Dalam dunia akuntansi, goodwill termasuk dalam komponen Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets). Secara teknis, goodwill mulai muncul dalam neraca atau laporan posisi keuangan ketika suatu perusahaan hendak mengakuisisi perusahaan lain dengan membayar di atas nominal nilai pasar wajar (Fair Value Market) yang terdiri dari aset bersih perusahaan yang ingin dibeli.

 

Faktor-faktor yang membentuk goodwill itu sendiri adalah hal-hal seperti reputasi perusahaan yang baik, identitas merek yang kuat, karyawan yang kompeten dibidangnya, teknologi yang dinilai mutakhir, dan sejenisnya. Hal-hal tersebut jelas tidak terukur secara fisik atau sulit untuk dikualifikasi secara tepat. Perlu diingat, pencatatan goodwill tercantum di dalam pos Aset Tidak Berwujud di laporan posisi keuangan. Hal ini bukan berarti goodwill merupakan bentuk nyata dari aset yang dimiliki perusahaan, melainkan bentuk rekognisi atau pengakuan terhadap aset yang dimiliki perusahaan.

 

Menurut standar US GAAP (United States Generally Accepted Accounting Principles) dan IFRS (International Financial Reporting Standard), nilai daripada goodwill memiliki umur yang tidak terbatas sehingga tidak perlu diamortisasi. Namun, perlu diadakan evaluasi ketika ada penurunan (impairment) atau kenaikan goodwill tiap tahunnya. Biasanya, banyak perusahaan melakukan evaluasi goodwill dengan periode 10 tahun.

 

Warren Buffet, seorang investor ternama menggunakan contoh kasus pada suatu perusahaan bernama See’s Candies di California. Perusahaan See’s secara konsisten meraih laba bersih sebesar $2.000.000 dengan total aset berwujud sebesar $8.000.000. Implikasinya, perusahaan See’s menghasilkan nilai ROA (Return on Assets) senilai 25%. Besarnya nilai ROA dan laba bersih tersebut bisa dibilang merupakan hasil kontribusi dari nilai goodwill. Hal ini juga didasari oleh pelayanan yang diberikan oleh perusahaan See’s dan berbagai keunggulan lainnya yang tidak terukur secara nominal. Berikut langkah-langkah yang Anda perlu lakukan untuk bisa menilai goodwill perusahaan Anda:

 

1. Cari Nilai Buku dari Semua Aset yang Dimiliki Perusahaan

Yang berarti, Nilai Buku ini termasuk total dari Aset Lancar, Aset Tidak Lancar, Aset Tetap, dan Aset Tidak Berwujud. Nominal dari komponen-komponen tersebut bisa Anda dapat dari laporan posisi keuangan atau laporan neraca perusahaan Anda.

 

2. Cari & Determinasi Nilai Wajar Aset Perusahaan

Anda bisa menyewa jasa konsultan di bidang akuntansi untuk membantu mencari dan mendeterminasi Nilai Wajar (Fair Value) Aset perusahaan Anda. Terkadang, penilaian dari konsultan tersebut bersifat subjektif. Namun jika konsultan tersebut sudah memiliki reputasi yang baik, maka kemungkinan nilai tiap Aset yang Anda miliki bisa terjustifikasi dengan baik pula.

 

3. Buat Penyesuaian Aset

Setalah kedua hal di atas dilakukan, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat penyesuaian dengan membandingkan Nilai Buku dan Nilai Wajar Aset Anda.

 

4. Hitung Total Aset Bersih

Selanjutnya, cobalah hitung total Aset Bersih dari tiap-tiap Nilai Buku, khususnya Nilai Wajar Aset Anda. Dengan cara mengurangi Total Aset dengan Total Kewajiban/Liabilitas Anda (Nilai Aset Bersih = Total Aset – Total Kewajiban/Liabilitas).

 

5. Hitung Nilai Goodwill

Terakhir, nilai Goodwill bisa Anda dapatkan dengan cara mengurangi total aktual harga yang dibayar oleh perusahaan yang membeli perusahaan Anda dengan Nilai Aset Bersih dari Nilai Wajar perusahaan Anda

 

Goodwill = Harga Jual Aktual – Nilai Bersih Aset berdasarkan Nilai Wajar

 

Berikut contoh perhitungan nilai Goodwill perusahaan Maju Jaya yang dibeli oleh perusahaan Sejahtera Bersama

 

Perusahaan Maju Jaya

Nilai Buku

Nilai Wajar

Kas

7.000.000

7.000.000

Piutang Usaha

79.000.000

68.000.000

Persediaan

38.000.000

35.000.000

Aset Tetap

230.000.000

249.000.000

Aset Tidak Berwujud

25.000.000

25.000.000

Total Aset

379.000.000

384.000.000

Total Liabilitas

(180.000.000)

(180.000.000)

Nilai Aset Bersih

199.000.000

204.000.000

 

Penjelasan mengapa Nilai Wajar berbeda dengan Nilai Buku adalah:

a. Nilai Wajar Piutang Usaha lebih kecil daripada Nilai Buku karena ada piutang yang tidak tertagih.

b. Nilai Wajar Persediaan lebih kecil daripada Nilai Buku karena ada beberapa persediaan yang sudah usang.

c. Nilai Wajar Aset Tetap lebih tinggi daripada Nilai Buku karena ternyata nilai depresiasi Aset Tetap di Nilai Buku lebih besar daripada penilaian wajarnya.

 

Jika perusahaan Sejahtera Bersama membeli perusahaan Maju Jaya seharga Rp230.000.000, maka Nilai Goodwill yang diperoleh adalah

Rp230.000.000 – Rp204.000.000 (Nilai Aset Bersih dari Nilai Wajar perusahaan) = Rp26.000.000.

 

Jurnal yang dicatat oleh perusahaan pembeli, yakni perusahaan Sejahtera Bersama adalah:

 

 

Debit

Kredit

Aset

384.000.000

 

Goodwill

26.000.000

 

Liabilitas

 

180.000.000

Kas

 

230.000.000

Dengan bantuan Jurnal, Anda bisa mudah untuk melakukan manajemen aset. Selain itu, Jurnal juga mampu mencatat tiap aset yang Anda miliki, menghitung penyusutan aset tetap secara mudah, dan menyediakan laporan terkait kondisi aset yang Anda miliki hingga periode tutup buku. Jurnal adalah software akuntansi online yang memiliki fitur-fitur lengkap seputar pelaporan keuangan. Untuk informasi lebih lanjut, bisa klik di sini.

Author