Sehat atau tidaknya suatu perusahaan, tidak hanya dapat dinilai dari keadaan fisiknya saja, misalnya dari gedung, pembangunan, atau ekspansi, tapi juga dilihat dari keuangannya. Keuangan merupakan salah satu unsur yang dapat mengevaluasi apakah kebijakan yang ditempuh suatu perusahaan sudah tepat atau belum. Hal ini dilakukan mengingat sudah banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan karena faktor keuangan yang tidak sehat. Inilah yang membuat analisis kinerja keuangan sangatlah dibutuhkan.

 

Analisis kinerja keuangan pada dasarnya dibuat untuk melihat prospek dan risiko perusahaan. Prospek bisa dilihat dari tingkat keuntungan (profitabilitas) dan risiko bisa dilihat dari kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan atau mengalami kebangkrutan. Berikut adalah cara menghitung kinerja keuangan perusahaan berdasarkan profitabilitasnya.

 

Berikut Contoh Laporan Laba Rugi PT Lestari Jaya:

Penjualan Bersih

 

112.760.000

Harga Pokok Penjualan (HPP)

 

(85.300.000)

Laba Kotor

 

27.460.000

Biaya Pemasaran

(6.540.000)

 

Biaya Admin&Umum

(9.400.000)

 

Biaya Operasional

 

(15.940.000)

Laba sebelum bunga & Pajak (EBIT)

 

11.520.000

Bunga Utang (jika ada)

 

(3.160.000)

Laba Sebelum Pajak (EBT)

 

8.360.000

Pajak Pendapatan (48%) atas EBT

 

(4.013.000)

Laba setelah pajak

 

4.347.000

 

Catatan:

Total Aktiva PT Lestari Jaya = Rp81.890.000,-

Adapun Rasio Profitabilitas yang akan dipakai adalah:

  1. Gross Profit Margin

  2. Net Profit Margin

  3. Return on Investment (ROI)

 

a. Gross Profit Margin

Gross profit margin = Laba Kotor Penjualan

Gross profit margin = 27.460.000 112.760.000

Gross profit margin = 0,2435 = 24,35%

Gross profit margin = 24,35%

 

Artinya, setiap Rp1 (satu rupiah) penjualan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp0,2435. Semakin tinggi profitabilitasnya berarti semakin baik. Tetapi pada penghitungan gross profit margin , sangat dipengaruhi oleh HPP, sebab semakin besar HPP, maka akan semakin kecil gross profit margin yang dihasilkan.

 

b. Net Profit Margin

Net profit margin = Laba setelah pajak (EAT) Penjualan

Net profit margin = 4.347.000 112.760.000 = Rp 0,0386 = 3,86%

 

Apabila gross profit margin selama suatu periode tidak berubah, sedangkan net profit marginnya mengalami penurunan, berarti biaya meningkat relatif besar dibanding dengan peningkatan penjualan.

 

c. Return On Investment (ROI)

ROI = Laba setelah pajak (EAT) Total Aktiva

ROI = 4.347.000 81.890.000 = Rp 0,0531

ROI = 5,31%

 

Artinya menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan, berarti dengan Rp1000 aktiva akan menghasilkan laba bersih setelah pajak Rp53,10 atau dengan Rp 1 menghasilkan laba bersih (EAT) Rp 0,0531.

 

Penghitungan rasio profitabilitas dalam analisis kinerja keuangan ini diperlukan untuk pencatatan transaksi keuangan yang  biasanya digunakan oleh investor dan kreditur (bank) untuk menilai jumlah laba investasi yang akan diperoleh oleh investor dan besaran laba perusahaan untuk menilai kemampuan perusahaan membayar utang kepada kreditur berdasarkan tingkat pemakaian aset dan sumber daya lainnya sehingga terlihat tingkat efisiensi perusahaan.

 

Untuk mempermudah analisis kinerja keuangan melalui penghitungan rasio profitabilitas, maka sebuah perusahaan perlu memiliki software akuntansi online yang handal. Jurnal adalah software akuntansi online yang dapat diandalkan dalam menyediakan semua bentuk laporan  untuk membantu mempermudah analisis kinerja keuangan yang dibutuhkan perusahaan.

Jurnal dapat mengintegrasikan semua catatan transaksi keuangan untuk dimasukkan ke dalam bentuk laporan keuangan yang dibutuhkan secara instan dan realtime, sehingga mempermudah perusahaan untuk memperoleh hasil yang diinginkan secara cepat mudah. Dapatkan semua informasi tentang Jurnal, di sini.