Benarkah kita harus memutuskan sesuatu berdasarkan data saja? Tidak demikian menurut penelitian science. Kenyataannya ada beberapa hal aneh yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan Anda. Berikut ini adalah hal-hal tersebut.

Waktu

Semakin banyak keputusan yang Anda buat, mental Anda akan semakin lelah dan akan mengalami kondisi decision fatigue. Seperti atlet yang kelelahan karena latihan berlebihan, manusia juga dapat lelah secara mental bahkan saat diberi tugas ringan. Kelelahan memutuskan atau decision fatique tidak selalu berhubungan dengan sulitnya keputusan tersebut, tapi dengan kuantitas keputusan yang dibuat.

Dalam sehari kita dapat membuat puluhan bahkan ratusan yang keputusan sederhana seperti baju yang dipakai, makanan yang dimakan, ingin naik kendaraan apa, ingin mendengarkan musik apa, dan sebagainya. Satu per satu pilihan tersebut semakin mengurangi kemampuan kita dalam memutuskan sehingga pikiran Anda akan lelah ketika sore atau malam hari.

Perbedaan penting antara kelelahan fisik dan mental terletak pada kesadaran Anda akan kelelahan yang dialami. Anda dapat menyadari fisik Anda yang mulai lelah, tetapi Anda sama sekali tidak akan menyadari kelelahan mental Anda.

Keinginan untuk Ke Toilet

Apakah Anda pernah berhadapan dengan keputusan yang sangat sulit? Keputusan yang dapat meningkatkan atau merusak karir Anda, hubungan Anda atau mengubah hidup Anda selamanya? Apakah Anda tahu apa yang harus dilakukan? Jawabannya berhentilah pergi ke toilet.

Mirjam Tuk won, seorang ilmuwan Belanda, mempelajari bagaimana kandung kemih dapat mempengaruhi kelakuan kita secara positif. Penelitiannya menunjukkan orang yang ingin ke toilet dapat menunggu hasil lebih besar dalam jangka waktu yang lebih lama.

Dalam suatu penelitian, sekelompok relawan meminum 5 gelas air sementara kelompok lainnya meminum 5 gelas air dengan volume lebih kecil. Setelah 40 menit (estimasi waktu air mencapai kandung kemih), pengendalian diri peserta diuji. Mereka diberi pilihan untuk menerima $16 besok atau 30$ dalam 35 hari. Rata-rata dari partisipan yang ingin ke toilet memilih hasil yang lebih besar daripada yang minum sedikit.

Penelitian ini juga memiliki hubungan ketika Anda dalam keadaaan terdesak. orang cenderung akan berfikir lebih aktif ketika sedang terdesak dan mampu mengambil keputusan baik rasional maupun irrasional tergantung keadaan terdesak orang tersebut.

Emosi / Kemarahan

Tahukan Anda bahwa kemarahan dapat mempengaruhi keputusan Anda ? Wesley Moons, seorang psikolog dari University of California dan rekannya Diane Macke melakukan beberapa penelitian tentang bagaimana kemarahan dapat mempengaruhi keputusan.

Pada tes yang pertama, sekelompok mahasiswa yang sedang marah (akibat perdebatan dengan kelompok mereka) ditempatkan bersebelahan dengan sekelompok mahasiswa yang tenang. Kemudian mereka disuruh membaca dua jenis argumen, yang menarik dan yang lemah, yang dirancang untuk meyakinkan mereka bahwa mahasiswa memiliki kebiasaan finansial yang baik. Argumen yang kuat mengutip data dan fakta, sedangkan yang lemah tidak.

Pada tes berikutnya, salah satu grup diberitahu bahwa kedua argumen tersebut dibuat oleh organisasi yang berpengalaman di bidang finansial, sementara grup yang lain diberitahu bahwa argumen-argumen tersebut dibuat oleh organisasi medis yang tidak berpengalaman di bidang finansial. Ternyata, para murid yang marah membuktikan bahwa kemarahan menjadikan mereka decision maker yang lebih baik dan lebih analitis. Bahkan melalui tes ketiga, terbukti bahwa kemarahan dapat mengubah orang yang biasa saja menjadi pemikir yang cerdas.

Baca juga: 7 Gaya Pengambilan Keputusan yang Tepat

Pilihan yang terlalu banyak

Apakah mengeluarkan terlalu banyak pilihan akan membantu Anda dalam membuat keputusan? Tidak menurut science. Justru Anda akan lebih mudah memutuskan dan puas dengan hasilnya ketika membatasi dengan beberapa pilihan saja.

Sebuah studi dilakukan untuk melihat bagaimana banyaknya pilihan dapat mempengaruhi keputusan seseorang. Studi tersebut memperhatikan reaksi orang saat memilih permen coklat. Sebagian besar orang suka memilih 30 coklat dibandingkan dengan 6 coklat (karena bagi mereka semakin banyak pilihan berarti semakin hebat). Hasilnya, orang yang memilih jumlah coklat lebih sedikit ternyata lebih bahagia dengan keputusan mereka dan berpeluang besar untuk memakan coklat itu kembali.

Insting Anda

Alam bawah sadar Anda ternyata dapat memutuskan lebih cepat daripada pikiran sadar/akal budi Anda. Para peneliti Leizpig, menganalisis kemampuan otak sebelum memutuskan, menyimpulkan bahwa keputusan sederhana mudah diputuskan ketika kita sadar, sedangkan keputusan yang rumit tidak.

