Jurnal Enterpreneur

Fintech: Layanan, Manfaat, dan Regulasinya di Indonesia

Kata fintech mulai sering mengemuka seiring dengan makin banyaknya start up berbasis financial technology. Sesuai dengan namanya, startup ini menyediakan jasa keuangan. Pemerintah Indonesia juga turut mendukung adanya startup fintech karena dipercaya dapat meningkatkan inklusi keuangan. Inklusi keuangan merujuk pada akses terhadap lembaga keuangan. Peningkatan inklusi keuangan berarti adanya peningkatan akses keuangan kepada masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akun perbankan.

Berkat penggunaan teknologi, hanya dengan jaringan internet dan gawai, masyarakat  di desa-desa terpencil pun dapat menjangkau layanan keuangan. Pada 2019 ini, Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DKNI) menargetkan 75% inklusi keuangan. Itulah kenapa pemerintah Indonesia menyusun kebijakan inklusi keuangan demi menarget masyarakat yang berada di ekonomi menengah ke bawah.

Bagi masyarakat yang telah memiliki akses perbankan pun, fintech tetap memberikan kemudahan. Masyarakat makin mudah melakukan transaksi keuangan. Transaksi keuangan yang walnya dilakukan dengan cash atau menggunakan kartu debit atau kredit, sekarang bisa dilakukan dengan tap QR Code menggunakan gawai. Transaksi pembayaran, transfer uang, penggalangan dana, pinjaman hingga pengelolaan investasi pun bisa dilakukan dengan mudah dan praktis menggunakan teknologi.

Apa itu Fintech?

Fintech atau financial technology identik dengan start up yang menggunakan teknologi informasi dalam penyediaan layanan keuangan. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik, Anda harus mengetahui layanan apa saja yang disediakan oleh suatu fintech.

Bank Indonesia membagi klasifikasi jenis fintech menjadi empat jenis berdasarkan layanan yang disediakan. Hal tersebut adalah:

a. peer-to-peer (P2P) lending dan crowdfunding;

b. payment, clearing dan settlement;

c. manajemen risiko dan investasi;

d. market aggregator.

Jenis-Jenis Fintech

1. Peer-to-peer (P2P) lending dan crowdfunding

Platform pertama adalah P2P lending dan crowdfunding. Platform satu ini mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang bersedia memberikan dana. Jika P2P lending mempertemukan antara pihak yang ingin mencari pinjaman dengan orang yang ingin investasi. Sementara crowdfunding sifatnya lebih sosial.

Melalui plafform ini, proses pinjam, investasi maupun memberikan dana cenderung lebih praktis dibandingkan dengan bank konvensional. Hal ini bisa terjadi karena dilakukan dalam satu wadah online platform. Contoh fintech P2P lending adalah Modalku, sementara contoh fintech crowdfunding adalah KitaBisa.

2. Payment, clearing, dansettlement

Platform yang paling sering digunakan dari kategori ini adalah platform fintech payment. Anda pasti sudah familiar menggunakan uang elektronik seperti Doku dan Dana. Dua platform tersebut termasuk dalam kategori paymen2t, clearing, dan settlement.

Jadi masyarakat dapat melakukan pembayaran secara cardless dan juga cashless melalui smartphone. Beberapa layanan fintech memiliki fitur untuk transfer ke bank, membayar berbagai tagihan bulanan, seperti tagihan listrik, PDAM, telepon, internet dan bahkan BPJS. Kamu pun jadi bisa menghemat waktu dan tenaga karena tidak perlu keluar rumah untuk melakukan transaksi tersebut.

3. Manajemen risiko dan investasi

Contoh platform fintech kategoti ini adalah Investree dan Bareksa. Melalui fintech kategori ini, kamu bisa mengelola keuangan pribadimu, memanajemen risiko sejak perencanaan dengan praktis. Kamu hanya perlu menginstal aplikasi yang bisa kamu akses dari smartphone lalu mengisi data-data yang diminta terkait pengelolaan keuangan.

4. Market aggregator

Contohnya adalah financer atau aturduit. Fintech dalam kategori market aggregator adalah fintech yang mengumpulkan informasi terkait keuangan untuk disampaikan pada penggunanya. Informasi ini bervariasi, bisa tentang tips secara umum untuk mengatur, investasi, sampai informasi kartu kredit. Dengan menggunakan market aggregator, Anda diharapkan bisa mengambil keputusan yang lebih baik, karena memiliki informasi yang baik.

Regulasi di Indonesia

Di Indonesia, fintech  berkembang dengan pesat. Jika Anda ingin menggunakannnya untuk mendukung bisnis Anda, atau malah ingin membuat perusahaan fintech sendiri, ada baiknya Anda memeriksa regulasi di Indonesia. Regulasi ini yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Beberapa regulasi terkait adalah sebagai berikut:

  • Peraturan OJK Nomor 13/POJK.02/2018 yaitu tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan,
  • Peraturan OJK Nomor 35/POJK.05/2018 yaitu tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan,
  • Peraturan OJK Nomor 37/POJK.04/2018 yaitu tentang Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi (Equity Crowdfunding),

Dengan memperhatikan regulasi atau dasar hukum yang berlaku, baik perusahaan fintech maupun pengguna lebih terjamin keamanan dan kenyamanannya dalam bertransaksi keuangan.

Sebagaimana teknologi informasi dapat dimanfaatkan dalam bidang keuangan, Anda juga bisa memanfaatkannya untuk manajemen dalam perusahaan. Salah satunya adalah platform Jurnal. Anda dapat memanfaatkannya untuk pengelolaan sumber daya manusia dalam perusahaan Anda.

[adrotate banner=”19″]

Kategori : Bisnis

Kembangkan bisnis Anda dengan Jurnal sekarang

https://d39otahjdwbcpl.cloudfront.net/wp-content/uploads/2021/04/ic-invite-to-office.svg

Coba Gratis

Akses seluruh fitur Jurnal by Mekari selama 14 hari tanpa biaya apapun

Coba Gratis 14 hari
https://d39otahjdwbcpl.cloudfront.net/wp-content/uploads/2021/04/ic-demo-interaktif.svg

Jadwalkan Demo

Jadwalkan sesi demo dan konsultasikan kebutuhan Anda langsung dengan sales kami

Jadwalkan Demo