Metode FIFO dan Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Menjalankan Bisnis

Setiap perusahaan pasti memiliki sebuah metode yang dipilih untuk menjalankan inventarisasi. Inventarisasi biasanya menerapkan pengelompokan berdasarkan jenis barang tertentu sebagai persediaan. Persediaan tersebut merupakan aktiva yang siap dijual kembali dalam perdagangan. Salah satu metode yang bisa Anda terapkan untuk perusahaan Anda yaitu, FIFO.

FIFO (First-In, First-Out) adalah metode untuk menentukan harga pokok penjualan dengan cara mengasumsikan bahwa produk yang sudah terjual merupakan produk terlama dalam inventaris. Biaya yang dikeluarkan untuk produk terlama itulah yang digunakan dalam perhitungan. Singkatnya, metode FIFO akan menghapus produk paling awal yang masuk dari akun persediaan setiap terjadi penjualan. Misalnya, Anda menjalankan bisnis penjualan roti, maka roti yang terlebih dahulu dijual yaitu roti yang pertama kali masuk ke toko Anda. Perhitungan biaya dari roti yang terjual pertama itulah yang dijadikan sebagai biaya pokok penjualan.

Perusahaan yang Cocok Menggunakan FIFO

Perusahaan yang Cocok Menggunakan FIFO

Jika dilihat dari proses operasinya, perusahaan dibedakan menjadi dua, yaitu perusahaan manufaktur dan perusahaan dagang. Perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur biasanya mengategorisasikan inventaris menjadi tiga, yaitu barang baku, barang proses, dan barang jadi. Pengelompokan di bidang manufaktur ini berbeda dengan pengelompokan di bidang dagang karena fungsi dari keduanya memang berbeda. Ketika perusahaan manufaktur beroperasi untuk mengolah bahan baku menjadi barang jadi, perusahaan dagang langsung beroperasi menjual barang yang sudah didapat dalam bentuk jadi tanpa membutuhkan proses pengolahan. Akan tetapi, dua perusahaan yang proses operasinya berbeda itu sama-sama cocok menggunakan metode FIFO dalam inventarisasi dengan dua syarat.  

  1. Produsen Makanan

FIFO cocok diterapkan di perusahaan yang memproduksi makanan karena penjualan produk terlama akan menjadikan persediaan selalu fresh. Makanan yang telah diproduksi tapi penyimpanannya tumpang tindih akan membuat perusahaan Anda mengalami kesulitan saat proses distribusi. Produk terlama yang tidak segera dijual akan mengalami penurunan kualitas dan hal tersebut menyebabkan kerugian bagi perusahaan Anda.

  1. Perusahaan yang Menjual Produk Bertanggal Kadaluarsa

Produk makanan juga masuk dalam kategori ini. Akan tetapi, perusahaan seperti warung kelontong, minimarket, dan supermarket memiliki produk yang lebih beragam jenisnya dengan batasan kadaluarsa yang berbeda pula. Maka dari itu, metode FIFO sejalan dengan konsep penjualan mereka. Jika Anda merupakan pengusaha di bidang ini, Anda pasti akan meletakkan produk yang terlebih dahulu masuk ke gudang atau ke catatan inventaris pada bagian paling depan rak display agar produk tersebut diambil lebih dulu oleh pembeli.

Rata-rata, semua staf yang bertugas mendisplay produk akan membongkar sisa produk di rak, memasukkan produk baru di bagian paling belakang, baru kemudian memasukkan kembali produk terlama di bagian depan. Dengan cara seperti itu, persediaan akhir di gudang penyimpanan akan tetap tinggi dan cenderung stabil tapi pengeluaran tetap bergantung pada produk yang tersedia di rak display.

Cara Menghitung FIFO

Perusahaan yang Cocok Menggunakan FIFO

Pada awal tahun, perusahaan Anda, misalnya perusahaan roti, memiliki inventaris awal produk. Selama tahun itu, tentu perusahaan Anda membeli produk dan menjualnya. Pada akhir tahun Anda perlu melakukan pencatatan. Berikut cara menghitungnya menggunakan metode FIFO.

Asumsikan bahwa produk Anda dibuat dalam tiga gelombang selama tahun tersebut. Biaya dan kuantitas setiap gelombangnya yaitu :

Gelombang 1 : Jumlahnya 2.000 roti dengan biaya Rp8.000.000

Gelombang 2 : Jumlahnya 1.500 roti dengan biaya Rp7.000.000

Gelombang 3 : Jumlahnya 1.700 roti dengan biaya Rp7.700.000

Total yang diproduksi yaitu, 5.200 roti dengan biaya Rp22.700.000. Biaya rata-rata untuk memproduksi satu roti yaitu, Rp4.370.