Dalam beberapa percobaan, para peneliti menemukan bahwa pikiran kita dapat dengan mudah mengidentifikasi mobil bagus berdasarkan deskripsi fiturnya yang sederhana. Tapi ketika menjadi lebih kompleks, insting bekerja akan lebih baik dalam memilih mobil yang mengesankan. Hal yang sama juga terjadi ketika berbelanja.

Sekitar Anda

Sejumlah laporan pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa lingkungan tempat seseorang memutuskan akan mempengaruhi siapa dan apa yang mereka pilih. Contohnya, jika Anda memilih di gereja, Anda akan memilih hal yang lebih bersifat konservatif dari biasanya. Anda tidak akan berpihak pada aborsi dan pernikahan sesama jenis. Studi lainnya menemukan bahwa jika Anda memilih di sekolah, Anda akan menjadi lebih positif untuk merespon terhadap ide-ide.  Lingkungan sekitar juga bukan hanya tentang lokasi dimana Anda memutuskan pilihan, namun juga suasana di sekitar Anda. Contohnya, ketika suasana di lingkungan Anda kondusif untuk berfikir kritis terhadap pilihan-pilihan maka keputusan yang dibuat pun akan lebih baik.

Suhu

Ternyata suhu atau temperatur memberikan pengaruh besar terhadap keputusan Anda. Hal ini dibuktikan oleh studi yang dilakukan oleh Psikolog Lawrence Williams tentang bagaimana suhu mempengaruhi decision makin. Dalam penelitian tersebut, peserta diminta untuk memegang sebuah gelas panas atau gelas dingin dan memberikan pendapat mereka. Melalui penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa peserta yang memegang gelas panas merupakan orang yang hangat dan dapat bergaul daripada orang yang memegang gelas dingin.

Pada eksperimen berikutnya, merasakan objek yang panas juga membuat para relawan lebih murah hati. Semakin hangat suhu di lingkungan Anda, Anda akan lebih percaya kepada orang asing, memberikan tip kepada pelayan, bahkan melakukan investasi berisiko tinggi.

Tempo dari Background Music

Mendengarkan musik rock saat belajar akan mengganggu konsentrasi Anda.
Benarkah demikian? Tidak. Science mengatakan hal yang berbeda. Percayakah Anda bahwa mendengarkan musik dengan tempo cepat akan membantu Anda membuat keputusan yang lebih baik dibandingkan musik dengan tempo lambat?

Sebuah studi pada Januari 2009 memeriksa efek dari tempo musik terhadap performa dan pengambilan keputusan. Hasilnya peserta yang mendengarkan musik tempo cepat dapat memutuskan dengan lebih baik dan akurat saat dihadapkan dengan masalah daripada mereka yang mendengarkan musik dengan tempo lambat.

Video Games

Video games memiliki reputasi yang buruk di mata sebagian besar orang. Video games sering disalahkan atas terjadinya obesitas atau meningkatnya angka kriminalitas. Tanpa mengesampingkan fakta yang ada, ternyata video games telah memberikan sebuah efek postif yang baik meskipun masih diperdebatkan, yaitu membantu gamers mebuat keputusan yang lebih baik dan akurat.

Ilmuwan dari University of Rochester telah menemukan fakta bahwa video games action sebenarnya melatih orang untuk membuat keputusan yang baik lebih cepat. Pemain video games bergenre ini tidak hanya mengembangkan sensitivitas yang tinggi terhadap dunia di sekeliling mereka, tapi juga dapat mengerjakan beberapa hal lebih baik.

Dalam jurnal Current Biology, sebuah penilitian dilakukan terhadap sekumpulan orang berumur 18-25 tahun yang jarang memainkan permainan komputer. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang satu memainkan game strategi The Sims 2, sedangkan kelompok yang lain memainkan game action Call of Duty dan Unreal Tournament.

Selanjutnya, para peserta harus menjawab pertanyaan menganalisa sekeliling mereka, dan memberi kesimpulan. Hasilnya, kelompok pemain game action 25% lebih cepat dalam menjawab pertanyaan yang sama banyaknya dengan kelompok pemain The Sims.

Daphne Bavelier, salah satu penulis jurnal tersebut mengatakan, Keputusan tidak pernah hitam atau putih. Otak kita selalu menghitung kemungkinan-kemungkinan yang ada. Misalnya ketika Anda menyetir. Anda akan melihat gerakan di sebelah kanan Anda dan mengestimasikan apakah akan terjadi tabrakan. Berdasarkan kemungkinan tersebut akan terbentuk keputusan ganda: rem atau jangan rem.

Pemain video games action ternyata seorang kolektor yang lebih efisien dan lebih cepat memproses informasi visual dan auditory daripada non-gamer. Hal ini membuat mereka dapat memutuskan lebih baik dan lebih cepat.

Sekarang Anda telah mengetahui 10 faktor yang mempengaruhi decision making seseorang menurut penelitian science. Mari tingkatkan kemampuan decision making Anda dengan memperhatikan dan memanfaatkan faktor-faktor tersebut. Dengan demikian, Anda akan menjadi seorang decision maker yang cepat, bijak, dan kreatif.

Sumber:

Listverse