Mengacu pada Investopedia, Biaya Overhead Pabrik (BOP) adalah:

“istilah akuntansi yang mengacu pada semua pengeluaran bisnis yang sedang berlangsung. BOP tidak termasuk atau terkait dengan biaya tenaga kerja langsung dan bahan langsung yang digunakan untu kegiatan produksi. BOP harus dibayar secara berkelanjutan, terlepas dari apakah suatu perusahaan memproduksi barang dengan volume yang tinggi atau rendah.”

Contoh sederhana dari BOP adalah biaya sewa, asuransi, listrik, internet,  gaji untuk karyawan staff, dan lainnya. Terdapat pula tiga jenis kategori BOP, yaitu BOP berdasarkan sifat, perubahan volume produksi, dan hubungan dengan departemen-departemen. Karena BOP termasuk dalam formulasi perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pertanyaan berikutnya adalah: “Bagaimana membedakan BOP dengan unsur biaya lain? “.

Cara Membedakan BOP dengan Unsur Biaya Lain dalam Perhitungan HPP

Pada dasarnya, Anda hanya perlu mengkategorikan setiap biaya yang terjadi. Kemudian tanyakan pada diri Anda dengan satu pertanyaan, “Jika perusahaan saya tidak memproduksi atau menjual apapun, apakah perusahaan saya masih mengeluarkan biaya?” Jika jawabannya “Ya”, maka jenis biaya tersebut kemungkinan besar adalah BOP.

Biaya HPP cenderung terikat langsung dengan kegiatan produksi suatu perusahaan. Jika Anda membayar upah bagi pegawai yang bekerja di bagian produksi, itu termasuk jenis biaya HPP selain BOP. Karena jika Anda tidak memiliki pesanan untuk diproduksi pada periode tertentu, Anda tidak akan menggaji pegawai tersebut. Sedangkan biaya BOP akan tetap ada walaupun perusahaan melakukan kegiatan produksi ataupun tidak.

Dalam praktiknya, terkadang ada kondisi di mana Anda merasa suatu biaya sebagiannya termasuk biaya HPP dan sebagian lagi adalah BOP. Sebagai contoh, katakanlah Anda memiliki perusahaan manufaktur mobil. Anda membayar pegawai dengan tarif  Rp100.000 per jam dan mereka bekerja delapan jam per hari. Namun secara rata-rata, Anda sebenarnya memberlakukan jam kerja selama enam jam per hari. Tetap Anda tetap harus membayar pegawai yang bekerja selama delapan jam per hari tersebut. Terdapat kelebihan dua jam yang di mana itu termasuk BOP. Sedangkan enam jam yang diberlakukan termasuk biaya tenaga kerja langsung dalam perhitungan HPP.  Maka bisa ditarik kesimpulan, bahwa dalam satu biaya tenaga kerja bisa dibagi lagi menjadi dua jenis persentase. Satu jenis persentase masuk kepada BOP, sedangkan satu lagi masuk ke dalam biaya tenaga kerja langsung.

Tips Tambahan: Pertimbangkan Setiap Unsur Arus Kas Keluar

Anda mungkin memiliki beberapa unsur arus kas keluar yang tidak secara teknis termasuk dalam unsur biaya. Akan tetapi, untuk sebagian besar perusahaan termasuk UKM mungkin harus mempertimbangkan unsur arus kas keluar tersebut ketika menghitung BOP. Salah satu contohnya adalah Pembayaran Pinjaman.

Pembayaran Pinjaman dibagi menjadi pembayaran bunga dan pokok pinjaman. Secara teknis, pembayaran pokok pinjaman bukan termasuk biaya. Tetapi ketika Anda mencoba untuk menentukan berapa BOP bulanan, Anda mungkin bisa juga menyertakan seluruh Pembayaran Pinjaman. Sehingga Anda tahu persis berapa banyak uang tunai yang Anda butuhkan untuk melunasinya.

Khususnya jika Anda memiliki perusahaan manufaktur, Anda harus benar-benar mengetahui jumlah Biaya Overhead Pabrik Anda. Karena dengan mengetahui BOP, Anda bisa menentukan anggaran perusahaan dengan lancar. Ini juga membantu Anda untuk mempertahankan profit perusahaan dengan tetap menjaga biaya-biaya yang sedang dan akan terjadi. Berbicara mengenai anggaran, tentunya Anda membutuhkan instrumen atau alat yang bisa membantu Anda membuat anggaran secara mudah dan komprehensif. Software Akuntansi seperti Jurnal bisa menjadi solusi pembuatan anggaran perusahaan Anda. Karena Jurnal memiliki fitur pembuatan anggaran perusahaan dan tentunya fitur pencatatan dan perhitungan biaya-biaya termasuk biaya HPP dan BOP Anda. Informasi lebih lengkap mengenai Jurnal bisa Anda lihat di sini.