Mau Mulai Bisnis? Yuk, Kenali Harga Pokok Penjualan!

Harga pokok penjualan (HPP) bukanlah istilah yang asing untuk Anda dengar bukan? Terlebih untuk orang yang bekerja dalam bidang akuntansi, istilah ini akan sangat familiar. Namun, bagi sebagian orang juga masih ada yang bingung. Beberapa orang akan menganggap harga pokok penjualan adalah harga jual, apakah demikian? Harga pokok penjualan bukanlah harga jual. Harga jual dan harga pokok penjualan memiliki arti dan cara penghitungan yang berbeda. Di bawah ini, Jurnal akan memberikan penjelasan lebih lengkap mengenai Harga Pokok Penjualan dan Harga Jual.

HPP merupakan total keseluruhan biaya yang dikeluarkan secara langsung oleh suatu perusahaan untuk mendapatkan barang atau jasa yang dijual. Perhitungan HPP dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besarnya biaya produksi yang akan dikeluarkan oleh perusahaan saat akan memproduksi barang atau jasa. Pada umumnya perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) terdiri atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead.

1. Pengertian Harga Pokok Penjualan (HPP)

Harga pokok penjualan (HPP) atau yang biasa disebut dengan cost of good sold (COGS)  adalah seluruh biaya langsung yang dikeluarkan untuk memperoleh barang atau jasa yang dijual. Dalam menghitung HPP, biaya yang diperhitungkan mencakup biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead.

2. Tujuan Menghitung Harga Pokok Penjualan 

Tujuan Menghitung Harga Pokok Penjualan

Tujuan menghitung harga pokok penjualan adalah mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan dalam produksi barang dan jasa. HPP merupakan salah satu komponen dalam laporan laba rugi. Untuk menghitung HPP, Anda dapat menggunakan rumus berikut ini:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian – Persedian Akhir

Sementara

Pembelian Bersih = (Pembelian + Biaya Angkut) – (Retur Pembelian + Potongan Pembelian)

3. Komponen HPP

Komponen Harga Pokok Penjualan

1. Persediaan Awal Barang Dagangan

Dalam perusahaan dagang, ketersediaan barang tentu menjadi hal penting yang harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kekosongan stok yang bisa berakibat pada kelangkaan barang dan lebih fatal pada penghasilan laba perusahaan.

Persediaan awal barang dagangan merupakan barang dagangan yang tersedia di awal periode tahun buku yang sedang berjalan. Informasi tentang saldo persediaan awal barang dagangan ini biasanya tercatat pada neraca periode berjalan atau neraca tahun sebelumnya.

2. Pembelian Bersih

Untuk menjaga ketersediaan stok barang dagangan sepanjang periode tahun buku berjalan, perusahaan dagang akan melakukan pembelian barang dagangan. Pembelian barang dagangan baik secara tunai maupun kredit ditambah dengan biaya angkut atau transportasi dan dikurangi dengan diskon atau potongan pembelian serta retur pembelian merupakan bagian dari komponen pembelian bersih.

Dalam komponen ini, potongan dan retur pembelian tidak selalu ada. Oleh sebab itu, jika memang pembelian barang dagangan yang dilakukan perusahaan tidak terdapat potongan dan retur pembelian, maka komponen pembelian bersih hanya mencakup semua pembelian barang dagangan baik tunai maupun kredit ditambah dengan biaya angkut atau transportasi saja.

3. Persediaan akhir barang dagangan

Selain persediaan awal, harga pokok penjualan juga memiliki komponen yang disebut dengan persediaan akhir barang dagangan. Komponen ini bersifat mengurangi jumlah barang yang siap untuk dijual yang diperoleh dari persediaan awal barang dagangan ditambah dengan pembelian bersih.

Persediaan akhir barang dagangan merupakan stok barang yang tersedia di akhir periode tahun buku yang sedang berjalan. Informasi tentang saldo persediaan akhir barang dagangan dapat ditemukan pada data penyesuaian perusahaan di akhir periode.

Baca juga : Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan pada Perusahaan Dagang

4. Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan

Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan

PT Maju Bersama pada Tanggal 24 Maret 2017 memiliki:

  • Persediaan barang dagangan (awal) sebanyak Rp20 juta.
  • Pembelian sebesar Rp50 juta.
  • Beban angkut pembelian Rp1 juta.
  • Retur pembelian sebesar Rp5 juta.
  • Potongan pembelian Rp2 juta.
  • Persediaan barang dagangan akhir sebesar Rp10 juta.

Untuk menghitung HPPnya adalah sebagai berikut:

Pembelian Bersih = (Pembelian + Biaya Angkut) – (Retur Pembelian + Potongan Pembelian)

Pembelian Bersih = (50.000.000 + 1.000.000) – (5.000.000 + 2.000.000)

Pembelian Bersih = 51.000.000 – 7.000.000

Pembelian Bersih = 44.000.000

Barang Tersedia Dijual = Persediaan Awal + Pembelian Bersih

Barang Tersedia Dijual = 20.000.000 + 44.000.000

Barang Tersedia Dijual = 64.000.000

HPP = Barang Tersedia Dijual – Persediaan Akhir

HPP = 64.000.000 – 10.000.000

HPP = 54.000.000

Dari contoh di atas, maka dapat diketahui jumlah HPP adalah sebesar Rp54 juta.

 Baca juga: Contoh Laporan Keuangan untuk Bisnis Lebih Berkembang

5. Apa Itu Harga Jual?

Apa Itu Harga Jual?

Harga jual merupakan besarnya harga yang dibebankan kepada konsumen. Untuk menghitung harga jual, Anda dapat menghitungnya dengan cara :

Harga Jual = Biaya Produksi + Biaya Non Produksi + Laba yang Diharapkan

Dalam menentukan harga jual, ada dua metode yang bisa digunakan, yakni penetapan harga biaya plus dan penetapan harga mark up. Penetapan harga biaya plus (cost plus pricing method) merupakan salah satu metode menghitung harga jual dengan cara menjumlahkan semua biaya dengan margin yang diharapkan. Sementara penetapan harga mark up caranya lebih sederhana, yakni dengan menambahkan jumlah keuntungan yang Anda harapkan dengan harga beli dari barang yang akan dijual.

Kesimpulan

Harga pokok penjualan dan harga jual adalah hal yang berbeda. Namun, dengan menggunakan HPP, Anda dapat menentukan harga jual yang sesuai untuk dibebankan kepada konsumen. Agar perusahaan mendapatkan laba, maka harga jual yang Anda tetapkan harus lebih besar dari HPP.

Ingin lebih praktis dan mudah dalam menentukan HPP dan mengelola keuangan perusahaan? Anda dapat menggunakan bantuan software akuntansi online. Jurnal merupakan software akuntansi berbasis cloud yang memudahkan Anda karena sistem secara otomatis akan mengintegrasikan data-data yang telah di input ke laporan keuangan. Anda dapat melakukannya dengan cepat, tepat, dan mudah. Selain itu, Anda dapat mengaksesnya di mana saja dan kapan saja. Info lebih lanjut mengenai Jurnal dan berbagai fiturnya, klik di sini.


PUBLISHED10 Jan 2020
Witdya Pangestika
Witdya Pangestika

SHARE THIS ARTICLE: