Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dari sumber modal sendiri berasal dari modal saham, laba ditahan, dan cadangan. Jika dalam pendanaan perusahaan yang berasal dari modal sendiri masih mengalami kekurangan (defisit), maka perlu dipertimbangkan pendanaan perusahaan yang berasal dari luar, yaitu utang (debt-financing). Namun dalam pemenuhan kebutuhan dana, perusahaan harus mencari alternatif pendanaan yang efisien. Pendanaan yang efisien akan terjadi bila perusahaan mempunyai struktur modal yang optimal.

 

Dalam teori struktur modal diasumsikan bahwa perubahaan struktur modal berasal dari penerbitan obligasi dan pembelian kembali saham biasa atau penerbitan saham baru. Menurut Martono dan D. Agus Harjito struktur modal dibagi menjadi beberapa pendekatan, yaitu.

 

Pendekatan Laba Operasi Bersih

Pendekatan laba operasi bersih dikemukakan oleh David Durand pada tahun 1952. Pendekatan ini menggunakan asumsi bahwa investor memiliki reaksi yang berbeda terhadap penggunaan utang perusahaan. Pendekatan ini melihat bahwa biaya modal rata-rata berimbang dan bersifat konstan berapapun tingkat utang yang digunakan oleh perusahaan. Pertama, diasumsikan bahwa biaya utang konstan dan kedua, penggunaan utang yang semakin besar oleh pemilih modal sendiri dilihat sebagai peningkatan risiko perusahaan. Artinya apabila perusahaan menggunakan utang yang lebih besar, maka pemilik saham akan memperoleh laba yang semakin kecil. Oleh karena itu tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemilik modal sendiri akan meningkat sebagai risiko perusahaan. Akibatnya biaya modal rata-rata terimbang akan berubah.

 

Pendekatan Tradisional

Pada pendekatan tradisional diasumsikan terjadi perubahan struktur modal yang optimal dan peningkatan nilai total perusahaan melalui penggunaan financial leverage (utang dibagi modal sendiri). Dengan menggunakan pendekatan tradisional, bisa diperoleh struktur modal yang optimal yaitu struktur modal yang memberikan biaya modal keseluruhan yang terendah dan memberikan harga saham yang tertinggi. Hal ini disebabkan karena berubahnya tingkat kapitalisasi perusahaan.

 

Pendekatan Modigliani dan Miller

Modigliani dan Miller (MM) berpendapat bahwa pembagian struktur modal perusahaan antara utang dan modal sendiri selalu terdapat perlindungan atas nilai investasi. Yaitu karena nilai investasi total perusahaan tergantung dari keuntungan dan risiko, sehingga nilai perusahaan tidak berubah walaupun struktur modalnya berubah.

 

Di bawah ini akan kita jelaskan beberapa contoh penghitungan struktur modal.

 

a. PT ABC memiliki utang sebesar Rp30.000.000 dengan bunga 5% dan laba operasi bersih Rp10.000.000. Jika tingkat kapitalisasi modal sendiri (tingkat kapitalisasi berarti tingkat keuntungan yang disyaratkan untuk modal sendiri sebesar 11%, maka cara menghitung penilaian perusahaannya adalah sebagai berikut:

 

(O) Laba bersih operasi

10.000.000

 

(F) Bunga 5% x Rp30.000.000

1.500.000

 

(E) Laba tersedia untuk pemegang saham

8.500.000

 

Tingkat kapitalisasi MS

11%

 

(S) Nilai pasar saham

8.500.000 : 11%

77.727.700

(B) Nilai pasar obligasi

 

30.000.000

(V) Nilai keseluruhan perusahaan

 

107.727.700

 

Jadi tingkat kapitalisasi keseluruhan adalah

 

 

Bila perusahaan mempunyai 850 lb saham, maka harga per lb saham adalah

 

b. Sekarang bila perusahaan ingin mengganti obligasi dengan saham. Nilai obligasi pada soal (a) Rp30.000.000, sedangkan harga saham Rp91.444/lb, maka diperlukan Rp30.000.000 : Rp91.444 = 328 lb.

Sehingga sekarang obligasi dibelanjai dengan modal sendiri semuanya, maka tingkat keuntungan yang disyaratkan menjadi lebih rendah yaitu 10%. Maka besarnya ko (tingkat kapitalisasi keseluruhan) dapat dihitung sebagai berikut:

 

(O) Laba bersih operasi

10.000.000

 

(F) Bunga

0

 

(E) Laba tersedia untuk pemegang saham

 

10.000.000

Tingkat kapitalisasi MS

10%

 

(S) Nilai pasar saham

10.000.000: 10%

100.000.000

(B) Nilai pasar obligasi

0

 

(v) Nilai keseluruhan perusahaan

 

100.000.000

 

Jadi tingkat kapitalisasi keseluruhan adalah

 

Sehingga harga saham menjadi

Dengan demikian harga saham turun karena perubahan struktur modal.

 

c. Misalkan sekarang (dari contoh no.1) perusahaan menambah modal  asingnya dengan Rp30.000.000 lagi, sehingga menjadi  Rp 60.000.000,- dan saham akan berkurang sebesar 328 lembar (Rp30.000.000  Rp90.910), sehingga saham tinggal 522 lb (850lb-328lb) dan tingkat kapitalisasi 14%, bunga obligasi yang harus dibayar meningkat 6%. Sehingga besarnya tingkat kapitalisi  keseluruhan dapat dihitung sebagai berikut:

 

(O) laba bersih operasi

10.000.000

 

(F) Bunga(6%x 60.000.000)

3.600.000

 

(E) Laba tersedia untuk pemegang saham

 

6.400.000

Tingkat kapitalisasi MS

14 %

 

(S) Nilai pasar saham

6.400.000 : 14%

45.714.285

(V) Nilai Keseluruhan

 

52.114.285

 

Jadi tingkat kapitalisasi keseluruhan atau

Harga per lb saham  adalah

 

Kesimpulan :

Dari hasil perhitungan dengan pendekatan tradisional di atas bisa diketahui bahwa struktur modal yang optimal ada pada contoh (a) yaitu Rp 107.277.000. Di mana dari asumsi tersebut, modal yang dibutuhkan memiliki nilai terendah 9,28%, namun dapat memberikan harga saham  tertinggi yaitu Rp 91.444,- dibandingkan soal (b) dan (c).

 

Karena banyaknya kemungkinan penghitungan untuk memperoleh perkiraan struktur modal optimal yang sesuai keperluan perusahaan, maka kehadiran sebuah software akuntansi online seperti Jurnal adalah sebuah kebutuhan sekaligus investasi bisnis yang dapat memudahkan dan membantu perusahaan mendapat hasil penghitungan struktur modal yang cepat dan akurat. Dapatkan semua informasi yang Anda butuhkan tentang Jurnal, di sini.

Author