Selanjutnya, Anda perlu menghitung unit biaya untuk setiap gelombangnya.

Gelombang 1 : Rp8.000.000/2.000 roti = Rp4.000

Gelombang 2 : Rp7.000.000/1.500 roti = Rp4.670

Gelombang 3 : Rp7.700.000/1.700 roti = Rp4.530

Asumsikan bahwa pada tahun ini perusahaan Anda berhasil menjual 4.000 roti dari 5.200 roti yang diproduksi. Anda tidak tahu produk dari gelombang mana yang terjual. Untuk menentukan biaya produk yang terjual menggunakan FIFO, Anda harus menganggap bahwa produk yang terjual merupakan produk tertua (pertama masuk). Jadi, perhitungan untuk 4.000 roti yang terjual yaitu :

  • 2.000 roti dari gelombang 1 bernilai masing-masing Rp. 4.000 terjual lebih dahulu dengan total Rp. 8.000.000.
  • 1. 500 roti dari gelombang 2 bernilai masing-masing Rp. 4.670 terjual berikutnya dengan total Rp. 7.005.000.
  • 500 roti dari gelombang 3 bernilai masing-masing Rp. 4.530 terjual paling akhir dengan total Rp. 2.265.000.

Jika dijumlah, total biaya dari 4.000 roti yang terjual adalah Rp. 17.270.000. Hasil perhitungan ini yang akan dianggap sebagai biaya pokok produksi.

Penghitungan di atas bisa Anda terapkan dengan penyesuaian untuk perusahaan Anda.

Baca Juga: Perbedaan Metode FIFO, LIFO, dan Average

Keuntungan FIFO

FIFO dianggap sebagai metode yang lebih logis dan terpercaya. Dengan metode ini, resiko penurunan kualitas barang karena terlalu lama disimpan, bisa diminimalisir. Selain itu, berikut beberapa keuntungan lain dari metode FIFO.

  1. Mudah Dipahami dan Diterima Secara Universal

FIFO mengikuti alur alami inventaris (produk tertua dijual terlebih dahulu, dengan perhitungan mengikuti biaya setiap gelombang produksi). Hal tersebut membuat pembukuan Anda menjadi lebih simpel juga bisa memperkecil kemungkinan kesalahan yang terjadi. Maka, wajar jika FIFO diterapkan di banyak perusahaan.

  1. Meminimalisir Pemborosan

Perusahaan yang benar-benar mengikuti FIFO akan selalu menjual inventaris tertua terlebih dahulu. Dengan begitu, biaya yang terbuang karena penurunan kualitas produk bisa dihindari. Produk yang tersisa tetap memiliki kualitas bagus dan bisa dijual dengan harga tinggi karena memang baru diproduksi. Pada situasi penjualan yang konstan, Anda bisa sangat diuntungkan.

  1. Laporan Keuangan Sulit Dimanipulasi

FIFO memberikan gambaran yang sangat akurat tentang penghitungan biaya perusahaan. Garis pengeluaran biaya bisa ditarik secara urut sejak proses produksi hingga penjualan per gelombang. Jika terjadi keraguan hasil saat penghitungan keuntungan atau bahkan seluruh penghitungan keuangan, Anda bisa melacaknya secara mudah. Dengan begitu, jika ada manipulasi yang mungkin dilakukan oleh pihak lain, akan mudah Anda temukan.

Kelemahan FIFO

Metode ini bisa mengakibatkan penghitungan pajak penghasilan yang lebih tinggi untuk bisnis Anda. Kesenjangan antara biaya (modal produksi) dan keuntungan dari metode ini lebih luas jika dibandingkan metode LIFO (Last In, First Out), metode kebalikannya. Anda juga perlu berhati-hati saat perusahaan mengambil keuntungan yang terlalu sedikit. Jika itu terjadi, Anda akan berada pada fase bahaya bahkan mengalami kerugian saat biaya produksi naik sedangkan angka-angka yang terlanjur Anda gunakan dalam perhitungan merupakan harga pokok, bukan harga aktual. Penjelasan di atas merupakan hal-hal yang perlu Anda pahami sebelum memutuskan untuk menerapkan FIFO pada perusahaan Anda. Jika Anda sudah tahu jenis perusahaan yang Anda jalankan, pertimbangkan baik-baik kelemahan FIFO untuk menyiapkan solusi saat perusahaan Anda memasuki fase penurunan.

[adrotate banner=5″]


PUBLISHED05 Feb 2020
Adif
Adif

SHARE THIS ARTICLE: