tidak mudah untuk menggunakan WACC sebagai indikator analisa keuangan. Ditambah terdapat banyak asumsi yang berbeda terkait penetapan biaya ekuitas. Itulah sebabnya banyak investor dan analis pasar modal cenderung menghasilkan angka WACC yang berbeda untuk satu perusahaan yang sama. Itu semua tergantung pada apa estimasi dan asumsi yang dipakai oleh masing-masing investor dan analis. Inilah sebabnya mengapa banyak investor menggunakan rasio ini hanya untuk tujuan spekulasi. Dan mereka cenderung menggunakan alat analisis atau Rasio Keuangan lain untuk keputusan investasi yang lebih konkrit dan tepat.

Kesimpulan

Rasio Utang terhadap Ekuitas dan WACC merupakan alat analisis yang selama ini dipakai manajemen untuk mencari keputusan Struktur Modal yang optimal. Dengan memahami kedua Rasio tersebut, setidaknya baik investor, kreditur, ataupun manajemen bisa mengetahui apakah perusahaan sudah menggunakan sumber pendanaan secara tepat dan efektif. Terkait Rasio Keuangan, Anda bisa melihat informasi tersebut dari informasi yang disediakan oleh Laporan Keuangan.

Terdapat fitur khusus dari beberapa Software Akuntansi yang bisa menghitung Rasio Keuangan terkait Laporan Keuangan yang dihasilkan secara otomatis. Salah satunya adalah Jurnal, Software Akuntansi Online yang tidak hanya menawarkan fitur akuntansi secara lebgkap, namun fitur perhitungan Rasio Keuangan secara otomatis. Fitur di Jurnal tersebut bernama Ringkasan Bisnis. Anda bisa melihat bagaimana cara menggunakan fitur Ringkasan bisnis dalam video guide ini:

 

Dengan Jurnal, diharapkan pencatatan dan pelaporan transaksi bisnis Anda bisa berjalan secaara efisien dan praktis. Ditambah dengan fitur Ringkasan Bisnis, manajemen bisa memanfaatkan Rasio Keuangan yang dihasilkan untuk keputusan Struktur Modalnya. Informasi lebih lanjut terkait produk Jurnal bisa Anda lihat di sini.